Tentang Ibuku dan Kehidupan

Malam itu sunyi, terdengar beberapa suara jangkrik. Mah saya lihat sedang duduk di bangku depan rumah tua yang sudah ditinggali kurang lebih 30 tahun itu, beratapkan langit sambil memainkan ponsel pintarnya melihat beberapa video lucu di internet. Saya datang membawa secangkir coklat panas kesukaan dan menyapa Mah lalu kemudian duduk bersama. Tiba-tiba otak kecil saya teringat akan suatu hal dan langsung bertanya kepadanya tentang bagian tersulit dari kehidupan. Belakangan saya mengetahui kehidupan dewasa itu tidaklah indah seperti yang sering dikhayalkan saat kecil. Penemuan ide dan praktiknya terkadang tidak sesuai dengan keinginan, pikiran saya berkecamuk ribut memikirkan banyak hal, tapi masih belum mengerti tujuan hidup yang sebenarnya itu seperti apa.

Mah yang fokus dengan ponselnya lalu terdiam. Dia menoleh, sembari tersenyum kecil kemudian menjelaskan kepada saya area hitam dan area putih dalam hidup, seperti menjelaskan tentang hal yang buruk dan hal yang baik, tidak lupa juga menjelaskan area abu-abu yang menjadi area sangat membingungkan. Area abu-abu inilah yang menjadi pertanyaan terbesar yang banyak dipertanyakan.

Saya paham betul Mah lebih mengerti tentang kehidupan itu seperti apa karena Mah sudah berada lebih dulu dari saya. Mah juga memberitahu bahwa hidup itu sederhana, tapi pemikiran kita yang membuat semuanya menjadi rumit.

“Menjalani porsi hidup sesuai kemampuan kita tanpa mendengarkan perkataan orang lain. Itu dirasa sudah cukup, bukan?’’ tanya Mah.

Setiap kegelisahan yang saya pikirkan, selalu saya mencoba untuk menceritakannya kepada Mah. Karena saya yakin betul Mah adalah sosok di balik kuatnya saya sampai saat ini. Akan tetapi, ada satu bagian yang sering saya pikirkan, bagaimana Mah bisa menjadi sosok kuat untuk sekitarnya padahal jika diteliti bersama, Mah adalah sosok wanita lemah. Pikiran saya menerka-nerka isi hati Mah, apa yang Mah sembunyikan? Apakah saya menjadi alasan utamanya? Kenapa Mah mencoba terlihat kuat? Saya tidak tahu. Saya merupakan sosok wanita tidak acuh yang menjelma menjadi pendengar yang baik, tapi untuk menyelami isi hati Mah, saya tidak mampu.

Karena saya lihat Mah menyimpan satu ruang tertutup yang tidak seorang pun tahu, entah apa yang ditutupnya selama ini. Tidak ada pembenaran akan semua yang saya pikirkan. Kata-kata yang keluar dari mulut Mah menenangkan seperti mantra sakti. Atau mungkin karena saya kurang dekat dengan Mah? “Ahh tidak mungkin,’’ sahut saya dalam hati.

4.9 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top