Ibu Kota Adalah Kata Kerja

Hari itu, langkahku menapaki setiap tangga stasiun dengan lunglai. Sekujur ragaku disetubuhi lelah yang enggan pergi. Perjalanan menuju rumah seperti meniti setapak yang dipenuhi jalan berduri. Setelah menutup pintu kamar, aku membaringkan diri di atas ranjang, menatap nyalang langit-langit kamar yang sering menatapku terjaga dengan seribu pertanyaan yang lalu-lalang. Jam dinding semakin mencekik rasa sakitku dengan detik yang terus bergulir. Tiba-tiba saja malam habis dilahap sepi. Lalu aku terbangun ketika dapur ibu mengepulkan uap dari alat penanak nasi.

Kebiasaan itu terulang seperti kaset kusut yang tak pernah diganti pemiliknya; yang  sesekali mengeluarkan suara mendecit karena terlalu sering diputar dan dibiarkan begitu saja. Gedung-gedung bertingkat dan tiang-tiang penyangga menertawakan setiap pejalan kaki yang melintas di hadapannya; mereka sibuk menundukkan kepala seolah enggan peduli dengan apa-apa yang terjadi di sekitarnya.

Bagi sebagian orang, ibu kota adalah kata kerja. Orang-orang berlomba menjadi sengsara, memakai topeng bahagia, menjual air mata dalam tayangan televisi dan meromantisasinya jauh dari realitas yang ada. Pada kenyataannya, hidup memang menjual segalanya; kebohongan, kecemasan, harga diri, bahkan hati nurani. Jika dihadapkan dengan gempita dunia, semua gelap mata tutup telinga. Yang terpenting pundi-pundi penopang kehidupan tercukupi hingga tiga keturunan kelak nanti. 

Kata pulang seperti diksi yang kehilangan makna. Tidur menjadi sekedar kiasan di balik pejam mata yang tak pernah benar-benar menemui lelapnya. Bermimpi bagai membangun ekspektasi yang lebih tinggi dari realitas. Hidup hanya sekadar menapak di atas tanah sebelum tertidur lelap di bawahnya.

Akhir-akhir ini kewarasan sulit ditemui di mana-mana. Toko yang menjual kebahagiaan menaikkan harga demi memenuhi pundi-pundi harta. Sebagai gantinya, kesedihan ramai dijajakan di mana-mana: di sela-sela surat kabar, dalam siaran radio pukul tujuh pagi, hingga siaran langsung dari televisi. Kesedihan menjadi barang murah yang tak ada artinya; semua berlomba-lomba menjadi yang paling menderita entah untuk apa.

Malam ini, aku berbaring di atas ranjang yang sama. Dengan isi kepala yang—sedikit—lebih bising dari biasanya. Di tengah-tengah kewarasan yang kian menipis, muncul sebuah tanya, Masih adakah kebahagiaan yang hakiki, di balik realitas yang semakin bengis?

4 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top