Komedi Televisi

Di berita, ada rombongan sirkus lepas. Mereka kumpulan mamalia berakal. Ayah tertawa, aku terhibur, Ibu bingung, dan adikku ketakutan.

Bagi aku dan Ayah, komedi sesungguhnya adalah rombongan sirkus lepas itu. Mereka sudah punya pamor, tapi masih cari panggung, sedangkan badut-badut bayaran kelelahan lepas pasang kostum sehari tiga kali.

Pada momentum seperti ini, Ayah sering nostalgia. Ia membangkitkan lagi memori masa mudanya yang kian tengil, tapi juga dirundung ketakutan. Katanya, ada bagian dari dirinya yang tidak pernah dimengerti Ibu, tapi ia senang sekarang selera humorku serupa dengannya. Aku memang anak Ayah.

“Kembali ke studio,” ucap seorang perempuan seraya menurunkan tangannya dari telinga.

Ayah juga menurunkan cangkir kopi yang sedang ia pegang. Aku mengambil pisang goreng di meja dan mengunyah.

“Kamu, kuliah yang bener, tapi jangan terlalu bener,” kata Ayah. “Temen-temen Ayah yang kuliahnya terlalu bener malah ikutan jadi rombongan sirkus. Kamu enggak usah ya ikut yang begitu-begitu. Jadi penonton aja. Nih, ‘kan enak sembari makan gorengan,” ia ikut mengambil gorengan.

Kami berdua tertawa seperti badut di film horor. Ibu masih bingung dan adikku masih ketakutan.

3.8 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top