Apa Keputusan Terbaik yang Tak Pernah Kau Sesali?

Pertama-tama, muatan makna terbaik bisa berubah seiring berjalannya waktu. Terbaik hari ini bisa berubah di hari esok. Keputusan makan malam ayam geprek sambal ekstra hari ini, terbaik hari ini. Namun begitu pagi, langsung bolak-balik ke toilet. Keputusan terbaik kemarin ternyata tidak memberikan kesan yang baik di hari ini. 

Kedua, ‘tak pernah’ juga menjadi frasa yang problematik. Bisa jadi saat itu memutuskan hubungan adalah sesuatu yang tak disesali. Padahal tiga bulan setelahnya melihat instastory-nya bersandar di pundak orang lain dan memeluk-meluk lengan orang tersebut, kau pun jadi ikut bersandar di dinding dan memeluk lutut erat-erat. Cocoknya memang diubah jadi keputusan yang belum kau sesali. Toh, perubahan adalah sesuatu yang konstan, ‘kan?

Ketiga, seperti banyak orang bilang, penyesalan datang di akhir. Bagaimana kita bisa tahu di hari ini, kalau pilihan kita bangun hingga subuh untuk teleponan dengan kawan-kawan lama adalah hal yang baik? Nanti juga bisa kelewat meeting pagi kalau lupa pasang alarm. Lalu memulai hari dengan mengeluh, lelah karena semalaman tertawa-tawa. Tapi sebenarnya, kata akhir itu sendiri… bermasalah. Walau meeting pagi terlewat, setidaknya di meeting sore hal itu tetap terbahas. Jadi, akhir itu berada di saat meeting pagi atau meeting sore?

Keempat, aku jadi belum menjawab pertanyaan ini. Namun keputusan terbaik yang tak pernah, setidaknya belum, kusesali, setidaknya hari ini, adalah aku mengangkat telepon. Itu saja.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top