Sahur Sendiri

Saya jadi ingat rasanya sahur sendiri di kos. Kebetulan di kos saya waktu itu jauh lebih banyak yang tidak berpuasa. Sekali pun ada, jadwal makan sahurnya berbeda-beda. Ada yang terakhir makan setelah tarawih, ada yang sahur jam dua pagi, ada yang jam tiga juga. Sedangkan, saya terbiasa sahur jam setengah empat. Rutinitas sahur saya sewaktu itu bangun tidur lalu memanaskan makanan. Kadang di dapur bertemu juga dengan yang hendak sahur. Namun, lebih sering kami tidak sahur bersama karena saya sadar saya orang yang menyebalkan saat baru bangun tidur. 

Di kamar kos, saya tinggal dengan satu teman. Ia tidak berpuasa, tapi rajin menegur saya kalau sahur kenapa tidak menyalakan lampu utama. 

“Nanti lo kebangun, ah. Ngga enak gue,”

Saya tetap keras kepala. Tidak mau menyalakan lampu utama. Tetap menggunakan senter telepon genggam yang untungnya pintar. Kerap kali teman saya terbangun tengah saat saya sedang sahur. Ia perlu ke toilet, tapi melihat saya yang cukup keras kepala, ia sempatkan terlebih dahulu menyalakan lampu utama sebelum ke toilet. Tanpa kata-kata. Saya yang sedang mengunyah jadi berhenti dan menengok ke arahnya yang sudah melengos ke toilet. Awalnya saya matikan lagi lampu utama saat ia masih di toilet. Namun, begitu ia keluar dari toilet, lagi-lagi ia nyalakan lampu utama itu dan melengos ke kasur. Tanpa kata-kata. Mungkin ia tahu saya orang yang menyebalkan saat baru bangun tidur, jadi ia memilih untuk tidak banyak omong. 

Kalau buka puasa, biasanya dia ada tapi nanti pergi makan malam. Kadang saya diajak, kadang tidak. Kadang saya ikut, kadang malas. Beberapa kali ketika saya tidak ikutan ia suka tanya mau titip apa untuk sahur. Kadang mau titip, kadang juga tidak. Nantinya kalau saya sudah tidur tapi dia belum pulang, biasanya begitu saya bangun sahur ada bingkisan di meja belajar saya. Lengkap dengan post it dan tulisan selamat sahur. 

Saya sahur sendiri lagi. Tidak menyalakan lampu utama lagi. Ia terbangun, menyalakan lampu lagi. Saya matikan lampu itu. Ia nyalakan lagi. Begitu saja terus. Kebiasaan itu menjadi rutinitas yang baru bagi saya setelah belasan tahun sahur nyaman di rumah dengan anggota keluarga, lengkap dengan nasi, sayur, dan porsi sebebasnya. Walau sekarang saya sudah bisa sahur nyaman di rumah lagi, saya pernah sahur sendirian, gelap-gelapan, di kamar kos. Ketika itu yang menemani saya adalah seorang teman yang tidur. Seorang teman yang memaksa secara halus untuk menyalakan lampu utama, supaya saya bisa sahur dengan nyaman. Setidaknya walaupun tidak dengan keluarga, ada cahaya yang hadir di sahur-sahur masa itu. 

Sebelum sahur juga kadang kami terpaksa bangun hingga lewat dini hari. Tuntutan tugas, tuntutan akademik. Tapi yang namanya kantuk memang kalau hadir ya hadir saja. Ia mulai menguap dan pamit tidur duluan. 

“Jangan lupa alarm sahur,” katanya. 

Saya mengangguk. Seringnya ia tak langsung tidur, malah main Instagram dulu. Biasanya kalau masih begini, saya masih bisa tanya-tanya. Suatu saat saya sudah bicara panjang lebar, tanya metode ini itu, dia tidak menjawab. Saya biarkan sebentar, kemudian saya menengok ke arah kasurnya. Ia memang belum tidur, tapi ia sedang berdoa hendak tidur yang bukan bismika. Kemudian ia grasak-grusuk, membenarkan posisi tidur dan selimut. 

“Nanti sahur lampu nyalain aja,” katanya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top