Menangkis Pikiran

Kau sedang duduk di sebuah kafe, sendirian. Sudah berjam-jam punggungmu setengah bungkuk, matamu memandang layar laptop yang menampilkan tugas-tugas atau pekerjaan. Sepasang earphone-mu pun terlampau betah di dalam lubang telingamu. Namun, kau tahu kau butuh istirahat. Dilepaslah earphone itu. Kau renggangkan tubuhmu. Ditutuplah laptop itu. Matamu jadi liar. Pikiranmu dirayu imajinasi. Namun, telingamu tersangkut di perbincangan dua perempuan di meja sebelah. 

“Ya terus, maumu apa?”

Dalam waktu yang singkat, kau kembali ke tubuhmu itu. Sadar akan apa yang kau dengar dan kau tidak memiliki orang di sampingmu yang bisa kau ajak bicara mengenai itu. 

“Mauku? Mauku ya dia.”

Kau ajak dirimu sendiri berbincang tentang apa yang menjadi maumu, anganmu, inginmu. Akan tetapi, perbincangan kedua perempuan itu semakin keras dan terdengar. Memecah konsentrasi perbincangan yang sedang kau lakukan dengan dirimu sendiri. 

“Kenapa ya, hidupku begini-begini saja?” Ucap si perempuan itu. 

Di telepon genggammu, kau cari beberapa orang yang sekiranya bisa kau telepon. Pikiranmu terlalu lapang untuk kau menggiring pertanyaan ini sendirian. Setidaknya kau perlu satu atau dua orang yang segera bangun dari kursi pemain untuk menemanimu main oper-operan pertanyaan di lapangnya pikiranmu. 

Belum ada satu pun kerabatmu yang mengiyakan ajakanmu main oper-operan pertanyaan, tapi seperti ada mesin pelempar pertanyaan yang mendadak muncul di lapangan pikiranmu itu. Ia memaksamu menangkis semua pertanyaannya sendirian. Tanpa ada pertahanan bantuan di depan. Mendadak, kau menjadi kiper di lapangnya pikiranmu itu. 

“Apakah selama ini aku berubah?”

“Kenapa ya hidupku begini-begini saja?”

“Hal apa saja yang mereka ingat tentang diriku?”

“Mauku apa?”

“Tidakkah aku malu dengan diriku sendiri?”

“Kenapa aku tidak bisa fokus mengerjakan satu hal saja?”

Kalah telak. Dibobol habis pertahananmu dengan berbagai macam pertanyaan. Kau baringkan tubuhmu di lapangnya pikiranmu. Mengambil napas, perlahan, tahan, buang. Begitu melulu, hingga telepon genggammu bergetar. Ia menunjukkan salah satu temanmu yang menelepon. 

“Maaf, baru bisa telepon balik. Kenapa?” Tanyanya. 

“Lagi bingung aja,” jawabmu. 

Kerabatmu mendadak banyak omong. Kesannya lebih seperti mencari-cari alasan untuk tidak mendengarkan keluh kesahmu saat itu. Tak lama, kau pun menutup telepon itu dan isi kepalamu masih sama seperti tadi.
Ah, sudahlah. Pikiran macam ini, dibahas besok saja lagi. 

Tanpa kau sadari, besok akan terulang berkali-kali hingga lima atau sepuluh tahun lagi. Kau sedang duduk di sebuah kafe, sendirian. 

“Rasanya baru kemarin aku ke kafe ini,”, katamu. 

Masa depanmu berlalu begitu saja tanpa kau sempat mengenal dirimu sendiri lebih dalam. Ada hal-hal yang memang perlu ditangkis untuk sesaat, tapi ada hal-hal yang perlu didekap dan dijadikan pikiran semalaman. Supaya bangun tidur esok pagi bisa terasa lebih berarti.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Angeli Nurmega Defi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Angeli Nurmega Defi
Guest

Sukaaa sama gambaran situasinya. Hehehe

Top