Merangkul Pundakku

–Untuk semua manusia, yang sampai hari ini, terus mencoba mencintai diri sendiri

Aku pernah tahu, kala aku memegang prestasi paling wahid, semua orang mengacungkan tangannya, bertepuk-tepuk paling riuh, dan mengirimkan pesan apresiasi. Memang begitu bukan, saat berada pada fase-fase kemenangan, senyum akan kian rekah dan dada kerap kian busung? Tentu wajar karena dunia seakan menyokongmu untuk tetap berada pada waktu terbaikmu.

Begitu pula sama ketika aku berada pada dunia yang bahagia, entah karena tengah berulang tahun, mendapatkan sebongkah berlian, atau bahkan memiliki teman baru yang bisa diajak berkeliling banyak tempat. Teman-teman seakan memuji-muji dan sontak seakan-akan aku menjadi poros bumi.

Namun, aku tahu. Debar kala bahagia adalah debar ilusi, walaupun bukan imajinatif, tapi aku sadar, debar itu sering bertahan tidak lama.

Dan prestasi itu pun surut,
umur semakin tua dan orang-orang semakin alpa dengan tanggal lahir,
pun demikian ketika kehilangan harta benda,
atau berpisah dari hubungan dengan seseorang yang dicinta.
Dunia bergegas meninggalkanku jauh lebih sepi dan sunyi. Benar apa kata pepatah, bahwa perasaan tergelap dalam diri manusia adalah perasaan ketika merasa sendirian. Rasa sendiri bukan lagi menghantam kepalaku keras-keras, tapi jauh di atas itu, meninggalkanku dalam perjalanan panjang yang melelahkan.

Jadi, bukankah dalam dunia yang sangat bergegas seperti hari ini, wajar kalau aku mulai belajar bagaimana cara menepuk dada sendiri untuk bangga terhadap seluruh peningkatan dalam hidup, sekecil apa pun, sesedikit apa pun. Wajar bahwa aku mulai belajar cara menepuk pundak sendiri, memberi insentif kata-kata positif untuk bangkit apabila terpuruk, sebab tahu bahwa pada akhirnya yang mengangkatku ketika jatuh tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Wajar pula bahwa aku perlahan tahu bagaimana memeluk diri sendiri dan membelai rambut sendiri dengan kasih sayang. Karena, pada saat semua orang yang aku sayang pergi satu demi satu, minimal aku tahu bagaimana cara menyayangi diri sendiri.

Semua adalah cara, dan bagaimana aku memaknai bahwa aku yang harus lebih mengerti diriku sendiri, begitu pun kamu yang harus lebih mengerti dirimu sendiri. Semua ini adalah cara, sekali lagi, adalah cara untuk jauh lebih hidup bahkan ketika semua orang meninggalkan kita.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top