Yang Terlupakan

Kalau berbicara tentang mencintai pasti tidak akan ada habisnya. Semua orang akan merasa paling baik, paling sabar, paling hebat dalam mencintai, bahkan tak ragu untuk mengatakan bahwa cintanya paling besar dari manusia lain. Atas nama cinta juga kamu mau berkorban: menyediakan diri untuk direpotkan, selalu memastikannya dalam keadaan baik, dan memberikan pertolongan jika dibutuhkan.

Saat keadaan berbalik, diri patah dan remuk, kamu pun mulai mencari pertolongan dan menaruh harap kepada mereka yang selama ini dibantu agar mau mengulurkan tangannya. Namun tidak satu pun yang dapat membantu karena berbagai alasan. Kekecewaan timbul dalam hati sebab menjadi pribadi yang tulus dan ikhlas bukanlah hal mudah.

Beranjak dewasa, ada sosok yang kerap kali lupa untuk dicintai. Sesuatu berharga yang ada padanya juga tak mampu dihargai. Setiap hari banyak hal untuknya yang kerap kali terlewatkan. Kalimat-kalimat kagum jarang sekali dilontarkan untuknya. Namun pada situasi lemah dan buruk, tak pernah sedetik pun meninggalkan.

Sosok itu adalah diri sendiri.

Ia mampu hidup bersama dengan segala kekurangan yang ada, rahasia dan masa lalu disimpan dengan baik. Ia menyukaimu dengan utuh: dari lengking tawa hingga tangis sesenggukan, tubuh yang pendek, bekas jerawat di pipi, tumpukan lemak di perut, kebiasaan lupa menaruh barang, ketidaktahuan membaca peta, dan hal-hal lainnya. Hati yang retak mampu disembuhkan, badan yang remuk tak ditinggalkan; selalu ada menggenggam erat jiwa dan memastikannya untuk selalu kuat di kemudian hari.

Jika sudah begitu, mengapa diri sendiri masih berada pada urutan terakhir sebagai orang yang kamu cintai?

Memang sulit rasanya mencintai diri sendiri, akan menjadi pekerjaan panjang dalam hidup. Namun memulai mencintai diri sendiri bisa dilakukan dengan sederhana: memberinya seporsi makanan kesukaan, memberinya waktu untuk beristirahat, keramas dengan sampo yang wangi dan setiap pagi membisikkan, “Terima kasih diriku sudah bertahan sejauh ini, kamu hebat.”

Seharusnya sejak dulu kamu mampu menerima diri sendiri, sebab ia tidak pernah meninggalkan meski dihantam berkali-kali. Pada saat terlemah, ia mampu bertahan dan pada saat terburuk, ia tetap berharga. Tidak perlu berpikir dua kali untuk mencintai diri sendiri. Mampu menerima adalah bentuk cinta yang paling nyata dan menyembuhkan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top