Setelah Sembilan Tahun

Sembilan tahun yang lalu di bulan April adalah kali pertama saya mengunjungi psikolog. Saya tidak sempurna, sedari umur tiga belas tahun sudah patah dan remuk sejadi-jadinya. Untuk bisa mengerti dan memahami diri sendiri pun harus berkunjung ke psikolog, agar mampu bercerita dan mengekspresikan diri harus dilalui dengan cara seperti itu.

Awalnya tidak terjadi apa pun sampai beberapa orang terdekat mengetahui bahwa saya pergi ke psikolog, berbagai stigma diberikan serta tatapan iba ditujukan pada saya. Belum lagi seorang teman di sekolah yang mengetahui hal itu dengan lantang mengatakan bahwa saya gila. Di dalam hati terselip rasa malu, merasa tidak normal sebab yang seusia saya tidak perlu berkonsultasi dengan seorang psikolog. Akhirnya saya menutup rapat-rapat tentang cerita pergi ke psikolog dan menganggapnya sebagai sebuah aib.

Ada tahun-tahun ketika saya menyembunyikan hal tersebut, sebisa mungkin orang-orang tidak perlu tahu bagaimana saya di masa lalu. Saya hanya menyampaikan hal-hal baik yang terjadi pada masa remaja, tiap kali ditanya tentang hal apa yang paling buruk ketika remaja, saya hanya mampu bungkam dan menggelengkan kepala. Bukannya tidak ada yang buruk, hanya saja tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Lambat laun setelah mengerti dan tahu tentang diri sendiri, saya bertekad untuk kembali menjadi jiwa saya yang seutuhnya. Saat saya ingin terbuka baik kepada diri sendiri dan orang lain, saya tidak mau terlihat baik-baik saja. Maka saya putuskan untuk tidak menutupi fakta bahwa saya di umur tiga belas tahun sudah berurusan dengan psikolog, tapi ternyata tidak semudah itu.

Bertumbuh menjadi manusia memang hal yang sulit.

Tetapi lewat berbagai kesedihan, kesulitan, kehilangan, keputusasaan, bahkan keinginan untuk mati, menghantarkan saya menemukan makna diri. Lewat itu semua saya terus mengamati diri sendiri, merenung dan kemudian berbenah. Pada akhirnya sadar, bahwa saya selalu punya makna dalam setiap fase kehidupan, kekurangan pada diri tidak pernah menghilangkan makna tersebut. Tidak ada yang buruk bahkan sia-sia, hanya rasa syukur yang sering terlewatkan.

Meski diteriaki orang gila, sekarang saya sudah tidak peduli lagi. Keberadaan saya adalah untuk menjadi diri sendiri, bukan untuk menjadi seperti omongan orang lain. Penolakan memang akan selalu datang dari beberapa orang, tapi penerimaan juga selalu terulur dengan penuh kasih.

Keputusan untuk pergi ke psikolog sembilan tahun lalu tidak pernah saya sesali, dengan itu semua saya menemukan banyak makna kehidupan secara tak tersirat. Saya yang ada hari ini bukan apa-apa tanpa kisah-kisah memilukan di masa lalu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top