folder Filed in Hidup, Senadi, Yang Lain
Ku Tak Pulang-pulang ke Rumah
Sejauh-jauhnya pergi, jangan pernah lupa untuk pulang. Meski hanya sesekali, ingatlah, dampaknya bisa berkali-kali bagi perspektif yang lain.
Ghiyats Ramadhan comment 8 Comments access_time 2 min read

Sejauh-jauhnya kaki melangkah, kepada rumahlah jua kita kembali.

Tanah rantau sudah merawat saya selama lebih dari empat tahun. Kebaikan-kebaikan, rasa manis, pengalaman-pengalaman luar biasa, kenangan yang sulit lupa, pojok-pojok dan kanal-kanal yang setiap sudutnya memiliki cerita sendiri tentu kadang membuat saya alpa bahwa saya punya rumah nun jauh di sana.

Bukan saat-saat seperti ini saya merasa berdosa terhadap rumah. Tapi saat pesan ibu muncul dari atas layar ponsel dan kemudian mengetuk-ngetuk minta dibuka.

“Nak, minggu depan, mamah saja yang ke sana. Kayaknya kamu lagi sibuk jadi gak bisa pulang ke rumah.”

Saya selalu kelelahan karena terus-menerus merasa tidak tahu harus membalas apa. Tentu, jawaban yang mengiyakan justru menegakkan kenyataan bahwa memang saya tidak sempat (atau tidak menyempatkan pulang?).

Dari dulu, saya berpegang teguh, bahwa bagi seorang laki-laki, pulang ke rumah haruslah dengan hegemoni yang hebat; menanggung rasa lelah dan pedihnya berjuang, namun pulang dengan senyum riang. Memikul masa depan yang tidak pasti, namun pulang membawa upeti-upeti yang orang tua ingini. Merasa bahwa nasib tak kunjung baik dan bijak, namun pulang sok mampu menceritakan segala keberhasilan-keberhasilan hanya untuk merasa bahwa orang tua telah berhasil mendidik saya menjadi orang yang tidak dungu. Dan tentu, segala hal-hal adiluhung yang sebenarnya, terpaksa diakui, jauh panggang dari api.

“Nak, bagaimana, minggu depan kamu ada di sana kan? Gak pergi-pergi kan?”

Saya melihat kalender pada ponsel, baris-baris pengingat berwarna hijau berjejer tepat saat orang tua menginginkan menjenguk saya. Agenda-agenda sudah tersusun dengan sempurna, jam sekian harus menghadiri rapat di sana, kemudian beberapa jam kemudian harus menghadiri undangan di seberang kota. Keesokan harinya selama dua hari sibuk untuk meluangkan waktu jalan-jalan bersama teman menginap di kampung halamannya. Kemudian keesokannya, keesokannya lagi, ah, banyak sekali agenda yang telah disusun secara baik.

Notifikasi kembali muncul.

“Kalau memang sibuk, tidak apa-apa, yang penting, kamu terus sehat. Jangan lupa terus telpon mamah sama ayah ya.”

Air mata saya tiba-tiba mengalir.

Saya buka pesan itu, kemudian, “Nggak mah, mamah gak perlu kesini. Nanti aku yang pulang ke rumah.”

Saya kirimkan pesan pembatalan agenda kesana-kemari, memesan tiket pulang, dan mengusapi diri sendiri, “Pulanglah selagi sempat, pulanglah sebelum terlambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Menangis sendu, tak dapat membendung rindu.
    Sebentar, kuatkan hati dan ragamu
    Sebentar, sebentar lagi kita bertemu, Ayah Ibu

  2. Saya tak pernah di rantau, namun mendengar banyak cerita kerinduan akan pulang. Disini saya sangat bersyukur atas waktu yg lebih banyak di berikan untuk bertatapan dan bisa berkumpul dengan orang tua setiap harinya.

  3. Bagi saya yg bukan anak rantaupun bisa merasakannya dengan jelas :”). Mulailah memprioritaskan keluarga. Tidak pernah ada kata terlambat untuk pulang, maka perbaikilah selagi bisa karena waktu tidak ada yang bisa menebak

  4. “Tahun baru nanti pulang tidak nak?”
    Maaf Ibu, lagi-lagi jawaban anakmu tidak. Banyak beban yang menahan kaki untuk melangkah ke rumah.

  5. Lagi di rumah aja nangis baca ini apalagi kalo nanti harus balik ke perantauan lagi. Selamat tinggal tanah kelahiran yang akan aku tinggal untuk waktu yang tak bisa aku perkirakan 🙁