Di Pemberhentian Selanjutnya

Sore itu, kereta yang kutumpangi melesat membelah ingatan di kepala dan realita di depan mata. Di hadapanku, seorang laki-laki tengah berdiri sambil menatapku dengan sorot mata yang ramah. Meski tak melihat lengkungan bulan sabit itu terukir di wajahnya, aku tau ia sedang tersenyum di balik maskernya. Samar-samar, kepalaku memutar kembali memori yang ditinggalkan laki-laki di hadapanku saat ini. Ingatan tentang hari-hari yang telah berlalu kembali datang menghampiri dan sekelumit memori menyakitkan tentang bagaimana semua itu berakhir, kembali menyapa takdir.

Laki-laki itu pernah menjadi kawan perjalanan yang menyenangkan; teman bertukar pandangan dan pendengar setia ceritaku di setiap keadaan. Aku tak pernah mengira kami akan jadi sedekat itu. Jarak antara dunianya dan duniaku begitu jauh berbeda. Ia dengan ingar bingar kesibukannya dan aku dengan hidupku yang terlampau sepi untuk dibagi bersama. Tapi ia mempercayaiku, sebagai kawan tempat bernaung kala lelah dan gundah datang merundung. Kami menghabiskan banyak percakapan panjang via sambungan telepon, membicarakan hari-hari berat yang terlewati dan cerita-cerita yang belum sempat dibagi. Kami berbagi pandangan tentang banyak hal, mulai dari sesuatu yang besar hingga hal-hal kecil yang—sebenarnya—tak begitu penting untuk dibicarakan. Ia sungguh kawan perjalanan yang baik. Ia mau mengorbankan waktunya untuk mendengarku berceloteh tentang hal-hal yang mungkin tak ia mengerti. Ia mau duduk di hadapanku dan berbagi segalanya denganku; hal-hal yang kami temui selama perjalanan itu. Walau akhirnya, kami tak berakhir di tujuan yang sama.

Hidup lucu sekali, bukan? Pada suatu waktu kau merasa telah menemukan kawan perjalanan yang tepat. Hingga di tengah-tengah perjalanan, kau menyadari bahwa selama ini kalian tak pernah benar-benar menuju tujuan yang sama.

Aku lupa bagaimana akhir dari perjalanan kami saat itu. Yang jelas, aku berhenti saat menyadari bahwa perjalanan itu memang tak akan membawaku kepada tujuanku. Aku berhenti di sana dan mencari kereta lain yang bisa membawaku kepada tujuanku yang sesungguhnya. Aku tak menyalahkan ia yang telah melibatkanku dalam perjalanan hidupnya karena perpisahan itu memberiku banyak pelajaran dari kisah yang pernah kami bagi berdua. Meskipun kami hanya berbagi perjalanan sekejap mata, aku bersyukur pernah mengenalnya. Aku senang pernah memiliki teman berbagi pandangan yang selalu setia mendengarkan.

Pemberitahuan lewat pengeras suara membawaku kembali ke realita yang ada. Sebentar lagi kereta akan memasuki stasiun transit bagi mereka yang akan berpindah tujuan. Ia pun bersiap-siap untuk turun. Ia telah sampai pada tujuannya, sedangkan tujuanku masih jauh di depan sana. Ia melambaikan satu tangannya sebagai penutup pertemuan kami sore itu. Sebelum punggungnya hilang di tengah lalu-lalang manusia yang berdesakan, samar-samar kudengar ia mengatakan sesuatu, “Sampai jumpa, di pemberhentian selanjutnya.”

Aku bahkan belum sempat membalas lambaian tangannya, saat keretaku kembali melaju memisahkan ekspektasi di kepala dan realita yang ada.

1.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top