Kuceritakan kepada Laut

Sore itu, aku sedang asyik bersenandung saat sebuah suara mengganggu khidmatnya lagu yang kunyanyikan.

“Ngapain sendirian di sini? Yang lain lagi pada ngumpul di dalem juga, dasar introver,” ujar laki-laki itu.

Ia sedang duduk sambil berpangku tangan. Matanya menatapku seolah mencari sesuatu yang salah dari seorang perempuan yang memilih untuk duduk menepi daripada bergabung di tengah kesibukan teman-temannya.

“Dari kapan lo duduk di situ?” tanyaku.

“Cukup lama sampai tau kalau melamun bisa dijadikan keahlian,” ujarnya setengah meledek.

Aku kembali memunggunginya dan melanjutkan senandungku yang terganggu akibat kehadirannya. Aku mengecilkan suara, takut-takut ia mendengarkan dan mengejek betapa buruk kemampuan vokalku sesungguhnya.

Mataku terfokus pada ombak yang pecah di antara karang-karang, suara debur yang bersahut-sahutan, serta sayup-sayup samar percakapan banyak orang. Aku bukannya tak menikmati acara keakraban itu, hanya saja, pemandangan di hadapanku saat ini jauh lebih berharga daripada obrolan basa-basi dengan kedok mengakrabkan diri. Rasa pegal-pegalku setelah tiga jam perjalanan menaiki sepeda motor terbayar sudah. Walau hanya jadi penumpang dan hampir tertidur di tengah perjalanan, rasanya tetap saja melelahkan. Untungnya, temanku tak kehabisan akal untuk berbincang tentang segala hal.

“Masuk, yuk? Temen-temen mau mulai pembagian kamar tuh,” perkataannya kembali memecah lamunanku untuk kesekian kalinya.

Kali ini aku mengalah dan bangkit walau dengan enggan. Ketika aku berbalik, ia masih berdiri dan memperhatikan gerak-gerikku dengan saksama.

“Iya iya, ini mau masuk kok.”

Keesokan harinya aku terbangun terlalu pagi karena tidur yang tak nyenyak semalam. Suara gelak tawa dari teman-temanku seolah tak membiarkanku terlelap sebentar saja. Selain itu, suara debur ombak yang semakin jelas saat malam hari membuatku merasa enggan menghabiskan waktu hanya untuk tidur, walau sebenarnya rasa lelah telah menyelimuti sekujur ragaku.

Aku sedang duduk memeluk kaki sambil menatap hamparan laut saat seseorang mendorong tubuhku secara tiba-tiba.

“Lo beneran suka banget melamun ya?” ujarnya sambil setengah tertawa karena berhasil mengejutkanku dengan kehadirannya.

“Bukan urusan lo,” ujarku tanpa menoleh ke arahnya.

Ketika pagi datang, air laut mulai surut. Gelombang ombak yang datang juga tak setinggi saat malam hari. Aku memperhatikan titik-titik kecil perahu dari kejauhan, seolah berada di titik pertemuan antara laut dan langit.

“Apa sih yang lo pikirin ketika melamun sambil ngeliatin laut?” tanyanya.

Ia menoleh sambil memperhatikanku dengan saksama. Seolah sedang mencari potongan teka-teki yang hilang dari seorang perempuan yang selalu termenung takjub menatap lautan di hadapannya.

“Banyak hal,” jawabku seadanya.

“Berapa banyak hal yang ada di kepala lo sampe lo enggak pernah bosen melamun sambil ngeliatin laut?”

Sebanyak buih di lautan. Sebanyak debur ombak yang bersahut-sahutan. Sebanyak yang tak pernah kaubayangkan, jawaban itu tertelan begitu saja di tenggorokanku. Pada akhirnya, aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah gerakan mengedikkan bahu.

Yang tak ia tau, aku tak hanya sedang menatap laut dengan takjub sambil membenamkan kakiku di hamparan pasir. Aku sedang bercerita kepada laut, tentang banyak hal yang tak ingin kubagikan pada manusia-manusia di sekitarku; tentang perasaan yang tak berani kujelaskan, namun selalu menghantui malam-malamku; tentang seseorang yang hadirnya terasa begitu nyata, namun harapan yang dibawanya terasa begitu fana; tentang ketakutanku akan harapan-harapan yang patah, mimpi yang pupus oleh realita, serta luka-luka yang belum menemukan penawarnya.

Itulah mengapa aku selalu merasa nyaman duduk menghadap laut tanpa melakukan apa-apa. Di hadapannya, aku bisa meluapkan seluruh isi kepalaku tanpa harus merasa khawatir. Aku membiarkan pikiran-pikiran itu hanyut, terbawa ombak, atau pecah di antara bebatuan karang. Aku tak perlu menyembunyikan apa pun yang sedang kurasakan; aku merasa bebas sebagai manusia yang utuh, tanpa harus takut akan penghakiman.

Dan laut akan senang hati menyimpan cerita itu menjadi rahasianya sendiri. Ia selalu tabah mendengarkan dan selalu ada menjadi tempat berbagi. Hanya dengan laut aku mampu menceritakan segala hal yang setengah mati kusimpan seorang diri, tanpa harus merasa takut akan dikhianati.

3.3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top