Enigma Berulang dalam Wujud Dua Dasawarsa (Sebagai Aksama Diri dalam Proses Senandika)

Bila mengingat kembali, cukup terlampau sering lontaran demi lontaran pertanyaan melayang-layang dalam kepalaku. “Aku bisa atau tidak?”; “Apakah aku berani berhadapan dengan sesuatu yang akan ‘bertamu’ denganku nanti?”; “Bagaimana kalau aku hilang kendali lagi?”; “Apakah aku mampu?”; “Apakah aku masih jauh dari kata cukup?”; “Haruskah aku kembali ke garis awal?”; dan masih banyak lagi.

Kehidupan ke-102 hari semenjak peresmian kepala duaku tak pernah menjadi hal yang layak untuk aku rayakan. Dua puluh tahunku tak ingin kuberi rapsodi. Terlalu cepat dan tentu menyeramkan—atau mungkin tidak, bila aku sedikit cukup beruntung. Menukik sedikit ke belakang, banyak sekali hal-hal yang seharusnya terselesaikan, namun telanjur menjadi lalu dan disembuhkan oleh waktu—meski tak sepenuhnya. Bagiku, keinginan untuk meraih kembali puing-puing itu tak lagi terbantah. Tetapi manusia tak berkodrat untuk dapat melempar dirinya kembali ke masa lalu.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa banyak insan yang memeluk duka lebih besar dibanding milikku sehingga laraku seakan menjadi tak kasat mata. Tetapi banyak yang lupa bahwa mereka adalah sosok yang harus dekat dan mengenal baik batasan serta kapasitas dalam diri mereka, dan aku sedang belajar akan hal itu. Meski tak selalu terambau, sakit yang hadir tak dapat kuanggap main-main. Kita semua ada dari secarik cinta dan sejumput asa, dirakit sedemikian rupa dan akhirnya menjadi manusia. Namun harapan tak pernah berhenti tumbuh, membesar bak eukaliptus—menjadi penghalang untuk dapat mengerti sebenarnya apa yang diri ini mau.

Bersama sorai yang luruh lara serta linglung yang menjadi-jadi, ingatanku terhenti di umur dua belas, ketika pertama kali pindah dan bersekolah di kota setelah sepuluh tahun menghabiskan waktu di desa ujung Jawa Timur. Meski bersama ayah walau tak sering, tetap saja tempat itu terasa begitu besar untuk manusia kecil yang dipaksa berdiri dengan dua kaki oleh keadaan; terlalu dini untuk belajar merangkul diri dan tak memupuk ekspektasi sebagai upaya membangun fondasi. Namun, dunia semakin membuktikan bahwa ia bisa menjadi lebih mengerikan dari hari ke hari—seakan menghardik, kau hanyalah kerdil yang terlalu memaksakan diri.

Menjelang dewasa, bukan hanya pertanggungjawaban baru yang terus berdatangan, melainkan juga banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawabannya segera. Aku tidak terlalu terkejut, tetapi bukan berarti aku tak kalang kabut. Kilas balik menyadarkanku bahwa perkara-perkara akan meruah di tengah umurmu yang semakin menyempit. Kukira aku adalah sosok yang mampu membersamai diri sendiri dalam menyelesaikan suatu hal, nyatanya salah. Cukup banyak masalah yang terselesaikan atas bantuan orang lain di sekitar. Ternyata aku hanya mencintai waktu-waktu bersama diri sendiri, namun tidak di semua hal. Kukira aku adalah sosok terkuat yang sanggup melebur dengan dunia di luar rumah tanpa mengeluh berlebih. Namun, ternyata selama ini aku terlalu gengsi untuk mengakui rasa khawatir. Aku merindukan rumah dan rumahku, sekarang.

Mengulang kembali, dua puluh tahunku tak ingin kuberi rapsodi. Terlampau banyak kata namun yang terucap, tetapi Tuhan menyelipkan rasa syukur dari pembelajaran singkat untuk dapat kujadikan dasar empati dan pemantauan progres diri. Bersama tubuh yang sedikit rungsek dengan lambung yang tak lagi suci terkucur kopi secara berkala, aku cukup lega karena mengetahui aku masih sanggup bertahan—akan terus seperti itu untuk waktu yang panjang. Untuk semua yang senantiasa hadir dan menetap di hidupku, mereka ada untuk kurawat dan cintai sebanyak aku mencintai diri sendiri, semoga. Panjang umur hal-hal baik!

5 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top