folder Filed in Puisi, Sepasang, Yang Lain
Di Balik Diam
Kasihan orang-orang yang mulutnya satu, tak berdaya pula, seperti sudah lelah dan tahu ceritanya tidak akan pernah usai.
Firnita Taufick comment One Comment access_time 1 min read

Aku diberi dua telinga
Seharusnya juga kugunakan
sebaik mungkin

Cerita bertebaran begitu pula kebohongan
Keputusan mana yang harus kudengar
ada padaku dan selalu padaku
bukan pada ayah, ibu, juga teman
Beruntunglah aku yang bisa dan sadar

Di pinggir jalan suka kulihat yang kurang beruntung
pun di lingkaran pergaulanku
Telinga boleh dua namun suka lupa mendengar
mulutnya sibuk bergulat dan adu mulut
terkadang membicarakan orang; terkadang memotong cerita
Hebat sekali, lidahnya sudah sabuk hitam sendiri
Kasihan orang-orang yang mulutnya satu
tak berdaya pula, seperti sudah lelah dan tahu
ceritanya tidak akan pernah usai
Aku kasihan pada keduanya: yang berlidah seribu dan yang bermulut satu

Aku diberi dua mata
kuputuskan untuk melihat yang jauh di luar lingkaran
bukan sekadar yang jadi bahasan sehari-hari
Mataku tak semata-mata untuk membaca tugas
terkadang ia mengekor orang yang dipojok, sedang gelisah
digigiti kuku jari-jarinya, memberi makan yang ada di dalam
terkadang juga ia menangkap pasangan yang sedang bertengkar
Esok hari semua orang membicarakan
“Memang betul kemarin mereka bertengkar?”
banyak yang menerka dan membuat dugaan asal

Dan aku hanya di pojok, gelisah, menggigiti kuku jariku
mengetahui sesuatu tapi bungkam
Di pojok lainnya aku lihat sepasang mata memperhatikanku,
mulutnya tersenyum; kami tersenyum
dalam diam, menghormati keberadaan satu sama lain
Itu bukan cerita kami
lagipula mulut kami hanya satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment