Manusia dan Waktu: Sebuah Refleksi Sosiologis

Menyaksikan tayangan #TitikTemu “Tentang Waktu yang Tidak Akan Terulang” oleh Menjadi Manusia, membuat saya merenungkan kembali pergelutan sehari-hari manusia dengan waktu. Waktu bukan sekadar penanda alamiah tentang kapan itu pagi, siang, petang, maupun malam. Lebih dari itu, waktu adalah bagian dari perjalanan manusia: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tidak hanya bagi individu, waktu juga bagian dari kehidupan masyarakat. Kelompok masyarakat hidup dalam konteks waktu tertentu, dan berkaitan dengan ruang dan tempat mereka berpijak.,

Perbedaan waktu di Jakarta dengan New York dapat berjam-jam lamanya. Tapi, bisa jadi, warga New York dan Jakarta sama-sama merasakan bagaimana waktu berjalan dengan serba cepat: seolah tidak ada waktu senggang untuk beristirahat. Namun perbandingan waktu Jakarta dengan—katakanlah—daerah pemukiman di perbukitan puncak Bogor, barangkali persepsi tentang lamanya perjalanan waktu akan berbeda. Di Jakarta, mungkin kita merasakan waktu terasa sangat cepat, namun di puncak Bogor, waktu bisa terasa lebih lambat. Padahal tidak ada yang berbeda secara objektif, bahwa di mana pun waktu dihitung 24 jam untuk sehari, 60 menit untuk satu jam, dan 60 detik untuk satu menit. Bahkan tidak seperti dengan New York, waktu di Jakarta dan puncak Bogor relatif sama. Bukankah kita sering kali merasakan demikian? Kita sering mengatakan bahwa, “Tak terasa sudah malam!”, sebagai ekspresi bahwa waktu sedemikian sempitnya. 

Seolah-olah, waktu berada pada dua lokasi yang berbeda. Waktu ada “di luar” sekaligus “di dalam” diri kita. Waktu “di luar” diri kita menunjukkan realitas objektif dari waktu sebagai penanda universal. Sedangkan waktu “di dalam” diri kita menunjukkan bahwa kita memiliki persepsi tersendiri tentang waktu. Seorang psikoanalis yang bernama Elliot Jaques, dalam esainya tentang the enigma of time mengatakan bahwa setiap individu yang hidup pada saat yang sama, memiliki sudut pandang yang berbeda tentang waktu. Perbedaan ini terjadi karena pengalaman historis atau konteks sosial tiap orang yang berbeda-berbeda.

Tayangan “Tentang Waktu yang Tidak Akan Terulang” merefleksikan pemaknaan subjektif (subjective meaning) terhadap waktu. Tayangan tersebut tampaknya sengaja dibuat karena berangkat dari dua kondisi: pergantian menuju tahun 2021 dan “kecelakaan” pandemi COVID-19 pada 2020. Setidaknya inti pembahasan di dalamnya merujuk pada bagaimana memandang masa lalu (terutama 2020 yang baru saja berlalu) dan bagaimana menghadapi 2021.

Ada kesan bahwa masa lalu adalah sebuah pelajaran yang membentuk diri subjek di masa kini, meskipun ditunjukkan dalam ekspresi yang berbeda. Ada yang menganggap jika memiliki “mesin waktu” untuk kembali ke masa lalu, sebaiknya tidak perlu ada kesalahan yang diubah, karena usaha untuk mengubah belum tentu memberikan kepastian masa depan yang lebih baik. Selain itu, ada pula yang menunjukkan kepasrahan: bahwa tidak ada yang perlu disesali dari masa lalu.

Ketika diskusi masuk dalam pembahasan tentang masa depan, ada yang memandang bahwa pergantian tahun adalah momentum untuk berubah lebih baik. Momentum seperti itu dianggap sebagai titik awal untuk memulai hal-hal yang jauh lebih bermakna. Namun ada pula yang memandang bahwa sejatinya perbaikan diri tidak perlu menunggu waktu. Sebab, berbenah diri dapat dilakukan kapan pun. Menarik juga suatu pandangan, bahwa dapat bertahan hidup di 2021 sebagaimana 2020 sudah menjadi capaian yang luar biasa. Masa depan yang tidak pasti, terlebih dihadapi oleh ancaman penyakit, tampaknya memunculkan kesan bahwa 2020 adalah tahun yang melelahkan bagi banyak orang.

Pemaknaan subjektif yang beragam dari tayangan tersebut juga tecermin di bagian komentar (tayangan tersebut ada di YouTube). Salah seorang berkomentar: “Lagi di posisi kayak takut sama waktu”, sebagai ekspresi bahwa orang tersebut khawatir tidak dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Komentar lain yang tampak berkaitan adalah, “Menghargai waktu itu proses, semua orang pasti ada titik di mana dia ngerasa belum menghargai waktu … ,”. Ia menganggap bahwa tidak serta-merta orang selalu dapat menghargai waktu: ada kalanya manusia lupa, dan pada titik tertentu kembali pada kesadaran untuk memahami bahwa waktu sangatlah penting.

Ketika ragam pemaknaan itu ditarik dalam konteks norma, nilai, maupun lingkungan tempat aktor sosial bernaung, kita akan mendapatkan bahwa keseluruhan elemen tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana sang aktor memandang waktu. Dengan demikian, waktu sangat berpengaruh pada latar kelompok status (status group), di mana konsep Max Weber tentang stratifikasi sosial menjadi relevan dalam hal ini. Status group umumnya dilihat dari prestise keluarga atau pekerjaan, maupun gaya hidup. Kepemilikan prestise ini termanifestasi dari bagaimana orang-orang dengan status sosial tertentu memandang dunia di sekitarnya bekerja, termasuk waktu yang inheren di dalamnya.

Pada bagian awal dari tayangan tersebut, para narasumber diperkenalkan berdasarkan latar belakang pekerjaan masing-masing: reporter, musisi, psikolog klinis, dan dua orang dari tim Menjadi Manusia. Daftar pekerjaan tersebut menunjukkan posisi status group para narasumber yang berbicara. Pengalaman berdasarkan latar belakang pekerjaan, setidaknya, merefleksikan bagaimana mereka memandang waktu. 

Ketika berada pada pertanyaan awal, bagaimana menghabiskan uang 1 miliar rupiah dalam waktu 24 jam, jawaban masing-masing narasumber merefleksikan pengalaman berdasarkan prestise status group yang mereka miliki. Ada yang menjawabnya dengan membeli saham dan aset produktif (sebagai investasi) dan digunakannya untuk liburan ke Iceland. Jawaban untuk “membeli aset produktif sebagai investasi” dan “liburan ke Iceland adalah refleksi atas latar status group yang mereka miliki. Seorang psikolog dalam tayangan tersebut justru merefleksikan status group dengan jauh lebih terang: kesempatan uang 1 miliar akan digunakan untuk membangun rumah “yang mana di dalamnya terdapat fitur-fitur kesehatan mental”. Sebagai psikolog, kesehatan mental sudah jelas menjadi bagian dari fokus amatannya.

Prestise status group yang melekat pada narasumber tayangan tersebut tidaklah dimiliki semua orang. Profesi seperti reporter maupun psikolog didapatkan dari usaha melalui jalur pendidikan tinggi. Kita mengetahui bersama bahwa gelar pendidikan tinggi adalah suatu kehormatan ekslusif bagi sebagian orang. Namun yang pasti adalah, Weber tidak menempatkan status group seperti kelas sosial yang berbasiskan pada kepemilikan properti. Status group adalah selayaknya pembagian komunitas-komunitas sosial di dalam masyarakat.

Jawaban akan membeli saham atau aset produktif menunjukkan pengetahuan dan literasi keuangan yang tidak semua orang memilikinya. Menggunakan kesempatan uang 1 miliar untuk leisure time dengan liburan ke luar negeri menunjukkan selera. Selera adalah cermin dari status sosial tertentu. Selera anak muda berpendidikan di kota akan berbeda dengan anak muda petani di pedesaan. Ini bukan berarti anak muda petani di desa tidak memiliki persepsi tentang leisure time. Tapi jika ditanya tentang waktu luang, atau mungkin bagaimana menghabiskan uang 1 miliar dalam 24 jam, barang tentu jawabannya akan sangat kontras.

Saya membayangkan, persepsi “tahun 2020 berjalan lambat” seolah menunjukkan bahwa di tahun-tahun sebelumnya waktu berjalan begitu cepat. “Waktu yang berjalan cepat” adalah sebuah persepsi tentang waktu yang sering muncul di komunitas masyarakat perkotaan. Orang-orang kota dengan profesi prestisius, harus bergelut dengan realitas objektif seperti tuntutan pekerjaan atau tekanan ruang tempat mereka hidup: melihat pencapaian hidup orang lain dan tuntutan untuk serbacepat dan instan. Ketika pandemi muncul, situasi berubah di mana orang-orang kota itu lebih banyak beraktivitas di rumah. Apa yang terlihat serba cepat sebelumnya, menjadi tidak tampak karena pandemi mengubah perilaku semua orang. Semua narasumber pada tayangan tersebut, meskipun memiliki perbedaan profesi, dari apa yang disampaikan menunjukkan mereka memiliki status honour yang relatif sama. Persepsi individu terhadap waktu menunjukkan berada di mana posisi sosial individu tersebut.

Tentu tidak ada yang salah atau benar dalam persepsi terhadap waktu. Jika direfleksikan dalam sosiologi, keragaman persepsi adalah ekspresi aktor-aktor sosial ketika mereka bergelut dengan waktu. Waktu adalah entitas yang sama pentingnya dengan ruang dan tempat. Waktu adalah, meminjam istilah Pierre Bourdieu, arena tempat para aktor sosial bergelut dan bertarung. Tiap-tiap aktor sosial boleh jadi saling bertarung dalam arena waktu untuk mengakumulasikan keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun yang lebih penting, tayangan “Tentang Waktu yang Tidak Akan Terulang” menjadi bukti bahwa pengalaman individu akan menentukan bagaimana manusia bertindak di dalam waktu.

*Tulisan ini pertama kali terbit di Kumparan.

 

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top