Hitam Putih

Dewasa ini saya menyadari bahwa begitu banyak hal yang tersembunyi di balik kehidupan yang penuh warna-warni. Dulu, saya kira, manusia memang benar-benar ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Rupanya, kata-kata itu menyimpan lebih banyak makna dari kelihatannya. Karena di balik “kesempurnaan” yang ada, setiap manusia memiliki sisi hitam-putih yang melekat pada dirinya. Sisi yang menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya.

Saat remaja dulu, saya kerap kali iri dengan penampilan fisik teman sebaya yang lebih cantik daripada saya. Meskipun orang-orang kerap berkata bahwa cantik bukan segalanya, saya yakin penilaian pertama dari seseorang terletak dari tampilan fisik yang dimilikinya. Saya iri dengan mereka yang berkaki jenjang, berbadan tinggi, dan memiliki senyum dengan deretan gigi yang rapi. Saya iri dengan mereka yang rajin mengoleksi piala sejak kecil, yang namanya selalu mampir dalam urutan peraih nilai tertinggi. Saya iri dengan sesuatu yang tidak pernah mampu saya miliki.

Saya pernah melewati masa-masa membenci diri sendiri; berusaha menjadi “orang lain” hanya untuk mendapatkan pengakuan dari orang-orang di sekitar. Saya berusaha begitu kerasnya sehingga tidak menyadari bahwa segala yang saya lakukan hanya berakhir sia-sia saja. Sebab saya tidak akan mampu menjadi siapa pun selain diri saya sendiri. Dan saya tidak perlu menjadi siapa pun untuk menemukan kebahagiaan dalam diri sendiri. Perlahan-lahan, saya pun berusaha berdamai dengan sisi hitam putih yang saya miliki, dengan segala kekurangan yang mengajarkan saya untuk tidak rendah diri dan segala kelebihan yang membuat saya belajar untuk tidak merasa tinggi. Rupanya proses untuk menerima hitam putih yang ada tidak semudah ekspektasi di kepala. Saya pun berkali-kali menemui kegagalan dan berakhir menyalahkan diri sendiri atas keadaan.

Kini saya belajar bahwa tidak apa-apa untuk menjadi tidak sempurna. Tidak apa-apa untuk mengakui segala kekurangan yang ada. Alih-alih membencinya, baiknya saya mengubah cara pandang tentang kekurangan yang dimiliki; bahwa memiliki kekurangan dalam diri adalah hal yang manusiawi. Tidak ada kesempurnaan dalam diri kita, jika kita tidak bisa menerima ketidaksempurnaan yang ada.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top