Undangan Pernikahan

Saya tahu rasanya tidak diundang ke pernikahan teman di masa pandemi. Begitu pula rasanya diundang tetapi enggan datang karena memiliki ketakutan yang bagi sebagian orang terlihat berlebihan. Saya juga ingat saat sepupu saya membuat daftar nama undangan yang hendak diundang ke pernikahannya. Keterbatasan ini membuat saya berpikir ulang, seandainya tahun ini saya yang menikah, siapa saja yang akan saya undang?

Suatu hari seorang antropolog dari Inggris, Robin Dunbar, membuat teori tentang angka ajaib. Ia percaya bahwa manusia bisa melanggengkan hubungan secara stabil hanya dengan 150 orang. Angka ini didapatkan dari penelitiannya menggunakan ukuran rata-rata otak. Saat saya membaca teori ini, saya kembali ke pertanyaan pertama: seandainya tahun ini saya menikah, siapa saja yang akan saya undang?

Masalahnya, saya adalah bagian dari keluarga yang sangat besar. Kakek dan nenek saya memiliki saudara lebih dari lima. Setiap lebaran, anggota keluarga yang begitu banyak selalu berkumpul di satu rumah. Dari satu kakek saja sudah ada belasan anggota keluarga. Anggota keluarga saja sudah menghabiskan jatah angka Dunbar saya, belum lagi keluarga pasangan saya—masih bayangan. Solusinya mungkin bisa hanya mengundang perwakilan dari setiap saudara kakek. 

Lantas, bagaimana dengan undangan untuk teman-teman? Alangkah curang pasangan-pasangan dengan latar belakang lingkungan yang sama—misalnya satu sekolah, satu kampus, atau satu komunitas. Mereka bisa mengundang satu orang yang berperan sebagai tamu bagi keduanya. Alangkah sedih pasangan-pasangan yang memiliki lingkungan pergaulan yang berbeda. Tentu, itu pekerjaan yang akan menguras energi dan menimbulkan friksi. Tapi lagi-lagi, untuk kasus ini pasangan saya masih bayangan. Hanya saja, diam-diam saya sudah mencatat siapa saja yang ingin saya undang. 

Mengundang teman pun sesuatu yang rumit karena pasti ada lingkaran pertemanan yang terasa hambar apabila satu anggotanya absen. Semisal saya hanya mengundang dua teman dari kelompok pertemanan saya yang bertujuh, tentu dinamikanya akan berbeda. Setiap orang dalam setiap lingkaran pertemanan seperti punya job desk-nya masing-masing. Ketidakhadiran satu orang rasanya seperti ban sepeda yang kempes. Masih bisa berputar, tapi menggowes sepedanya jadi berat.

Ah, seandainya merawat pertemanan semudah mengajak teman sekelas ke pesta ulang tahun, kita tidak perlu memiliki alasan kuat dan mempertimbangkannya begitu panjang. Cukup satu alasan: karena mereka sekelas. Selebihnya, asal orang tua juga senang bisa menggelar acara ulang tahun untuk anaknya. Ya, membahagiakan orang tua juga bisa dilakukan lewat memberikan kesan bahwa anaknya memiliki teman yang banyak. Sayangnya mereka tidak begitu paham tentang siapa teman yang memang teman, siapa teman yang hanya teman. 

Kembali lagi, seandainya tahun ini saya menikah, siapa saja yang akan saya undang? 

Saya ingat seorang kerabat yang bilang bahwa ia mengingat semua orang yang mengucapkan selamat setiap ulang tahun. Baginya, itu cara paling sederhana untuk menunjukkan bahwa mereka masih ingin menjadi bagian dari hidup kita. Entah sebagai kenalan, teman, atau lebih. Beberapa kali saya mengangkat isu ucapan ulang tahun dengan kerabat lainnya dan hasil obrolannya selalu serupa. Cukup banyak kerabat saya yang menghargai orang-orang yang mengucapkan selamat di hari ulang tahun. Maka, saya mulai menjadi lebih rajin mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang-orang yang masih saya ingin tahu kabarnya. Siapa tahu ketika mereka kelak menikah, nama saya masuk daftar undangannya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top