Aku menyesap teh hijau hangat di padang salju akhir abad,
menggigilku tak terasa saat kugosok telapak tangan sambil merapalkan namanya.

Aku terus memandangi hari
tanpa sadar bahwa dia sudah terlalu lama pergi.

Laksana mimpi, ia tak akan kembali.

Sayangnya, aku lupa menuliskan namanya saat kularungkan perahu kertas di danau harapan.
Rapalan doaku kurang kencang.
Dia tetap terbang dengan sayap yang kuberikan tanpa tahu jalan pulang.

Aku harus menanti seratus tahun,
mendaki bukit bersalju hingga datang musim gugur,
aku butuh ribuan helai dandelion agar butirannya bisa sampai ke ujung pulau dekat Samudra Hindia—tempatnya berada.

Aku terus melakukan penyangkalan,
bahwa cinta mampu membuat waktu berhenti,
bahwa sekarang, jarak sudah tak berarti.

Aku termakan bualan penulis puisi yang mengatakan,
waktu ialah penawar sejati yang sakti.
Nyatanya aku belum sembuh sampai tubuhku membeku tertimbun salju lalu mati karena dikuliti rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment