folder Filed in Perspektif, Yang Rutin
Dear Diary
Menulislah demi kewarasan sendiri.
Firnita Taufick comment One Comment access_time 4 min read

Waktu itu aku pernah membiasakan diri menulis jurnal harian. Selain memang suka menulis, tertera juga di beberapa artikel bahwa menulis jurnal harian membantu meningkatkan kesehatan mental seseorang. Sudah lebih dari setahun menulis jurnal harian, sudah lebih juga dari tiga notebook yang terisi oleh entri harian. Terkadang dalam jurnal tersebut ada entri-entri yang menceritakan keseharian namun ada juga tentang mimpi semalam, atau surat untuk seseorang, daftar lagu yang sedang disuka pada saat itu, main ABC lima dasar, bahkan meminta beberapa teman untuk mengisi jurnal dengan opini mereka tentangku. Di saat-saat tidak memiliki kejadian yang cukup berharga untuk ditulis dan dikenang, aku mencari ide entri jurnal dari berbagai macam website. Ternyata banyak orang yang memberikan ide entri jurnal, bahkan memiliki daftar ide entri untuk setiap harinya dalam setahun. Semangatku menulis jurnal juga semakin tinggi ketika mengetahui salah satu temanku juga menulis jurnal harian. Sesekali aku memberikan jurnalku untuk memberitahu sesuatu. Daripada aku harus menceritakan ulang, temanku bisa membacanya sendiri. Sesekali juga dia menceritakan arti dari entri yang tertulis di jurnalnya.

Setiap menghabiskan satu notebook aku membiasakan untuk membaca ulang jurnal tersebut. Hal itu membantu refleksi diri dan seberapa bertumbuh diri sendiri. Ada opini-opini yang ternyata sudah berubah, ada nama-nama yang ternyata sudah tidak lagi dalam keseharian, ada pula kejadian yang tidak disangka-sangka ternyata seberkesan itu, sampai menurutku di saat tersebut cukup berharga untuk kutulis di dalam jurnal.

Suatu saat semua notebook itu hilang. Aku tidak tahu bagaimana. Berhari-hari aku mencari di setiap rak buku yang ada di rumah namun nihil adanya.

Sakit hati.

Rasanya seperti kehilangan artefak diri. Waktu itu pernah juga aku kehilangan sekotak penuh berisi tiket nonton dan merasakan sakit hati yang serupa. Namun, sakit hati kehilangan notebook jauh lebih membekas karena aku tahu di dalam jurnal itu ada apa saja. Ada opini-opini yang membantu untuk menggiring diri sendiri kepada prinsip-prinsip hidup. Ada pula kemarahan-kemarahan yang sepele tapi berujung menjadi bahan tertawaan setelah berbulan-bulan. Jurnal adalah koleksi perasaan dan koleksi sudut pandang yang seiring waktu bisa berubah, bentuk nyata bahwa yang berubah bukan hanya orang lain, tapi diri sendiri juga.

Semenjak kehilangan notebook itu, aku kehilangan semangat menulis jurnal. Apalagi setiap notebook yang kugunakan merupakan hadiah dari beberapa teman. Selain itu temanku yang dulu suka menulis jurnal juga, kini sudah tidak lagi sering menulis jurnal. Semakin malas aku menulis jurnal. Awal-awalnya aku mencoba untuk menulis setidaknya seminggu harus ada satu entri, lama-lama sebulan satu entri, lama-lama berhenti. Total.

Setahun terakhir aku mengalami kendala batin yang luar biasa. Mudah lelah, mudah sedih, mudah stress, dan perasaan-perasaan depresif lainnya. Bahkan sempat ada terpikir buat apa menulis jurnal kalau isinya keluhan semua? Menjalani hari saja sudah lelah, mau sok-sokan masih nulis jurnal. Semua keluhan yang tak tertuang menumpuk dalam hati sendiri dan lama-lama menggerogoti kewarasan dan kebahagiaan. Masih juga aku berpikir percuma aku menulis jurnal, nanti kalau dibaca lagi pasti ikutan lelah lagi apalagi kalau mengingat-ingat. Aku pun sempat melupakan kebiasaanku menulis jurnal.

Kelelahan yang akumulatif membuatku berangkat ke psikolog suatu sore. Di sana ternyata aku bercerita banyak dan dalam suatu pertanyaan beliau menanyakan adalah kebiasaan yang mungkin sudah lama tidak dilakukan?

Oh.

Ada.

Aku ceritakan tentang kebiasaan menulis jurnalku dan alasan kenapa aku berhenti. Beliau menyarankanku untuk lanjut menulis jurnal. Siapa tahu membantu. Siapa tahu membangun semangat lagi, sekalipun mungkin di kebanyakan hari berisi keluhan dan amarah.

Sepulang dari psikolog, aku mengambil stok notebook yang ada di kosan. Tidak peduli mau itu notebook biasa, atau yang memang khusus untuk jurnal, aku ambil yang paling atas. Dan aku mulai menulis lagi. Setiap hari, setiap malam. Jika tidak sempat akan kutulis di esok harinya. Sejauh ini kebanyakan entri masih tentang keseharian karena aku sedang ingin fokus pada perkembangan diri sendiri, dibanding harus membahas hal lain. Tak lupa kuberi tahu berita ini ke temanku yang dulu menulis jurnal juga.

Sudah jalan kurang lebih sebulan aku kembali menulis jurnal. Aku senang. Aku kembali menemukan wadah dan cara melepaskan diriku sendiri tanpa dihakimi, diselak, dan direndahkan.

Dear diary,

Aku lega.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. Pas sekali sama apa yg aku lakuin sekarang. Mencoba memulai kembali apa yg pernah aku tinggalkan