Harapan Terakhir Alfarisi dari Rumah Tahanan

Meninggal di rutan kelas I Medaeng Sidoarjo, bersama keinginan, harapan, dan cita-cita yang kandas terburu-buru.

Oleh

Sumber Foto: KontraS Surabaya via Kompas.com
Sumber Foto: KontraS Surabaya via Kompas.com

Harapan Terakhir Alfarisi dari Rumah Tahanan

Meninggal di rutan kelas I Medaeng Sidoarjo, bersama keinginan, harapan, dan cita-cita yang kandas terburu-buru.

Oleh

08/01/2026

Sumber Foto: KontraS Surabaya via Kompas.com

Alfarisi tak bangun dari tidur, mengalami kejang. Dibawa ke klinik, dia tak tertolong.

Di antara ribuan massa yang turun, resah, dan marah pada tahun lalu, ancaman nyata begitu getol menyasar wajah-wajah yang tak tersorot kamera atau terkenal di lini masa medsos. Alfarisi terlibat demonstrasi Agustus 2025 di Surabaya, diduga memiliki molotov. Fatkhul Khoir (Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya) bilang, polisi tidak menemukan bukti ini. 

Bukan influencer, vokalis band, atau aktivis dengan jejaring solid; Alfarisi seorang yatim piatu yang hidup bersama kakaknya, Khosiyah. Berdua, mereka mengelola warung. Nasgor dan kopi buatannya sedap di lidah teman-temannya. Dari usaha warung yang dijalani dengan riang itu, Alfarisi merawat cita-cita: menjadi juru masak di Hong Kong untuk memperbaiki ekonomi hidup bersama kakaknya.

Alfarisi ingin menyekar ke makam ibu setelah bebas. Ini pilu sekali. Dia nitip dibawakan pecel atau bakmi goreng oleh Khosiyah pada jadwal besuk berikutnya. Lebih dari cuma makanan, saya melihat pecel atau bakmi goreng sebagai bukti harapan; Alfarisi mau terus hidup. “Penting [kamu] sehat sampai keluar. Lalu kita bisa sama-sama lagi jualan kayak biasanya,” kata Khosiyah kepadanya. Januari ini, seharusnya Alfarisi mendapatkan vonis.

Namun, 30 Desember 2025, Alfarisi meninggal di rutan kelas I Medaeng Sidoarjo, bersama keinginan, harapan, dan cita-cita yang kandas terburu-buru. Usianya 21 tahun, sama seperti Affan Kurniawan.

Aku nggak percaya, tutur Khosiyah, setelah mendapat kabar dari rutan. Adik saya nggak punya riwayat kejang, katanya. Dia tak tau laporan detail tentang kondisi medis serius adiknya selama di rutan. Pengurus menduga Alfarisi meninggal karena gagal pernapasan. Khosiyah menerima dokumen-dokumen yang harus ditandatangani, salah satunya adalah persetujuan: keluarga tidak boleh menuntut rutan atas kematian adiknya.

Seperti ada luka yang tidak terbilang. Ternyata berat badan Alfarisi menurun drastis, sekitar 30 kilogram. Andy Irfan (Sekretaris Jenderal Federasi KontraS) bilang, “Kebutuhan obat-obatan untuk Alfarisi tatkala sedang sakit tidak terpenuhi.” Konon, Alfarisi sering kayak masuk angin dan dia sempat bercerita kepada Andy soal pemukulan. Rekan satu selnya melengkapi cerita bahwa Alfarisi terlihat mengalami gejala menyerupai stroke, seperti bibir mencong dan tangan kaku.

Saat memandikan jenazah, keluarga melihat sekian memar di tubuh Alfarisi, dari dada kanan hingga punggung belakang.

Bagaimana standar kesehatan dan perlakuan terhadap tahanan rutan? Apakah Aturan Standar Minimum PBB untuk Perlakuan terhadap Narapidana (Nelson Mandela Rules) sudah dipegang teguh? Ruangannya gelap. Mau tak mau kita pupuk rasa was-was dan mengaktifkan mode siaga dalam bertindak, bahkan melayangkan opini.

Saya teringat pada baris esai Zen RS. “Nama populer masih disebut, tapi ratusan rakyat tanpa wajah publik menghilang dari percakapan. Padahal inti gerakan ada di sana: tubuh yang tak dikenal, tapi membayar harga paling mahal,tulisnya. Pekerja pabrik, buruh kantoran, sopir ojol–kita orang biasa bisa kena.

Nyawa adalah nyawa, tak peduli popularitas atau jumlah followers Instagram. Alfarisi dan nama-nama lainnya yang belum bebas hingga kini membayar harga yang mahal. Suatu saat bisa saja kita terseret ke tempat yang sama: dijemput, diberondong rasa takut, tak sempat nyekar, tak sempat mencicip makanan kesukaan dan malah dikubur harapan terakhir–hidup yang harusnya bisa lebih dari hari ini.

Yudhistira

Orang biasa yang suka menulis.

Bagikan:

Facebook
Twitter
LinkedIn
Email
WhatsApp

Lihat Juga