Kehidupan dan Waktu

Memasuki usia dua puluhan, sudah banyak teori kehidupan yang didengar dan setengahnya sudah dipraktikkan. Usia dua puluhan terasa berat dan sulit untuk digambarkan, banyak hal rumit yang tidak dapat dipecahkan dalam satu waktu. Banyak pertanyaan yang singgah di kepala dan berujung pada kekhawatiran, akhirnya kita sering kali bergumul dengan pikiran sendiri. Setiap hari kita memeluk ketakutan dan memelihara kegelisahan di dalam hati. Kebimbangan hadir, kegagalan dan penyesalan membunuh kesadaran, kesumat tumbuh dengan pesat. Hidup seolah menelanjangi kita dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak jarang kita menginginkan kematian dan dengan sengaja membawa diri maju satu langkah ke arah sana.

Kegagalan atas setiap rencana, kebohongan yang diterima, caci maki yang didengar, kepergian tanpa salam perpisahan, penolakan dari lingkungan, sulitnya berdamai dengan diri sendiri, keterbatasan dan sederet hal-hal tidak menyenangkan lainnya seperti menjadi hidangan yang setiap hari harus kita santap, memuakkan jiwa dan membuat perut mual sebab diisi dengan hal yang sama. Tapi begitulah kehidupan berjalan, ia mengajak untuk membaca dan berhitung, menyuruh untuk mengamati dan terkadang memaksa untuk menyelesaikan berbagai persoalan; menghadirkan banyak pilihan yang terkadang membuat kita harus menelan suara sendiri; memunculkan banyak bidang-bidang hancur yang harus kita pahami sebagai sebuah kesadaran.

Kehidupan memang tidak sebaik itu, yang selalu menawarkan jalan mulus tanpa hambatan, ia juga tidak sebengis itu, yang menawarkan jalan berbatu tanpa perlengkapan apa-apa. Kehidupan dibungkus dengan begitu rapi bersama dengan renjana dan sungkawa. Ia membuai kita untuk melahirkan banyak cerita-cerita baru, mengasah berbagai rasa yang tumpah dalam satu waktu.

Kehidupan layaknya sebuah buku bersampulkan emosi dan rayu yang melebur. Isinya adalah aksara yang memabukkan jiwa dan dengan berisik minta untuk dibaca. Setiap lembarnya menghancurkan sukma dan mengajak untuk berhenti di sana, tidak perlu lanjut sampai halaman terakhir. Tapi kita dengan keras kepala memaksa melanjutkan dan membuka setiap lembaran meski dirongrong duka. Sampai waktu yang menghantarkan ke lembar terakhir dan kita masih hidup, tidak mati meski membacanya bagai ditikam belati. Dan semestinya hidup begitu: membiarkan diri tenggelam dan melebur bersama setiap lika-liku kehidupan, sebab waktu dengan sendirinya menempa kita dan menghantarkan kita sampai pada ujung perjalanan.

Melesat naik atau melesak turun, mekar atau layu, panas atau dingin, di depan mata berserakan begitu banyak kebaikan. Harapan yang kita kirim selalu dibalas dan tak pernah salah alamat, mungkin memang butuh waktu, tapi waktu itu sendiri tidak pernah memakan kita hidup-hidup. Waktu membawa kita pada perjalanan-perjalanan yang menyembuhkan dan menempa kita untuk bisa berdiri kokoh di atas puncak kehidupan. Waktu akan menamatkan setiap kisah kita dengan sebuah kesimpulan di ujungnya.

Kita semua sama, untuk pertama kalinya berdiri di atas panggung yang bernama dunia. Masih menerka-nerka dan dituntut belajar dari setiap kegagalan yang sudah dilalui. Kita semua sama, bisa mematahkan pilu sendiri dan menyusun rencana baru. Menumbuhkan pujian-pujian dalam hati, menyemayamkan bahasa ikhlas, dan merayakan kegagalan.

Jadi untuk apa berlarut-larut, di depan masih banyak kebaikan yang harus dicicipi, mereka berbaris menunggu untuk dijemput. Hanya dengan percaya, waktu akan membawa kita ke sana, menyinggahi setiap nikmat yang berkali-kali akan disyukuri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top