Selalu Ucap “Sampai Jumpa” pada Teman

“Yuk, main nanti malam!”

“Yuk!”

Fase-fase itu akan selamanya menjadi salah satu fase terbaikmu. Selama kamu memiliki teman untuk bercerita, percayalah, dunia akan baik-baik saja. Sebelum fase itu kemudian akan putus, entah karena temanmu menikah, melanjutkan kuliah ke luar negeri, kembali ke kampung halamannya, atau justru pergi meninggalkanmu.

Teman untuk bercerita, melepas peluh, mengeluh, memilikinya setara dengan nilai kita; memiliki orang tua yang utuh hari ini. Dahulu, ketika kuliah, memiliki teman-teman bercerita seperti itu kupikir hanya bagian dari kehidupan kuliah. Namun, setelah lulus, mereka pergi satu-satu, mengejar jalan hidup terbaiknya, sibuk dengan rekaan mimpi-mimpi di masa depan, meninggalkan cerita-cerita warung kopi, dan tawa yang kemudian tidak akan pernah bisa dibeli.

Pekerjaan kian lama kian menekan, hidup setelah hari lulus adalah hidup ketika orang-orang berlomba lari secepat mungkin untuk menjadi pemenang dalam kompetisinya. Seperti yang sudah-sudah, tidak ada kompetisi yang tidak melelahkan, belum lagi urusan-urusan orang dewasa seperti berdebat hanya untuk pembuktian, kisah cinta yang kerap tidak menemukan keberuntungan, urusan surat-menyurat yang menjemukan, dan pengejaran terhadap uang yang tidak ada habisnya.

Kau bernapas sejenak dan kemudian hendak menghubungi teman masa lalumu yang dulu hampir setiap minggu kaucurahkan semua kegelisahan dan kekhawatiranmu.

“Aku rindu cerita sama kamu,”

“Mari agendakan bertemu,”

“Semoga selalu ada waktu untuk itu,”

Kemudian, setelah berbulan-bulan dari janjian itu, kau bertemu dengannya, meski harus mengorbankan minggu yang panjang akibat bepergian, mengambil cuti dan uang yang tak sedikit. Waktu terasa sangat singkat ketika kau kembali pulang, aktivitas itu tetap sama, aktivitas itu tetap sama bernilainya seperti dulu.

Selama perjalanan pulang, kau terharu sembari menatap layar kereta api.

Dadamu bergemuruh kencang, beban yang kaurasa perlahan menghilang. Ternyata benar apa yang dibilang temanmu kala itu, “Selama kamu punya aku, kamu akan baik-baik saja.” Kau tersenyum, dan entah mengapa, matahari senja seperti hendak mengatakan bahwa hari esok adalah hari yang akan menggembirakanmu.

4.3 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top