Bahagia: Sebuah Perasaan

Pada hari Rabu kemarin, terdapat sebuah pertanyaan yang terlemparkan di Twitter Menjadi Manusia.

Polling ini berlangsung selama satu hari penuh. Dari 229 orang yang ikut memilih, ternyata banyak berpendapat bahwa bahagia adalah tujuan hidup. Selisih persentasenya 13,6%, kurang lebih mencakup 31 orang. Tentu perbedaan pendapat ini pasti memiliki argumennya masing-masing yang tidak dibagikan oleh setiap orang yang memilih. Maka dari itu, kita tidak bisa seenaknya menghakimi 130 orang yang memilih tujuan hidup atau 98 orang yang memilih sebuah perasaan. Namun, sebagai salah satu orang yang ikut memilih sebuah perasaan, saya ingin berbagi alasan saya. 

Pada tahun 2015, Pixar merilis sebuah film berjudul Inside Out. Singkat cerita, ini tentang lima perasaan dasar manusia yang kemudian dijadikan tokoh dalam film tersebut, yaitu: Sadness, Fear, Anger, Disgust, dan Joy, yang memiliki arti bahagia. Dalam film tersebut, masing-masing tokoh merepresentasikan perasaan yang manusia miliki sehari-hari. Kelima perasaan dasar ini menetap dalam pikiran seorang perempuan bernama Riley. Di awal-awal film, Joy merasa begitu senang karena begitu banyak memori-memori menyenangkan yang dialami Riley. Akan tetapi, semakin Riley bertambah umur kombinasi perasaan yang terlihat semakin acak-acakan. Bahagia tidak lagi menjadi perasaan yang mendominasi Riley dan ini membuat Joy merasa ada yang salah. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan merasakan perasaan lain selain bahagia, akan tetapi terbukti dalam polling tersebut bahwa banyak orang yang ingin merasa bahagia sampai-sampai dijadikan tujuan hidup. 

Dalam praktiknya, menjadi bahagia bisa terasa sulit karena kita masih sering membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Salah satunya melihat teman kita yang sering makan ini-itu di Instastory, sedangkan kita di rumah makannya itu lagi itu lagi. Perbandingan ini juga bisa kita lakukan secara tidak sadar dengan diri sendiri. Misalnya membandingkan kita hari ini, dengan kita di beberapa bulan lalu yang begitu senang pergi ke sekolah bertemu teman-teman. Betul, ‘kan? Lagi, tidak ada yang salah dengan membandingkan diri sendiri. Akan tetapi, jika mengetahui efek yang muncul dalam diri kita setelah melakukan itu condong ke arah yang membuat kita merasa kecil atau sia-sia, tidakkah itu bersifat destruktif? Dan karena menyelimuti diri dengan perasaan lain selain bahagia, bisa-bisa, semakin jauh kita dengan sang tujuan hidup itu. 

Saya percaya sebenarnya menjadi bahagia itu bisa-bisa saja dicapai. Tidak mudah, tentunya. Salah satu caranya adalah menerapkan rasa syukur di setiap penghujung hari. Mengingat hal-hal yang membuat tersenyum hingga tertawa. Diresapi kembali perasaan itu, supaya siapa tahu bisa tidur tenang. Untuk bahagia yang sifatnya sudah lalu-lalu, bisa juga kita menyimpan satu buku atau selembar kertas yang isinya adalah poin-poin tentang hal-hal yang membuatmu senang, misalnya bau buku lama, bisa tidur cepat, warna kuning, menelepon teman, bermain hulahop, dan sebagainya. Di saat kita merasakan perasaan lainnya, boleh kita rasakan itu sebentar. Ketika sudah siap lagi untuk merasa bahagia, lakukan kegiatan-kegiatan itu. Kita bisa langsung menelepon teman, atau membereskan buku dan menemukan buku lama untuk dicium wanginya, dan lain sebagainya.

Dari poin-poin tersebut pasti kita akan menemukan perbedaan antara bahagia versimu dan bahagia versi temanmu. Lantas, dengan begitu pemahaman kita tentang bahagia bisa semakin dalam. Hal yang menurut kita membahagiakan belum tentu membahagiakan bagi orang lain. Contohnya, temanmu yang suka upload Instastory makan ini-itu, bisa jadi tidak memandang kebiasaan tersebut sebagai hal yang membahagiakan. Ia mungkin malah merasa bosan karena mengulas makanan adalah pekerjaannya. Padahal definisi bahagianya ialah nasi panas dengan telur dadar dan kecap manis. Memang sulit untuk berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain, tapi yang namanya proses bermula dari memulai. 

Bahagia adalah sebuah perasaan, itu fakta. Tak sedikit pula yang menganggap bahagia sebagai tujuan hidup, itu juga fakta. Namun, masalah alasan mengapa siapa memilih yang mana, semua punya argumen masing-masing. Tulisan ini pun juga belum tentu merepresentasikan 98 orang yang memilih setuju kalau bahagia adalah sebuah perasaan. Yang penting, untuk menjadi bahagia, perlahan identifikasi hal-hal yang membuatmu tersenyum. Di saat ingin bahagia, panggil lagi memori-memori yang membuatmu tersenyum. Segera telepon orang yang membuatmu bahagia. Beri tahu mereka seberapa kalian senang mengenal mereka, sebab berbagi kebahagiaan juga bisa membahagiakanmu bukan?

Sebagai penutup, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan kalimat satu-satunya followers yang merespons polling tersebut. Kata akun @YourAnnta, “Kalau bahagia dijadikan tujuan hidup, I’ll never get there.

 

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Handisenyuman pagi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
senyuman pagi
Guest

setuju!

Handi
Guest
Handi

Terimakasih Menjadimanusia.id

Top