folder Filed in Senadi
Surat Terbuka untuk Ayah
Ayah, jangan pernah lupa untuk selalu mencintai kami. Seperti kami pun, sesungguhnya demikian.
Founna Citra comment 12 Comments access_time 2 min read

Ayah, tahukah kau

Bahwa saat aku kecil kaulah satu-satunya sosok yang selalu kubanggakan kepada semua yang kutemui. Selalu kuceritakan betapa hebatnya dirimu demi keluarga. Betapa bangganya aku padamu, dulu.

 

Ayah, tahukah kau

Ketika aku remaja jika ada yang bertanya lelaki seperti apa yang ingin kujadikan pendamping. Aku selalu menjawab “Lelaki itu harus seperti papaku” karena di mataku kaulah sosok sempurna dalam keluarga.

 

Ayah, tahukah kau

Saat ini sosok itu hilang, sosok yang selalu kubanggakan dengan hebat. Kini ia menghilang, yang tertinggal hanya sosok aroganmu saja. Kini kau bukan lagi yang kubanggakan.

 

Ayah, tahukah kau

Aku pernah membencimu dengan teramat sangat saat umurku sudah mulai beranjak dewasa. Meskipun saat ini masih, tetapi rasa itu masih bisa kukendalikan. Bahkan aku pernah tak ingin melihatmu sedikitpun, karena rasa benci ini.

 

Ayah, tahukah kau

Bahwa yang kausakiti bukan hanya ibu saja. Tetapi kami, anakmu pun ikut tersakiti. Aku tau memang tak pernah ada sosok orang tua sempurna, tetapi setidaknya bisakah kau jaga keluarga ini untuk tetap utuh, bahagia seperti dulu?

 

Ayah, tahukah kau

Bahwa ke mana pun kau pergi, tak akan pernah ada rumah senyaman kami untuk tempatmu pulang dalam lelahmu. Tahukah kau, ada yang selalu mendoakan kesehatanmu, ada yang selalu meminta rezekimu untuk tetap lancar setiap harinya. Ada yang selalu mendoakanmu selamat sampai tujuan dan kembali dengan senyum setiap kali kau pergi bekerja? Kami, Kamilah orang itu.

 

Ayah, bisakah kau sedikit saja melihat wajah ibuku dan kauresapi?

Betapa ia pun berjuang untuk tetap bersamamu. Wajah itu yang seharusnya kaubuat senyum, Wajah itu yang seharusnya kaubahagiakan. Wajah itu yang sudah bertahun-tahun melayanimu dengan ikhlas. Wajah itu selalu menerimamu pulang sejauh apapun langkahmu pergi.

 

Yah, apa adakah orang lain yang bisa membuatmu merasa pulang? Membuatmu berada di rumah paling nyaman?

Yah, bisakah kaubayangkan hidupmu tanpa kami di dalamnya?

Yah, pernakah kau bertanya apa yang sedang kami rasakan saat ini sedikit saja? Bahagiakah kami dengan ini semua?

 

Ayah, pernahkah ayah memikirkan sakitnya kami menerima kenyataan bahwa ayah kami lebih memilih menghabiskan harta dan waktunya dengan orang lain? Pernah ayah memikirkan bagaimana sosokmu di mata kami saat ini?

Kami hanya ingin ayah kami kembali. Kami rindu ayah kami

“Untuk semua yang pernah merasakan ini, pelukku untuk kalian semua”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

    1. Terima kasih kembali sudah membaca tulisan ini. Semoga kita selalu diberikan kelapangan hati. Aamiin

  1. Kak, terima kasih sudah membuat tulisan ini, aku sampai menangis membacanya, semangat terus ya kak!!

    1. Terima kasih banyak juga sudah membaca tulisan ini, semoga hari-hari kamu selalu baik dan semoga kita selalu diberikan kelapangan hati. Semangat!