folder Filed in Prosa, Sekitar, Yang Akan
Menatap Teman Lulus Terlebih Dahulu
Untuk seluruh manusia yang berjuang untuk lulus. 
Ghiyats Ramadhan comment 5 Comments access_time 2 min read

Kamu berdiri di belakang pagar reyot dan berkarat itu, kemudian satu persatu menatap teman-temanmu tersenyum, menerima banyak karangan bunga dari sejawatnya, dan kemudian berswafoto dengan hingar yang meletup-letup dari matanya.

Kamu menatap dengan nanar, bahwa hari ini, kamu masih belum bisa mengundang ibu dan bapak untuk melihatmu menggunakan toga, memakai rias, dan berjalan dengan tegap membawa seperangkat ijazah yang telah mafhum membuatmu menjadi sarjana.

Kamu rasanya ingin bercerita, bahwa perjuangan ini terlalu sunyi dan menyakitkan. Karena selepas ini, teman-temanmu akan kembali ke asal, meninggalkan tempat dimana mereka memintal satu per satu bahaga dan air mata menjadi pakaian yang meskipun tidak bagus benar, ia tentu memberikan kesan. Sekarang, kamu sendiri.

Kamu memejamkan mata, dan barang sedetik berlalu kamu membuka mata, mereka masih tetap sama dan tak berubah; mereka telah lulus. Kamu berbalik dari pagar tua itu, dan yakin bahwa memang hidup seperti ini, menjadi begitu kejam ketika semua orang pergi dan hanya meninggalkan kenangan yang tentu, dapat menguap kapan saja.

“Sis!”

Kamu menoleh, dan salah satu teman terbaik dan terdekatmu menghampirimu, “Ini.”

Kamu menerima setangkai bunga, dan menatapnya lamat-lamat, “Ada apa?”

“Terima kasih untuk segalanya. Maaf sebab aku pergi dahulu, dan semangat, hidupmu jauh lebih indah daripada yang kamu pikirkan.”

Kamu menangis, memeluknya dan merasa, teman-temanmu kini benar-benar akan pergi jauh. Kamu tidak bisa menanggung beban masa depan perasaan terabai dan tersisih. Kamu memeluknya erat-erat, tanganmu rekat menarik-narik jubah hitamnya. “Doakan, doakan, semoga hidup saya menjadi lebih baik dari sebelumnya,” katamu.

Kamu melepaskan pelukan itu, menatap sahabatmu, tersenyum, dan kemudian berjalan pergi. Pada akhirnya, kamu sadar, orang-orang bagaimanapun akan tetap menjadi objek dari singgah, orang-orang akan pergi dan berubah, tapi tidak dengan dirimu sendiri, kamu akan tetap menjadi tumpuan utama dari dirimu sendiri menyelesaikan masalah-masalahmu.

Kamu menyeka air mata, dan yakin, bahwa selamanya tetap yakin, salah satu kekuatan terbesar adalah Tuhan dan diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Deep banget pas ngebaca ini, but it makes me feel stronger than yesterday to face all the problems for my beloved family especially my parents:’)