Surat Terbuka untuk Ayah

Ayah, tahukah kau

Bahwa saat aku kecil kaulah satu-satunya sosok yang selalu kubanggakan kepada semua yang kutemui. Selalu kuceritakan betapa hebatnya dirimu demi keluarga. Betapa bangganya aku padamu, dulu.

 

Ayah, tahukah kau

Ketika aku remaja jika ada yang bertanya lelaki seperti apa yang ingin kujadikan pendamping. Aku selalu menjawab “Lelaki itu harus seperti papaku” karena di mataku kaulah sosok sempurna dalam keluarga.

 

Ayah, tahukah kau

Saat ini sosok itu hilang, sosok yang selalu kubanggakan dengan hebat. Kini ia menghilang, yang tertinggal hanya sosok aroganmu saja. Kini kau bukan lagi yang kubanggakan.

 

Ayah, tahukah kau

Aku pernah membencimu dengan teramat sangat saat umurku sudah mulai beranjak dewasa. Meskipun saat ini masih, tetapi rasa itu masih bisa kukendalikan. Bahkan aku pernah tak ingin melihatmu sedikitpun, karena rasa benci ini.

 

Ayah, tahukah kau

Bahwa yang kausakiti bukan hanya ibu saja. Tetapi kami, anakmu pun ikut tersakiti. Aku tau memang tak pernah ada sosok orang tua sempurna, tetapi setidaknya bisakah kau jaga keluarga ini untuk tetap utuh, bahagia seperti dulu?

 

Ayah, tahukah kau

Bahwa ke mana pun kau pergi, tak akan pernah ada rumah senyaman kami untuk tempatmu pulang dalam lelahmu. Tahukah kau, ada yang selalu mendoakan kesehatanmu, ada yang selalu meminta rezekimu untuk tetap lancar setiap harinya. Ada yang selalu mendoakanmu selamat sampai tujuan dan kembali dengan senyum setiap kali kau pergi bekerja? Kami, Kamilah orang itu.

 

Ayah, bisakah kau sedikit saja melihat wajah ibuku dan kauresapi?

Betapa ia pun berjuang untuk tetap bersamamu. Wajah itu yang seharusnya kaubuat senyum, Wajah itu yang seharusnya kaubahagiakan. Wajah itu yang sudah bertahun-tahun melayanimu dengan ikhlas. Wajah itu selalu menerimamu pulang sejauh apapun langkahmu pergi.

 

Yah, apa adakah orang lain yang bisa membuatmu merasa pulang? Membuatmu berada di rumah paling nyaman?

Yah, bisakah kaubayangkan hidupmu tanpa kami di dalamnya?

Yah, pernakah kau bertanya apa yang sedang kami rasakan saat ini sedikit saja? Bahagiakah kami dengan ini semua?

 

Ayah, pernahkah ayah memikirkan sakitnya kami menerima kenyataan bahwa ayah kami lebih memilih menghabiskan harta dan waktunya dengan orang lain? Pernah ayah memikirkan bagaimana sosokmu di mata kami saat ini?

Kami hanya ingin ayah kami kembali. Kami rindu ayah kami.

“Untuk semua yang pernah merasakan ini, pelukku untuk kalian semua”

3 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
12 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bembi
2 years ago

Keren banget kak tulisan nya. Aku sampe netes air mata baca nya. Ditunggu karya selanjutnya 🙂

founna citra
founna citra
2 years ago
Reply to  Bembi

Hai kamu, terima kasih yah sudah menyempatkan baca tulisan ini 🙂

andana
andana
2 years ago

tulisannya hidup krna dtulis dengan hati.. keren

saya mau
saya mau
2 years ago

Mencoba

mzy
mzy
2 years ago

i can feel it…
Terima kasih telah mewakili rasa lewat tulisan ini:)

founna citra
founna citra
2 years ago
Reply to  mzy

Terima kasih kembali sudah membaca tulisan ini. Semoga kita selalu diberikan kelapangan hati. Aamiin

Siti Nurhayati
Siti Nurhayati
2 years ago

Kak, terima kasih sudah membuat tulisan ini, aku sampai menangis membacanya, semangat terus ya kak!!

ef
ef
2 years ago
Reply to  Siti Nurhayati

Terima kasih juga kamu udah mau membaca tulisan ini yah. Semoga selalu baik hari kamu. With love, ef

Syifa badriah
Syifa badriah
2 years ago

I really miss you dad:”))))

ef
ef
2 years ago
Reply to  Syifa badriah

Peluk ({})

Im
Im
2 years ago

Cuma ingin mengatakan terimakasih, tulisan mu telah mewakili perasaan ku selama ini

ef
ef
2 years ago
Reply to  Im

Terima kasih banyak juga sudah membaca tulisan ini, semoga hari-hari kamu selalu baik dan semoga kita selalu diberikan kelapangan hati. Semangat!

Top