Ini Tentang Memaafkan dan Menerima

Berdiri di depan cermin, memandang sorot kosong mata itu.

Melihatku terus-menerus menyalahkan diriku sendiri.

Mencoba mencari celah bahwa setiap manusia memang tak pernah tak salah.

Sulit sekali aku memaafkan segalanya.

Berulang kali aku berbicara pada diriku sendiri, menenangkan pikiranku, mencoba bersabar di tengah keadaan yang membuatku gelisah.

Menerima keadaan hati yang remuk redam.

Ada kalanya menangis merengek pada Tuhan bahwa apa yang sedang dihadapi begitu memilukan hatiku.

Tapi bukankah sebagai manusia biasa itu adalah hal yang wajar, menangis hingga tertidur dengan sendirinya?

Aku memilih diam di tengah gaduhnya keadaan, karena pikiranku terlalu riuh untukku ungkapkan dengan kata-kata.

Percayalah bahwa setiap keadaan akan membaik pada akhirnya.

Segala gusar hatiku akan berganti dengan bahagia.

 

Belajar memaafkan diriku, lalu membiarkan rasa kecewa meredam dan perlahan hilang. Mengikhlaskan apa yang terjadi. Menerima semua hal yang sangat sulit untuk diterima. Mencoba membangun kembali rasa percaya diri yang hilang. Aku sudah kehilangan banyak hal, jangan sampai aku kehilangan diriku lagi. Dari segitu banyaknya pengorbanan yang sudah dilakukan, jangan lagi aku mengorbankan diri. Setelah sekian lama aku kehilangan mimpi, asa, dan diriku, ada satu hal yang aku sadari. Bahwa sebenarnya yang aku butuhkan adalah penerimaan atas diriku sendiri.

 

Teruntuk orang yang sedang menatap cermin itu, aku ingin mengucapkan terima kasih sudah bertahan, menempuh semua rasa yang tidak enak demi terus berjalan maju dan tak kalah dengan keadaan. Semua rasa sakit dan kecewa yang terjadi selama ini semoga bisa kamu jadikan pengingat untuk belajar menjadi lebih baik lagi ke depannya. Semua hal yang terjadi bukan atas kemauanmu, semoga itu menjadi cara untuk terus belajar menerima apa yang Tuhan sedang rencanakan. Berjanji sekali lagi, untuk lebih menyayangi dirimu sendiri. Berjanjilah untuk tidak terlalu keras kepada dirimu. Berjanji, apa pun hal buruk yang nanti menghantam kembali, kamu akan terus berdiri tegak, mencintai setiap kurang dan lebihnya dirimu, tersenyum lebih banyak.

 

Bukankah menikmati suka dan menerima duka merupakan proses perjalananmu menjadi manusia?

Bukannya tak ada yang sia-sia jika mampu bersabar?

Bertahanlah.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top