Di tiang-tiang listrik jalanan lebar atau gang sempit sering kali ditemukan kertas dengan tulisan sedot WC, ketok magic, jasa badut, dan sebagainya. Ada satu jenis poster yang juga suka ikut ditempel tapi secara populasi, ia tak mendominasi. Biasanya menawarkan jasa les bahasa Inggris, ditambah dengan kalimat ‘tiga bulan belum lancar, uang kembali’. Hal ini sama bohongnya seperti komik-komik anak yang bilang dalam tiga menit anak bisa tahu banyak ilmu tentang ini, ini, dan itu. Belum saja kita temukan poster cari jodoh di tiang listrik depan gang rumah. 

Beberapa tahun lalu, Indonesia disajikan dengan film tentang percintaan yang cukup menyegarkan tapi membuat luntang-lantung: Love for Sale. Dari judulnya, masyarakat diajak berimajinasi dan berkhayal, apa jadinya kalau cinta dijadikan komoditas. Lengkap dengan prosedurnya yang perlu isi formulir dari mulai data diri hingga preferensi. Bahkan akhirnya tahun kemarin, film ini rilis lagi untuk sekuelnya. Ternyata memang cinta sebegitu relevannya untuk banyak orang. 

Satu yang tak ditawarkan aplikasi Love, Inc, perusahaan fiktif yang ada di Love for Sale, adalah gagal jatuh cinta, uang kembali. Bahkan di akhir film pertama (spoiler alert), perusahaan ini ternyata tutup–entah pindah kantor atau memang betulan tutup. 

Perlukah kita bertanya kepada perusahaan penyedia jasa les bahasa Inggris dengan slogan ‘tiga bulan belum lancar, uang kembali’, tentang seberapa efektifnya slogan tersebut terhadap ketertarikan masyarakat untuk mendaftar? Tanpa butuh slogan yang memberikan garansi pun, aplikasi cari kencan masa kini tetap saja digunakan banyak orang. Bahkan aplikasi macam itu juga suka keluar-masuk sebagai top downloaded apps di saat-saat tertentu. Cinta tidak butuh dipasarkan untuk bisa laku. Banyak orang yang mencarinya, banyak orang yang penasaran akan dirinya, banyak orang yang juga hanya ingin lihat-lihat. Kalau memang slogan ‘uang kembali’ akan digunakan di antara beberapa aplikasi kencan ini, kira-kira perusahaan itu akan menjadi sangat kaya atau tiba-tiba tutup. There’s no in between

Pada tahun 2015 terdapat artikel di New York Times yang berjudul “To Fall in Love with Anyone, Do This”. Topik ini juga dibahas pada TEDtalk di YouTube. Sebetulnya topik ini berangkat dari sebuah jurnal akademik yang berjudul “The Experimental Generation of Interpersonal Closeness: A Procedure and Some Preliminary Findings”. Dalam jurnal tersebut, penulis membuat metode dimana orang saling bertanya tentang hal-hal dan pertanyaan yang sudah disusun. Bahkan urutan pertanyaannya juga dibuat sedemikian rupa rapi, diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang ringan sampai akhirnya yang bobotnya lebih dalam. Bahkan Menjadi Manusia pun mencoba eksperimen ini dalam segmen yang berjudul Lebih Dekat. Kalau belum nonton, coba nonton.

Jadi sebetulnya apa, sih, yang dicari? Cinta atau kedekatannya?

Lagi pula slogan ‘uang kembali’ dalam jatuh cinta itu omong kosong sekali. Dalam proses menjadi jatuh cinta setidaknya ada berapa kali jalan bersama, ada berapa kali teleponan, berapa gigabyte kuota yang terkuras untuk video call sampai sama-sama tertidur, berapa liter bensin yang habis untuk menghampiri rumahnya, dan masih banyak lagi. Gagal jatuh cinta, uang sudah pasti tidak kembali. Apalagi betul-betul jadi, betul-betul jatuh cinta, berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Slogan itu tidak bisa digunakan dalam menjual cinta. 

Ya tapi juga, kata orang-orang cinta itu pengorbanan. Kata orang-orang, sih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment