Menemukan Kebahagiaan

Bahagia itu apa? Bagaimana rupanya? Di mana aku dapat menemukannya?

Sudahkah aku berbahagia? Siapakah pemimpin atas rasa bahagia tersebut?

Apakah nanti kebahagiaan menghampiri? Pantaskah aku untuk berbahagia?

Pertanyaan-pertanyaan itu menghampiri, menambah panjang daftar alasan untuk bersedih. Beranjak dewasa, aku semakin tergila-gila pada kebahagiaan, maksudnya pada standar kebahagiaan orang lain. Aku sering mencari tahu apa-apa saja yang membuat mereka tertawa, hal-hal apa saja yang harus dimiliki agar senang, sampai bagaimana caranya hidup seperti yang lain. Kalau aku tidak berhasil berbahagia dengan mengikuti segala apa yang mereka miliki, akan timbul perasaan kecewa dan terkadang aku mengutuk diri hingga Tuhan.

Sempat terlintas, bahwa bahagia itu akan tercipta dengan mengandalkan sekitar, entah keluarga, teman, atau kekasih. Aku menggantungkan banyak harapan dan impian pada orang lain, menjadikan mereka sumber kebahagiaan. Tapi cepat atau lambat, karena ambisi ataupun kematian, tidak ada yang benar-benar bisa bertahan seutuhnya. Lagi-lagi aku harus berbesar hati menerima rasa kecewa.

Sebelum aku memasuki usia dua puluhan, di menit-menit terakhir usia sembilan belas tahun, aku menuliskan beberapa hal yang aku pelajari dan pahami sebelum menginjak usia dua puluh. Namun pada catatan itu aku tidak menuliskan sedikit pun kata “bahagia” atau sejenisnya. Mungkin pada masa itu aku masih mencari-cari wajah kebahagiaan atau memang aku tak pandai menyadari wajah kebahagiaan itu sendiri.

Saat ini, usiaku dua puluh lebih sedikit dan tidak sedang sibuk mencari kebahagiaan.

Tidak ada pengertian pasti apalagi takaran yang tepat tentang bahagia, tidak ada tata cara menjadi bahagia juga tidak akan ada toko yang menjual kebahagiaan. Mampu mencintai diri sendiri, memupuk banyak rasa syukur, dan memaknai hidup sebagai proses pembelajaran adalah caraku untuk berbahagia. Sering kali diri sendiri terlewatkan padahal tidak pernah meninggalkan dalam kondisi apa pun. Kebahagiaan itu untuk diri sendiri, maka seharusnya diri sendiri mengerti apa yang harus dilakukan. Mengikuti cara orang lain untuk berbahagia tidak akan pernah memberikan rasa bahagia, sebab masing-masing punya porsi sendiri.

Aku belajar, bahagia itu punya seribu wajah, semua tergantung diri sendiri, mau menemuinya dengan cara apa. Hari ini, besok, seminggu lagi, sepuluh tahun kemudian, atau kapan pun, setiap jiwa mampu merayakan kebahagiaan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top