Membuka Diri

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, setiap pulang sekolah akan ada banyak pertanyaan dari mama atau papa: Bagaimana di sekolah? Hari ini belajar apa? Tadi di sekolah jajan apa? Ada ulangan harian atau tidak? Ada tugas apa yang diberikan hari ini? Dan sederet pertanyaan lain tentang hal-hal yang terjadi di sekolah. Ini bukan lagi hal baru, sejak kecil, orang tuaku memang senang sekali menanyakan banyak hal, termasuk apakah ketika tidur bermimpi. Jika jawabannya iya, mereka akan meminta untuk diceritakan kembali tentang mimpi tersebut.

Lambat laun, ini menjadi sebuah kebiasaan. Tanpa perlu ditanya, aku akan dengan sukarela menceritakan tentang apa-apa saja yang terjadi dan bagaimana perasaanku setiap hari. Mulai dari makan apa hari ini, nilai ulangan harian yang jelek, berkelahi dengan teman, ketidaksukaan pada mata pelajaran tertentu, hingga teman yang aku kagumi. Tak jarang, aku bisa menangis sesenggukan di depan kedua orang tua untuk menceritakan segala masalah dan ketakutan yang ada. Memasuki usia dua puluhan dan tinggal jauh dari rumah sekalipun tak mengubah kebiasaan ini, aku akan tetap menceritakan apa-apa saja yang sekiranya orang tua perlu tahu tanpa harus ditanya. Beberapa teman mengatakan bahwa aku terlalu kekanakan, seperti anak kecil umur lima tahun yang harus laporan setiap waktu. Katanya aku terlalu manja, tidak bisa bertanggung jawab kepada diri sendiri. Aku sempat merasa malu dan termakan oleh omongan teman-teman di sekitar. Beberapa kali aku mencoba untuk menghilangkan kebiasaan melapor ini, tapi rasanya sangat sulit.

Semakin dewasa, keluarga sering kali terlupakan untuk menjadi tempat bercerita dengan dalih tidak ingin menambah beban keluarga. Bisa saja, ini sekadar pembenaran atas segala kesibukan yang membuat kita lupa tentang kehadiran mereka. Atau beberapa lainnya beranggapan bahwa orang tua tidak perlu tahu apa yang terjadi, sebab diri sudah merasa mampu mengatasi segalanya.

Aku pun sering merasakan hal yang sama. Banyak sekali pertimbangan yang diambil sebelum memutuskan untuk bercerita. Akhirnya sama saja, aku tetap menjadi diriku semasa kanak-kanak, menceritakan apa saja tanpa perlu ada yang disembunyikan. Tujuannya adalah agar orang tua tidak perlu menyimpan banyak rasa khawatir sebab mereka tahu dengan pasti kondisiku, apa pun yang terjadi mereka tidak lagi kaget sebab sudah diberitahu sejak awal. Dengan keterbukaan tersebut, aku bisa mengurangi risiko ribut dengan mereka, kalaupun ada perbedaan pendapat, kami akan sama-sama mencari solusi yang tidak merugikan siapa pun.

Bagiku, hubungan yang baik dimulai dengan keterbukaan. Keterbukaan menjadi awal mula membangun kepercayaan dan merupakan kunci dalam proses berkomunikasi. Membuka diri kepada keluarga adalah bentuk menghargai keberadaan mereka. Selain itu, juga menjadi bukti kejujuran dan kedewasaan atas segala kekurangan dengan tidak menyembunyikan apa pun termasuk hal-hal buruk. Keterbukaan tersebut akan mempererat hubungan antaranggota keluarga.

Aku percaya, pulang ke rumah tak selamanya harus menyambangi bangunan tersebut atau tidak selalu tentang pertemuan dengan bapak-ibu serta saudara. Membuka diri kepada keluarga adalah bentuk lain dari pulang ke rumah. Menghabiskan satu jam untuk bercerita tentang hari ini melegakan jiwa, mendengar mereka merapal doa untuk keselamatan diri ini mampu menghangatkan dada.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top