Biarkan Maut Merindu, Tapi Jangan Biarkan Dia Merenggutmu

Kau menatap refleksi kematian dari balik sepasang mata di cermin

Mencari-cari arti kehidupanmu yang telah lama menyerpih jadi abu

Tatkala badai datang menerbangkannya sebagai helaian burung gagak

Hingga yang tersisa hanya hampa dan kosong mengisi relung jiwa

 

Apakah aku? Siapa pula aku untuk dunia ini?

Sajak puisi yang tidak diselesaikan oleh Tuhan?

Patung yang dihinggapi debu dan jejaring masa lalu?

Boneka kayu tanpa kaki dengan langkahnya yang tak kasatmata?

Embun menaungi bayangan dirimu yang semakin samar

Sementara maut mulai berisik-bisik rendah menawarkan undangan

Hinggap-lalu menjadi delusi yang menjelma layaknya rengkuhan tangan

Memeluk raga rapuhmu

Retak di sana-sini berbalut perban berurai darah dan air mata

 

Lalu di luar sana, ibumu tengah mengetukkan senandung lembut pagi hari

Uap kopi ayah melayang memasuki ruang kosongmu yang merindu napas kehidupan

Melebur bersama tawa dan seruan saudara-saudaramu di meja makan

Menanti satu kursi kosong yang berhadapan dengan piring dan gelas tak tersentuh

Bertanya-tanya, kapan gerangan keluarga terakhir mereka akan tiba untuk sarapan bersama

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top