Pintu Gerbang Kota

Tidak pernah timbul kata bosan setiap kita bicara perpisahan.

Dari sana, kita belajar bahwa satu-satunya tragedi yang menyisakan banyak emosi dalam ruam di ruang hati kita, dan menjadi satu-satunya warna yang paling beragam dalam kanvas kehidupan adalah di mana perpisahan itu terjadi.

Sedari bayi, sampai mati, beberapa orang menganggap bahwa pertemuan adalah yang menumbuhkannya. Betul, pertemuan menciptakan perasaan hangat yang mengetuk-ngetuk pintu hatimu sembari berkata, “Hei, sayalah harapan itu, selalu ada harapan pada setiap pertemuan.” Meskipun kita tahu, beberapa di antaranya kerap berakhir rumpang.

Namun, perasaan mengenai perpisahan adalah selamanya perasaan paling pinggir yang memukul kepala kita keras-keras. Ia menciptakan daya magis yang kuat, dalam langkahnya berjalan meninggalkan kita, atau kita yang bergegas meninggalkannya, seakan-akan dalam setiap jarak tersebut berkata, “Ketika kehilangan, barulah terasa kehadirannya.”

Dan tumbuh menjadi manusia adalah tumbuh dari segerombolan perasaan tentang itu:

Kita akan selalu ingat bagaimana fase ketika sewaktu sekolah dasar ditinggal pergi oleh salah satu orang tua kita untuk selama-lamanya; selalu ingat bagaimana nenek yang senang memijit-mijit pundak kita akhirnya sentuh pula nisannya; selalu ingat bagaimana sahabat dekat di masa sekolah biru pindah ke sekolah lainnya mengikuti pekerjaan ayahnya; selalu ingat bagaimana cinta pertama pergi tiba-tiba tanpa kabar setelah mengucap ribuan kata sayang yang tidak mampu kita telan; selalu ingat pula bagaimana pesta perpisahan sekolah abu-abu yang mengharukan itu merayap dalam dada; kita juga tak pernah lupa dengan kereta yang membawa kita dari gerbang kota pergi menuju gerbang kota yang lain untuk menuntut pendidikan yang lebih tinggi, mengucap sampai jumpa dan memeluk orang tua kita; kita selalu ingat itu. Selalu ingat pada akhirnya setelah bertahun-tahun berkuliah, kita kembali bersua dengan gerbang kota yang lain untuk bekerja; meninggalkan gerbang kota lainnya lagi untuk menikah dan berpindah pekerjaan; dan, apabila kamu pandang lamat-lamat gerbang-gerbang kota itu sebelum kamu pergi, kamu akan sadar bahwa satu fase yang mengunci semua kenanganmu adalah perpisahan itu.

Ya betul, perpisahan demi perpisahan bertumbuh bersama dengan tubuh kita yang semakin tinggi, umur kita yang semakin tua, dan keriput di wajah kita yang semakin kentara.

Proses menjadi manusia adalah proses yang tidak menyenangkan, namun juga tidak menyedihkan. Tuhan memang elok sekali memberikan kehidupan yang luar biasa pada setiap insannya. Memberikan lintasan lari yang tidak hanya bergejolak, namun memaksa kita sesekali untuk melompati jurang atau memotong tumbuhan.

Pada akhirnya kita masing-masing menjadi diri kita masing-masing. Setelah proses yang tidak sebentar, kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri; sebuah bentuk yang tidak dibangun dalam satu malam, melainkan dari malam dan siang yang panjang dan melelahkan.

Hidup boleh bertambah berat dan frustrasi. Tapi, kita tidak akan meminta pada Tuhan untuk memudahkan masalah-masalah yang turun kepada kita. Kita akan terus meminta pada Tuhan untuk menguatkan pundak kita dalam menanggung masalah apa pun itu hingga bisa menanggung pula masalah-masalah orang di sekitar kita.

Merayakan proses adalah tentang merayakan diri sendiri: sebuah kebanggaan yang berdegup dalam hatimu bahwa dalam sepanjang jalan yang tidak sesebentar itu; kamu tetap masih berdiri sampai hari ini, menjadi manusia, menjadi yang selalu memanusiakan manusia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top