Surat untuk Bapak (2)

Untuk bapak, lelaki paling hebat yang pernah ada.

Tidak tahu harus memulai dari mana, sepenggal surat ini mungkin akan terasa asing. Ini sengaja aku tulis untuk mengungkapkan beberapa hal yang sulit dilakukan secara langsung, entah karena jarak atau memang aku yang terlalu gengsi.

Aku tahu selama ini bapak memendam banyak hal, menyimpan segalanya rapat-rapat tanpa ada satu pun yang tahu, termasuk ibu. Memikirkan banyak hal dan menanggung rasa lelah seperti menjadi santapan sehari-hari, tapi semuanya bisa dilalui tanpa mengeluh. Tidak ada satu pun yang menandingi bapak, pil-pil pahit kehidupan selalu ditelan dengan baik.

Setiap hari bapak harus bekerja, tangan menjadi kasar dan baju penuh keringat; berangkat pagi buta dan pulang menjelang malam, melewati panas dan hujan. Di rumah pun terkadang bapak mengelus dada dan harus menahan amarah karena kenakalanku. Tak jarang juga harus berbagi tugas mengurus rumah dengan ibu.

Setiap hari aku masih bisa tinggal di tempat yang layak, makan yang enak, dan berpakaian yang bersih. Pun atas setiap keputusan yang aku pilih, bapak selalu menghargai dan mendukungnya. Ini adalah bagian yang paling aku syukuri dalam kehidupan, bapak selalu bertanggung jawab dan mengusahakan yang terbaik.

Bahkan sampai sekarang, bapak pun masih harus menguras tenaga berkali-kali lipat dari aku, masih tidak mau menunjukkan rasa lelah dan terus memastikan aku mendapatkan sesuatu yang baik.

Maaf, aku masih sering menyusahkan dan membantah. Kadang kala aku hanya mengingat bapak pada saat-saat terburuk, mencari dan meminta pertolongan. Namun kalau senang di depan mata, aku kerap kali melupakan bapak.

Dan terima kasih untuk segalanya: untuk kasih sayang bapak sejak pertama kali aku berada di dunia, untuk tanggung jawab bapak sebagai kepala keluarga, untuk segala nasihat dan dukungan yang tak pernah padam, untuk segala kepercayaan yang tidak pernah pudar.

Semoga bapak tahu, aku begitu bersyukur sekaligus bangga memilikimu. Pada pertemuan selanjutnya, semoga perasaan sayang mampu kita utarakan dengan kata, tidak menjadi asing dan kaku. Biarlah kata “sayang” menjadi kata yang paling banyak kita sebut dan peluk menjadi juara atas semua kegiatan kesukaan kita.

Dari anak sulung yang begitu mencintaimu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top