Perempuan di Stasiun Sudirman

Setelah beberapa tahun, akhirnya jumpa kita pada satu waktu. Di stasiun itu, kau datang lebih dulu.

Kau menunggu dengan bersandar pada tiang besi di sebelah peron lima. Wajahmu tanpa ekspresi memandang rumitnya roda kehidupan orang Jakarta. Kau memakai setelan hitam dengan celana jin, kerudungmu berwarna hitam legam, sedikit riasan membuatmu berbeda dengan perempuan yang melambaikan tangan untuk menjalani hidup masing-masing tiga tahun yang lalu, kau lebih cantik.

Aku menghampirimu, kemudian menyapa. Kau tersenyum kikuk, begitu pun aku. Wajar, ini pertemuan kita setelah tiga tahun. Kamu menjalani hidup di Jakarta dan aku di Surakarta.

“Hai, apa kabar?” Sapaku.
“Baik. Kamu? Sudah lama ya.”
“Baik. Iya, sudah berapa tahun ya, hmm, tiga tahun mungkin?”

Menyambut kereta yang datang dengan senyum tipis, kita berkeliling Jakarta hari itu. Seperti dahulu, kau selalu sulit untuk diajak foto bersama. Katamu, kenangan itu cukup hanya satu-dua foto, sisanya biarkan ingatan yang berbicara. Pada beberapa saat, aku sempat bersyukur bahwa pernah ada satu masa, meskipun waktu itu belum lurus benar mimpi-mimpi kita, belum tau pula akan ke mana sebab tentu, ada masa depan yang memperlihatkan bagaimana perpisahan itu diwakilkan lewat kehidupan selanjutnya. Namun, aku bersyukur menjalani hidup remajaku bersamamu.

Selama sehari, kita tidak saling memperjelas bagaimana hubungan kita di masa lalu. Kau justru banyak bercerita tentang teman-temanmu di perkuliahan, satu dua orang terlihat seperti teman busuk yang ingin kaulempar wajahnya dengan sebutir telur, sesekali kau tertawa sembari menengguk kopi dan memukul-mukul meja karena tidak kuasa menahan lucunya perbincangan.

Malam tiba, ketika itu pukul delapan.


Aku naik lebih dahulu ke kereta yang menghantarkan pulang. Sebelum berpisah, aku menatapnya kembali. Bagaimana tidak, ini pertemuan sejarah dengan orang yang paling dikenang selama bersekolah. Kita bertatapan, seakan-akan menjelaskan bahwa tiga tahun sudah cukup bagi kita untuk saling memaafkan hubungan yang selesai dengan tidak baik-baik. Hari itu seolah-olah menjadi satu pintu yang terbuka, bagaimana kita akhirnya menerima keadaan di masa lalu, menjelaskan semua meskipun kata tidak bertutur.

“Jaga dirimu baik-baik ya,” ucapku padanya, suara khas kereta datang berbunyi.
“Kamu juga. Sampai bertemu lagi ya. Semoga ada kesempatan bagi kita bertemu kembali. Jaga kesehatanmu.”

Hari ini, pada pertengahan Juni 2021, empat tahun setelah pertemuan itu, sepertinya dari kita memang benar-benar sudah menjalani hidup masing-masing dengan mimpi, jalan, dan orang yang kita pilih.

Semoga, semoga suatu saat ada waktu yang memoderasi kita untuk bertemu kembali, aku belum sempat mengucapkan terima kasih saat itu; untuk segalanya.

4.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top