Pekerja dan Kesehatan Mental

Gambar: Darwin

Dulu ketika masih kecil, saya selalu berharap untuk cepat tumbuh menjadi dewasa dan bisa bekerja. Dalam bayangan saya, bekerja itu menyenangkan, menghasilkan uang dan bisa menghabiskan sepuasnya. Beberapa dari kita biasanya sudah memiliki rancangan sendiri sebelum bekerja, mulai dari menentukan tujuan bekerja, memilih bidang pekerjaan, sampai menargetkan posisi jabatan yang ingin dicapai. Ada yang berhasil mewujudkan impiannya dengan bekerja sesuai keinginan, namun ada juga yang harus menerima kenyataan karena belum bisa mencapai keinginannya. Belakangan saya sadar, dunia kerja tidak sesederhana itu, bahkan mungkin bagi beberapa orang tidak semenyenangkan itu. Hal ini juga sering saya temui di lini masa media sosial. Beberapa orang menyatakan kurang nyaman dengan kondisi pekerjaan yang sedang dijalani.

Dalam kehidupan orang dewasa, sebagian waktu yang dimiliki akan dihabiskan di tempat kerja. Kita akan berinteraksi dengan pekerjaan, interaksi ini akan menghasilkan banyak respons dari sisi badani dan psikologis. Salah satu reaksi tubuh yang sering dialami adalah stres. Kondisi ini bisa muncul saat ada ketidaksesuaian dan perubahan-perubahan dalam lingkungan kerja yang tidak dapat kita ikuti. Ada banyak sekali faktor yang memengaruhi stres kerja, baik itu dari lingkungan kantor maupun ekspektasi dari diri sendiri.

Jerrold S. Greenberg membagi tiga faktor yang memengaruhi stres kerja, yaitu faktor individu, faktor di luar pekerjaan, dan faktor sosial. Faktor individu yang memengaruhi stres kerja terdiri atas tingkat kecemasan, tingkat neurotisme individu, toleransi terhadap ketidakjelasan, dan pola tingkah laku tipe A. Faktor di luar organisasi meliputi masalah keluarga, peristiwa krisis kehidupan, dan kesulitan finansial. Sementara itu, faktor sosial stres kerja berupa sumber intrinsik pekerjaan, peran di dalam organisasi, perkembangan karier, hubungan relasi, dan struktur organisasi serta iklim kerja.

Dalam bekerja, mungkin kita tidak menyadari jika kita sedang berada pada fase stres. Kita terus-terusan bekerja dan memaksakan diri untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Saat mengalami kegagalan pun, kita malah menyalahkan diri dan menyebutnya payah. Selain itu, terkadang lingkungan kerja tidak terlalu memperhatikan kesehatan mental karyawan sehingga yang membutuhkan bantuan terlambat mendapatkan pertolongan.

Tentu sebagai karyawan kita selalu ingin memberi yang terbaik, tetapi perlu diingat bahwa semua hal memiliki batas dan waktu. Saat diri memberikan tanda-tanda kurang baik, bukan berarti kita yang salah dan menjadi abai terhadapnya. Tidak ada karyawan yang sempurna, pun kita bisa saja lelah dan tidak mampu menyelesaikan pekerjaan. Kesehatan fisik saja tidak mampu untuk menunjang kita dalam menghasilkan sesuatu secara maksimal. Harus ada keselarasan antara kesehatan fisik dan mental untuk menghasilkan kinerja baik, yang nantinya akan berdampak pada perusahaan/organisasi sebab stres berkepanjangan yang tidak ditangani dengan baik dapat berujung pada depresi serta gangguan kesehatan mental lainnya.

Ada beberapa cara yang biasa saya lakukan untuk mengelola stres dalam menghadapi kerjaan, salah satunya adalah dengan mengambil waktu untuk diri sendiri. Hal ini bukan berarti lari dari tanggung jawab yang ada, tetapi selama masa jeda ini saya beristirahat dan melakukan beberapa kegiatan lainnya untuk melepaskan stres, seperti memasak dan membaca buku. Sebelum memutuskan untuk mengambil cuti, saya juga biasanya akan membahas hal ini kepada atasan dan rekan kerja agar tidak menimbulkan permasalahan lain. Melakukan meditasi, bercerita kepada keluarga, pergi bertemu teman, dan sederet hal lain yang mungkin disukai bisa jadi pilihan untuk melepaskan stres. Namun, jika sudah benar-benar mengganggu dan tidak dapat lagi ditangani sendiri, usahakan untuk pergi ke profesional supaya bisa mendapatkan pertolongan.

Setiap pekerjaan memiliki beban dan tanggung jawabnya masing-masing, setiap perusahaan/organisasi mengikat kita dengan aturan-aturannya sendiri. Jangan sampai karena terlalu berambisi memenuhi segala ekspektasi, kita lupa memperhatikan kesehatan diri. Perlu kita sadari bahwa diri punya keterbatasan. Tidak perlu memaksakan sesuatu yang berada di luar kendali, bicaralah dengan jujur kepada atasan jika belum mampu menyelesaikannya atau jika ada masalah di luar lingkungan kantor. Tidak juga perlu iri akan pencapaian rekan kerja karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Komunikasi dan kejujuran terhadap lingkungan kerja adalah salah satu langkah yang mampu mengurangi stres. Mengambil cuti sejenak bukanlah hal yang salah sebab sebagai manusia kita butuh istirahat untuk kembali menemukan energi yang baru.

Sangat penting untuk mengatasi stres kerja dan tanggap terhadap kesehatan mental dalam lingkungan kerja. Tubuh yang rileks akan bisa memaksimalkan potensi dalam bekerja dan mengurangi risiko kecelakaan kerja. Tentu dengan hasil yang maksimal, berarti kita juga berkontribusi terhadap kinerja perusahaan/organisasi secara keseluruhan.

Bacaan lebih lanjut:

CNN Indonesia. 2021. “Bahaya yang Mengancam Karena Remehkan Burnout”. Diakses pada 10 November 2021.

Greenberg, Jerrold. 2013. Comprehensive Stress Management 13th ed. New York: McGraw-Hill Publishing. 

Schwantes, Marcel. 2017. “15 Signs Your Employees Might Be Depressed (and They Don’t Even Know It)”. Diakses pada 10 November 2021

Wartono, Tri. 2017. “Pengaruh Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan”. Dalam Jurnal Kreatif: Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen Universitas Pamulang, Vol. 4, No. 2, April, hlm. 41–55. Pamulang: Prodi Manajemen Universitas Pamulang.

4.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top