folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Harus
Tafsir Awan dan Hujan
Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan, bagai penyesalanku terhadapmu, dan aku ingin berkata, “Aku ingin berbagi dunia bersamamu.”
Hilda Zakhrofatul Idloah comment One Comment access_time 1 min read

Di luar sana, ku dengar suara gemuruh
Jeruk peras hangat di depanku hanya kupandangi saja
Awan sedang murung mendung
Ingin meluapkan segala rasa, marah misalnya

Kemudian hujan turun mengguyur
Membasahi alam nan indah
Dedaunan segar bak tertawa bahagia
Ranting-ranting ibarat berbisik dengan handai-handainya

Dan aku? Duduk dan terpekur
Tanpa memafhumi apa yang mengoyak kalbu
Isak tangis tertuang di balik derasnya hujan
Berjuang membekam agar tidak kentara

Pelan-pelan berkelana menapaki memori lampau
Aku seolah diburu sesal, hingga sebal
Penyesalan menempati titik terendah sebuah hati
Iya, perasaan perih hingga paling menghunjam

Andai awan yang gelap dapat ditafsirkan
Bagai mata butaku saat itu
Saat aku berbalik arah
Tanpa melihat ke arah belakang, menatap matamu

Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan
Bagai penyesalanku terhadapmu
Dan aku ingin berkata,
“Aku ingin berbagi dunia bersamamu”

Tentu, kau akan enggan, pun menertawakannya
Sebab rinduku adalah tong kosong dihadapanmu
Tangisku ibarat gaduh dalam penatmu
Sesalku sebatas ilalang bagimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment