Desember dan Purnama Setelahnya

Rupanya, Desember meninggalkanku dengan segenap kenangan di dalamnya. Setelah menyisakan banyak tanda tanya, kini satu per satu keraguan itu telah menemukan jawabannya. Sekian purnama berlalu akhirnya aku tau bahwa kau pergi untuk memulai sebuah kisah baru. Kisah yang tak pernah ditakdirkan untuk menjadi milikku. Harusnya aku belajar untuk merelakanmu dan melupakan segalanya. Namun sayangnya, perasaan itu tak pernah benar-benar selesai begitu saja.

Dan Desember pergi berjejak kecewa. Pagi yang dingin dan malam yang dihantui berbagai kenang di kening. Sela-sela jemari tanganku masih mengingat kehangatan yang kau tinggalkan di ujung perpisahan. Dalam kebisuan yang panjang masih kukenali kau sebagai kebahagiaan yang kemudian tanggal perlahan-lahan. Tubuhmu adalah peta buta yang pernah kuhapal mati di luar kepala dan di mataku, kau terlelap bagai puisi lama yang dilupakan penyairnya.

Kini, aku hanya bisa menatap wajahmu dalam secarik kenangan masa lalu. Berdamai dengan segala tentangmu ternyata cukup memakan waktu. Meskipun kau telah memulai kisah baru dan tak pernah sekali pun menyentuh hidupku, ingatan tentangmu tak juga hilang dari malam-malamku.

Kau sudah berbahagia dan semua kenangan yang kumiliki takkan pernah bisa membawamu kembali pada kisah kita. Pada akhirnya aku memilih jalan terakhir untuk mencintaimu dengan cara yang paling sederhana; melepaskan. Karena aku tak mungkin terus-menerus menyakiti diriku dengan menggenggam sebuah ketidakmungkinan. Sama sepertimu, aku juga ingin menemukan kebahagiaan. Walau itu berarti aku harus melenyapkan segala kenangan tentangmu yang lama menghiasi sudut-sudut ingatan.

Desember, dan purnama setelahnya terus berganti. Atas nama semua perasaan yang belum berhasil kuakhiri, kulepaskan kau dengan segenap kerelaan dalam diri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top