Mimpi-Mimpi Mampus

You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one. Begitu kata John Lennon di lagu “Imagine”. Sebagai seorang pemimpi, saya merasa empowered setiap mendengar lirik tersebut. Saat kecil, saya bermimpi menjadi dokter. Bisa jadi sebetulnya itu hasil doktrin orang tua atau masyarakat umum kepada kami, anak-anak kecil. Waktu dulu. ayah saya menjalani suatu operasi dan direkam, bisa-bisanya saya menonton videonya tanpa merasa mual. Di situ saya tau, mimpi bukan hanya hasil doktrin. Begitu masuk SMP, mimpi menjadi dokter perlahan luruh. Ternyata anatomi itu kompleks. Bahkan dulu saya tidak bisa membedakan karakteristik otot lurik, otot polos, dan otot jantung. Saya menyerah saat itu. Biarkan mimpi ini menjadi ketertarikan pribadi saja. Akhirnya muncul mimpi baru, saya ingin jadi penulis. Saat SMP saya membaca trilogi The Hunger Games seperti kitab suci. Akhirnya saya menjadikan The Hunger Games sebagai topik karya tulis. Selama proses penulisan, saya membaca banyak artikel, menonton banyak video wawancara tentang The Hunger Games. Saat itu saya tahu bahwa The Hunger Games tidak lahir dari sembarang kepala. Ia lahir dari kepala yang memikirkan mitologi, psikologi, dan berbagai cakupan ilmu lainnya. Saya terkesima dengan kecerdikan Suzanne Collins melakukan riset dan membuat cerita yang luar biasa. Sampai sekarang, mimpi menjadi penulis itu masih ada.

Tidak hanya itu. Ada mimpi lain lagi yang saya punya, mimpi buruk.

Seringkali ketika orang berbicara mimpi, ia menceritakan hal-hal mulia yang akan ia lakukan untuk sekitarnya. Saya ingin memberikan beasiswa pendidikan untuk orang lain. Saya ingin membangun wadah untuk orang lain bisa merasa aman. Saya ingin membebaskan orang-orang yang terpenjara. Akan tetapi, kita suka lupa bahwa bisa jadi sebetulnya mimpi buruk lebih sering datang daripada mimpi baik.

Mimpi buruk pertama saya terjadi ketika masih SD. Saya memimpikan tetangga di depan rumah saya yang mengadakan pesta malam-malam. Ibu saya meminta saya untuk mengantarkan coolbox berisi es mambo ke rumah depan. Begitu hendak mengebel, keluar sosok monster warna-warni yang banyak sekali. Kurang lebih seperti monster di film Monster Inc, tapi tidak pernah mandi, tidak pernah sisiran, dan bola matanya yang tidak sinkron. Saya menangis keras dan salah satu monster itu menutup mulut saya dengan sapu tangan–yang sepertinya bius. Jadi saya tergeletak di teras rumah depan selagi para monster itu berpesta-pesta dengan es mambo yang saya bawakan.

Dalam Catching Fire, bagian dari trilogi The Hunger Games, mimpi menjadi sesuatu yang krusial dan memiliki peran sentral dalam cerita. Melalui mimpi, para tokoh kembali merasakan hal-hal buruk yang pernah dirasakan di arena sebelumnya. Dari mimpi, para tokoh mempertanyakan realitas. Mimpi bukanlah hal yang selamanya baik dan mulia.

Contoh lainnya, dalam serial televisi Amerika berjudul This Is Us, terdapat satu episode yang menceritakan seberapa sering Randall, salah satu tokoh, memiliki mimpi buruk. Saat kecil, ia masih memiliki seorang ayah yang akan menenangkannya dan menemaninya tidur. Begitu remaja, ayahnya sudah tiada dan ia memiliki kesulitan memproses mimpinya. Beth, kekasih Randall, untungnya ia bisa membantu Randall menjadi lebih tenang setelah mendapat mimpi buruk. Bahkan di episode tersebut, ditunjukkan bahwa mimpi-mimpi Randall berdampak pada tingkat fokusnya yang berkurang. Ada sesuatu tentang mimpi buruk yang bisa mengacaukan pikiran orang-orang.

Bukti terakhir, dalam serial dokumenter The Mind, Explained dikatakan bahwa ada teori yang mengatakan mimpi bisa berasal dari memori atau pengalaman yang pernah dirasakan. Carl Jung, seorang psikolog, memiliki pendapat bahwa mimpi adalah pesan-pesan dari alam bawah sadar manusia. Di sisi lain, ada yang memercayai bahwa setiap mimpi memiliki tanda atau arti yang bisa ditafsirkan. Ini artinya mungkin setiap kita mimpi jatuh dari bangunan tinggi, atau bertemu ular, atau terjebak di ruangan sempit, dan sebagainya, ya mereka punya arti masing-masing.

Walau dalam tidur kemungkinan mimpi buruk selalu ada, yang penting adalah setelah mimpi buruk itu kita sadar bahwa itu hanyalah mimpi. Kita kembali menarik napas panjang. Membuka mata, melihat kanan kiri, meyakinkan diri tentang di mana kita saat itu. Di kasur, baru bangun tidur. Hal yang paling ideal dilakukan setelah mimpi buruk, ya bangun. Bangkit dari kasur, kembali menjalani hari untuk kembali menggantungkan mimpi-mimpi baik di langit. Semoga esok atau lusa, mimpi akan tercapai dan kita akan merasa puas.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top