Lalu engkau datang dengan berjalan pelan, membuka pintu itu dengan tenang. Menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Tanganmu mengusap jemariku, bibirmu mengucap sesuatu, berharap aku bangun saat itu.

***

 “Bagaimana hari ini?” tanyanya. Suaranya memecah keheningan lorong. Kalimatnya sederhana, tapi menjadi penghilang segala kesah. 

Aku terdiam. Menghela napas. 

“Tidak terlalu baik. Dapat cadangan, tapi tak apalah,” jawabku dengan tersenyum kecil.

Tangannya semakin erat menggenggam tanganku, wajahnya tak pernah muram, bahkan ketika aku dalam keadaan terpuruk seperti ini pun. 

“Jangan sedih, masih ada kesempatan di lain waktu. Kamu memang harus banyak belajar menyemai kegagalan, supaya hatimu tak mudah kecewa dalam berharap,” katanya dengan sorot mata penuh makna. 

“Tahun depan aku harus coba lagi,” pungkasku.

“Iya, tapi tunggu pengumuman cadangan dulu, barangkali Allah beri kesempatan,” katanya penuh harap.

Aku hanya diam sambil tersenyum. Susah diri ini mengeluarkan sepatah kata pun. Air mataku mudah berlinang. Aku takut tiba-tiba ia mengalir begitu saja dalam percakapan ini. Sorot matanya banyak menyimpan harap, tapi aksara yang dikeluarkan dari bibir indahnya tak pernah menuntutku sesuatu. 

Kami melanjutkan perjalanan menelusuri lorong ini. Lorong panjang dan cukup gelap yang menjadi rumah keduaku. Hening sekali lorong ini. Yang terdengar hanya hembusan napas dua insan yang sedang berada dalam gamang. 

“Kemarin ada laki-laki berbicara padaku, ia bilang ia ingin menggantikan posisiku yang selalu menemanimu menelusuri lorong ini. Apa kau mau dengannya?” Tanyanya memecah kesunyian lorong.

“Memang siapa yang bilang?”

“Ada. Kau mau dia gantikan posisiku?”

Entah kenapa aku semakin erat menggenggam tangannya. Takut ada sesuatu yang hilang. 

“Aku tak mau. Tidak ada yang boleh diganti!” Jawabku tegas.

“Kalau tiba-tiba aku yang menghilang, bagaimana?” Tanyanya tiba-tiba.

“Tak akan kujawab.”

“Lissa, dunia ini bukan kita yang punya. Ragaku, nyawaku, dan semua yang ada padaku bukan aku yang punya. Kau gadis yang cantik Sa, tapi ingat, jelek saja bukan kau yang punya apalagi cantik. Kau mengerti maksudku?” Kalimatnya selalu membuatku berpikir keras. Sering ia mengatakan sesuatu tapi tak terlalu kupahami maknanya. Mungkin ia begitu dewasa. Tak pernah sebelumnya kutemui laki-laki itu selain dirinya. 

“Tak,” singkatku.

“Lissa, kalau tiba-tiba aku menghilang, tak apa. Jangan menangis ya gadis cengeng, karena semua yang kita miliki itu hanya sementara,” suaranya damai, rona wajahnya meneduhkan. Ia bicara begitu tenang sambil mengelus kepalaku.

Kupeluk laki-laki itu. Tangisku tiba-tiba pecah. Basah sudah bajunya dengan air mataku. Entah kenapa sore itu seisi kepalaku dipenuhi dengan kesedihan. Berawal dari pengumuman yang kuterima tadi pagi, sampai banyak rangkaian kejadian hari ini. 

***

Janur kuning terpasang di depan rumahku. Kawan-kawan datang dengan membawa berbagai bingkisan. Mereka datang dengan raut wajah ceria. Sepertiku juga. Hari ini, laki-laki itu, yang biasa menemaniku berjalan di lorong, menikahkanku dengan laki-laki lain yang katanya akan menjagaku sepenuh hati. Hamid namanya. 

Sebagai anak perempuan ayah, aku menuruti kemauan beliau. Ayah selalu tau apa yang terbaik. Pesan Ayah sebelum pesta pernikahan yang hari ini digelar, “Nanti, Hamid yang akan menemanimu berjalan di lorong itu. Bukan ayah lagi. Tapi kau tak perlu sedih, Hamid laki-laki baik. Percayalah,” kata Ayah seperti itu.

Aku bertemu Hamid hanya dua kali. Selepas itu, aku mengiakan ajakannya menikah. Karena menurutku, saat pertama kali aku melihatnya, ada keseriusan yang begitu mendalam di balik senyumnya yang manis itu. 

***

 “Teh, ini ada surat, tadi barusan tukang pos datang,” pungkas Hamada sambil memberikan amplop berisi surat.

“Dari siapa?” Tanyaku.

“Dari Ayahnya Teteh kayaknya. Tapi entah coba liat aja.” 

“Iya, bener. Ini dari ayah,” kataku sambil membuka amplop surat. “Makasih Da,” singkatku.

Hamada tersenyum manis tanpa menjawab. Hamada adalah adik perempuan Hamid. Ia baik, seperti kakaknya. 

Kubuka amplop surat. Terlihat sekali itu tulisan Ayah. Tulisan Ayah memang begitu khas. Entah ini surat keberapa yang aku terima dari Ayah, tapi Ayah memang selalu perhatian. Aku tak pernah keberatan untuk menjawab surat-surat dari Ayah. Karena Ayah memang tak bisa bermain smartphone. Tapi menurutku berkirim surat adalah kegiatan yang menyenangkan. Jadi, senang saja jika mendapat surat dari Ayah. 

Kubaca surat itu perlahan. 

Untuk Fairuz Alissa

Setiap surat biasanya selalu diawali dengan menanyakan kabar, tapi untuk sekarang tak perlu, karena aku sudah memastikan sendiri bahwa kabarmu baik-baik saja. Sangat baik bahkan. Bagaimana tak seperti itu, aku sangat lega, sekarang putriku sudah bersama dengan laki-laki yang menjadi pilihan hidupnya. Laki-laki yang sempat meminta izin kepadaku akan mencintaimu setulus hatinya. Laki-laki yang sekarang sudah menggantikan posisi Ayah menemanimu berjalan di lorong itu. Ayah dulu sempat ragu, seriuskah ia dengan putriku. Tapi semua itu sudah terjawab. Ayah harap kau selalu bahagia, Nak. 

Alissa. Ayah tak tahu mengapa masih suka mengirimkan surat untukmu. Padahal Ayah tahu, tak setiap surat akan kau balas, karena sekarang kau memang bukan putri Ayah yang dulu, yang sering Ayah elus kepalanya, yang sering menangis ketika dikecewakan. Putri Ayah sekarang sudah milik orang lain, ia bukan gadis cengeng yang sering merengek di pelukan ayahnya lagi. Sekarang putri Ayah sudah menjadi tanggung jawab laki-laki yang katanya akan menemanimu sepanjang hidupnya. 

Ayah tak pernah menuntut banyak untukmu, Sa. Tapi kesholihahanmu sebagai seorang perempuan yang Ayah harapkan. Kau bisa tiru Bundamu itu, perempuan sederhana yang tak banyak menuntut. Ia cantik luar dalam. Ayah harap kamu juga seperti itu. Hamid laki-laki baik. Selalu dukung ia dalam kebaikan, Sa. Kehidupan rumah tangga tidak seindah yang kau bayangkan, tidak semanis yang sering kau lihat setiap harinya di rumah antara Ayah dan Bundamu itu. Kehidupan rumah tangga itu tentang bagaimana kita mau mengalahkan ego masing-masing. Tapi, Ayah percaya Hamid adalah laki-laki dewasa yang baik agamanya. Dan kau, putri Ayah satu-satunya, semoga bisa menjadi makmum yang baik untuk Hamid. 

Kemarin saat Ayah bersantai sambil membaca koran di teras rumah, datang surat dari tukang pos. Putri Ayah hebat, kamu diterima S-2 di Brugge menyusul Hamid di sana. Senang hati Ayah mendengar itu. Nanti setelah Hamid selesai cuti dan kembali berangkat ke Brugge, silakan kamu juga ikut. Tapi jangan lupa izin pamit dulu ke Pandeglang ya, Ayah rindu kamu, Sa. 

Sebenarnya Ayah kirim surat untuk memberitahumu itu. Ingat pesan Ayah di atas ya. 

Ayah

Menetes sudah air mataku. Ternyata aku masih cengeng. Aku masih cengeng, Yah. Membaca surat darimu saja air mataku dengan mudahnya keluar tanpa izin. Bahagiaku semakin bertambah ketika membaca aku diterima di Brugge. Langsung kuberitahu Hamid saat itu juga. 

“Mas, alhamdulillah aku diterima di Brugge” kataku dengan bangga.

“Wah? Benarkah? Alhamdulillah. Dapat kabar dari mana kamu?” Katanya dengan penuh semangat. Rona bahagia dari wajahnya terpancar. Matanya yang meneduhkan membuatku semakin damai. 

“Dari Ayah,” 

“Kapan Ayah memberi tahu?”

“Ini, Ayah kirim surat.”

“Owalah. Ayah sehat kan, Sa?”

“Alhamdulillah sehat. Sepertinya Ayah ingin sebelum kita berangkat ke Brugge kita main dulu ke Pandeglang. Bagaimana, Mas?”

“Ya tentu tak masalah. Aku tau Ayah Bundamu rindu betul pasti denganmu,” jawabnya dengan senyum menentramkan. “Habis menangis ya?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku tak menjawab. Hanya senyum malu yang bisa kukeluarkan. 

“Putri kecilnya Ayah masih sama ya, suka menangis,” ledeknya.

“Kok tau aku dulu sering menangis?” Tanyaku kesal.

“Dulu, sewaktu aku main ke rumahmu untuk merayu Ayah mengizinkan aku menikahi putrinya, Ayah banyak bercerita tentangmu, Ayah bilang putrinya itu suka menangis, ia tak bisa marah. Ya begitu, marahnya dengan cara menangis, makanya Ayah bilang laki-laki pendampingnya nanti harus punya bahu yang kuat untuk disandarinya setiap kali ia menangis,” jelasnya dengan nada yang begitu lembut.

Aku terperangah. Sebegitunya Ayah bercerita. Aku cukup malu ketika Hamid berbicara seperti itu. Hanya saja keseriusan yang terpancar dari balik bola matanya membuat aku terhanyut dalam perasaan yang begitu mendalam. 

“Kok diam?” 

“Ayah tuh ya, buat aku malu aja.” ketusku.

“Ayahmu baik betul ya. Beliau juga bercerita, katanya kau sangat suka dipeluk, suka dielus kepalanya,” paparnya dengan wajah meledek. 

“Udah ah. Aku malu tau, Mas,” jawabku semakin kesal. 

Tiba-tiba tangannya merangkulku. Mengelus bahu kananku. Suasana damai tercipta seketika. 

“Aku menyayangimu karena Allah,” bisiknya. Suaranya benar-benar dekat dengan telingaku. 

Aku tersenyum tanpa membalas. Tapi mataku sudah membuat genangan yang tak pernah aku minta. Tiba-tiba Hamid mengecup keningku sambil berlalu meninggalkanku. Entah ke mana. Hamid memang seperti itu, cukup romantis, dan ia suka sekali meledekku. 

***

Hari berlalu. Cuti yang diambil Hamid sudah habis. Kami berdua berangkat bersama menuju Brugge. Sebagai penghilang rasa rindu dan pamit, kami tak lupa untuk ke Pandeglang mengunjungi Ayah Bunda. Di perjalanan, aku dan Hamid  mengobrol banyak. Sampai di Pandeglang kami disambut baik oleh Ayah Bunda. Di wajah mereka terlihat wajah rindu. Padahal baru 4 bulan dari waktu aku menikah sampai saat ini belum berkunjung lagi ke Pandeglang, tapi raut rindunya begitu terlihat. 

“Ayah menunggu putrinya yang cengeng tuh,” katanya meledek.

“Udah nggak cengeng.”

“Kata siapa?” Tantangnya. “Awas ya, nanti pamitan nangis.”

Kalimatnya benar menamparku. Aku merasa sangat tertantang. “Liat aja,” ketusku.

“Oke aku tunggu,” jawabnya dengan muka puas berhasil menantangku. 

Kami berjalan menuju teras rumah. Ayah Bunda sudah berdiri di sana saat kami baru sampai di parkiran mobil.

“Assalamualaikum Yah, Bun,” sapa Hamid. Kami sama-sama mencium tangan. Aku memeluk Bunda, dan Hamid pun memeluk Ayah. 

“Waalaikumussalam. Berangkat jam berapa dari Semarang?” Tanya Bunda.

“Jam tujuh pagi kayaknya, Bun,” jawabku.

“Hamid apa kabar?” Sapa Ayah.

“Alhamdulillah baik, Yah. Ayah bagaimana? Sehat selalu kan?” 

“Alhamdulillah, melihat kalian sehat, Ayah juga ikut sehat,” jawaban Ayah meneduhkan.

“Gimana, Lissa udah dapet belum?” Ledek Bunda sambil memegang perutku. 

Aku dan Hamid tersenyum. 

“Minta doanya selalu saja, Bun,” jawab Hamid.

Kami tertawa bersama.

Percakapan disudahi, aku dan Hamid masuk ke rumah yang sudah beberapa waktu lalu tak pernah aku jumpai lagi. Rumah yang banyak menyimpan kenangan sebelum aku dipingit laki-laki. Rumah tempat tujuan utama pulang ketika diri ini lelah dengan kerasnya hidup. Beberapa penaatan barang di ruang-ruang dalam rumah itu tampak berubah. Aku mencoba masuk kamarku dulu. Di atas kasurnya terdapat album pernikahanku 4 bulan lalu. Cukup berdebu walau tidak terlalu tebal. 

***

Waktu berlalu, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku untuk pergi ke Brugge. Benar nyatanya aku berlinang air mata. Ya, aku memang cengeng. Bahkan sampai saat ini. Aku kalah dengan tantangan Hamid.

“Mata kamu udah semakin berkilauan, Bunda nggak pengin sedih-sedih gini, Sa,” kata bunda sambil mengelus lembut kepalaku.  “Yang penting kamu nurut sama suamimu ya, ingetin dia kalo dia salah, dan yang terpenting selalu jaga diri. Putri Bunda itu orang yang mudah diatur, jadi jangan nakal ya,” ucap Bunda sambil memelukku. 

Aku mengangguk. 

“Kami pamit dulu ya, Yah, Bun. Semoga di Brugge saya dan Lissa bisa menemukan lorong baru pengganti Lorong Retsam,” ucap Hamid.

“Iya, jaga diri baik-baik disana ya, Mid,” jawab Ayah.

“Assalamualaikum,” salamku.

“Waalaikumussalam,” jawab Ayah.

***

Waktu berjalan begitu cepat, kini aku tinggal di Brugge bersama Hamid, suamiku. Kami hidup selayaknya pasangan suami istri pada umumnya. Tapi, akhir-akhir ini aku lebih sering menyibukkan diri bolak-balik dari rumah menuju rumah sakit. Akhir-akhir ini pula aku izin tidak masuk kuliah karena ada suatu kendala yang aku rasakan. Vaginaku mengalami pembengkakan. Rasanya nyeri sekali bila diraba. Entah, ini penyakit apa yang aku idap. Awalnya, aku tidak terlalu takut sehingga aku memutuskan untuk tidak periksa ke dokter. Tapi, semakin lama nyeri semakin parah. Pembengkakan pun membuatku tak nyaman. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk memeriksakan ke dokter. 

“Sampai kapan, Dok?” Tanyaku resah.

“Sementara sampai 3 minggu.” 

“Saya minta tolong Dok, jangan sampai Hamid tau. Saya berjanji akan rajin berobat asal Dokter juga janji tak akan mengataan ini pada Hamid,” pintaku.

“Baiklah, tapi saran saya sebaiknya Hamid tau. Supaya Hamid juga tak merasa ada yang ganjal.”

“Saya butuh waktu untuk menyampaikan ini pada Hamid, tidak saat ini. Saya belum siap, Dok,” ucapku dengan segenggam ketakutan.

“Oke, semua itu menjadi urusan Anda sendiri, Sa.”

“Terima kasih, Dok. Mari, saya pamit, Dok.” 

“Sama-sama.”

***

“Kenapa tak mau, Sa?” Tanya Hamid malam itu.

“Malam ini aku lelah sekali, Mas,” jawabku dengan suara yang begitu lirih. 

“Ya sudah,” jawabnya singkat. 

Minggu ini, Hamid sudah meminta dua kali. Tapi selalu aku tolak. Aku tau memang aku dosa. Dikutuk malaikat mungkin. Tapi aku belum siap untuk memberi tahunya sekarang. Sulit dan berat sekali rasanya untuk mengatakan. Tapi, aku berusaha memberikan alasan yang paling logis untuk bisa diterima Hamid. 

Hingga pada suatu pagi, sakit sekali bagian kelaminku. Rasa sakitnya melebihi nyeri haid ataupun rasa sakit lain yang sebelumnya pernah aku rasakan. Badanku benar-benar lemas, suaraku tertatih-tatih, wajahku pucat.

“Mas.. Mas Hamid,” panggilku. Suaraku benar-benar lirih. Aku tak yakin Hamid mendengar panggilanku.

***

Aku bangun dari tempat tidur. Aku bingung aku berada di mana. Kulihat samping kanan dan kiri. Ternyata benar, aku bukan di kamar. Aku di rumah sakit. Selang infus menancap di tanganku. Ruangan itu sepi. Aku mencoba memanggil Hamid.

“Mas Hamid,” lirihku.

Tak ada jawaban. Aku berdiam. Berpikir sejenak mengapa aku bisa berada di tempat ini. Setelah berpikir beberapa waktu, aku baru ingat, bisa saja tadi pingsan karena merasakan kesakitan yang aku rasakan di bagian kelaminku. Aku memegang bagian kelaminku. Terasa masih sedikit ada rasa nyeri, walau tidak sesakit tadi. Tiba-tiba Hamid masuk.

“Sa,” sapanya dengan tersenyum.

Aku hanya tersenyum tanpa memberikan balasan sapa.

“Masih sakit?” 

“Mas tahu?” Tanyaku panik. “Hm, Mas aku min…,” kalimatku terpotong, telunjuk Hamid mengarah pada mulutku yang memberikan isyarat kepadaku untuk diam.

“Aku sudah tahu semuanya,” kalimatnya singkat, tapi mengguncangku begitu kuat. Aku siap untuk dimarahinya sekarang, aku siap untuk dicaci makinya sekarang, bahkan aku siap pula jika jalan yang tak pernah diinginkanku pun ternyata dipilihnya. 

“Maaf Mas,” suaraku tertatih. Genangan pada mataku mulai terbentuk. Aku bingung harus berkata apa. Yang kubisa saat ini hanya meremas kasur tempat aku berbaring. Rasa nyerinya sudah hilang tergantikan oleh rasa bersalahku kepada Hamid. 

“Aku bukan istri yang baik Mas, maafkan aku,” kalimatku bersama suara tangis yang tersengal. Aku tak berani menatap Hamid. Di matanya yang selalu mendamaikanku, rasanya aku begitu tega menyakitinya dengan keadaanku saat ini. 

“Lissa, sudah Sa, sudah,” mulutnya tiba-tiba berucap. “Sebenarnya, tak ada yang perlu untuk dimaafkan,” kalimatnya tiba-tiba terhenti. “Tapi, kalau kamu minta maaf, sudah aku maafkan sebelum kau memohonnya, sayang,” ucapnya dengan lembut. 

“Maaf, aku berbohong” kataku lirih.

“Iya, Sayang. Sudah jangan terlalu banyak minta maaf. Kata maaf diciptakan untuk diulang. Sekarang istirahat,” ucapnya.

Aku berbaring, berusaha menutup mata supaya ragaku lebih tenang. Sedangkan Hamid, masih berada di sisi ranjangku. Kini ia duduk sembari memegang jemari tangan kananku. Hela napasnya terdengar. Tangannya masih lembut mengelus pergelangan tangan wanita yang telah membuatnya bertanya-tanya. 

“Aku menyayangimu karena Allah,” bisiknya dengan halus, takut suaranya membuatku terbangun. Padahal aku juga masih berpura-pura untuk tidur. Ia mengecup keningku lantas pergi meninggalkan ruangan itu. Dalam hati aku juga berkata Aku juga menyayangimu karena Allah. 

Aku tahu, Hamid merasa sangat kecewa. Istrinya telah berbohong. Allah baik, Ia beri tahu Hamid dengan cara aku yang tak sadarkan diri. Entah bagaimana cara dia menyembunyikan rasa kecewanya. Hamid begitu dewasa, tak pernah ia tunjukkan marahnya padaku. 

***

Aku dirawat di Rumah Sakit Brugge selama hampir satu minggu. Itu semua dilakukan demi menyembuhkan penyakitku itu. Rasa nyerinya semakin hari kian mereda. Pembengkakan yang ada di area vital juga kian mengecil. Beberapa hari ini, komunikasiku dengan Hamid cukup baik. Ia menjagaku sepanjang hari, mengajak bercerita yang indah-indah, juga tak pernah menyinggung apa pun tentang penyakitku. 

Rasanya, dia bukan manusia, melainkan malaikat yang Allah kirim untuk jadi pendamping hidupku. Aku juga semakin riang, tidak berlarut dalam kesedihan. Di hari terakhirku ini, Dokter sudah memperbolehkan aku kembali pulang. 

Aku pulang ditemani Hamid. Entah bagaimana pekerjaan dia, intinya ketika ia ditanya jawabnya selalu sederhana. “Sudah, kesehatanmu itu yang nomor satu,” jawabnya selalu begitu. Terkadang aku juga berpikir, jika kesehatanku nomor satu, maka kesehatannya nomor berapa. Entahlah, jalan pikirnya memang berbeda denganku. Aku maklumi itu. 

Sudah beberapa hari aku tak menelpon Bunda. Walaupun Ayah tak bisa menggunakan smartphone, tapi Bunda bisa. Ketika aku suruh Ayah untuk belajar smartphone, jawabnya selalu begini, “Ayah suka mengoleksi perangko. Kini, ia barang langka,” tapi itu tak masalah untukku. Lagi pula, aku juga senang membalas surat dari Ayah. 

Sampai di rumah aku langsung membersihkan diri, kemudian mencari handphone-ku untuk mengabari Bunda. Aku tak ingin menceritakan masalah ini kepada Bunda. Cukup aku, Hamid, dokter, dan Allah saja yang tahu. Yang lain jangan. Karena hampir satu minggu aku tak di rumah, aku pun lupa di mana terakhir meletakkan handphone. Mataku menyorot detail setiap pojok ruangan, barangkali ia terselip di antara berbagai benda di rumah ini.  Ternyata betul, di samping meja tamu. 

Aku mendekatinya, kemudian mengambil. Ia berada di antara tumpukan beberapa kertas yang sebelumnya belum pernah aku lihat. Aku penasaran. Kubuka satu per satu. 

Ternyata surat. Kubaca siapa pengirimnya. Ayah. Aku senang. Ayah mengirim surat lagi padaku. Kemudian, aku menyorot bagian nama penerima. Di situ bukan tertera namaku. Hamid Farras Dhaifullah. Ya, benar. Nama suamiku. Tak pernah sebelumnya mereka berkirim surat. Pikirku, Ayah memang sengaja berkirim surat kepada menantu barunya. 

Setelah aku buka, di dalamnya ada surat lagi yang sebelumnya suamiku kirimkan untuk Ayah. Itu artinya bukan Ayah yang memulai untuk berkirim surat. Tapi Hamid sendiri. Kemudian aku baca, begini isi suratnya. 

Untuk Ayah.

Assalamualaikum Ayah. Apa kabar? Semoga Allah selalu melindungi Ayah, Bunda, juga kita semua. Ayah, mungkin ini pertama kali saya berkirim surat dengan Ayah. Maaf, mungkin Ayah kurang berkenan membalas atau mungkin membacanya. Tapi saya mohon, Yah, semoga Ayah berkenan untuk membacanya. Karena ini berkenaan dengan kebaikan Lissa, putri Ayah tersayang. 

Ayah, maaf, mungkin ini kurang sopan jika urusan rumah tangga kami saya ceritakan pada Ayah. Tapi saya bingung, Yah, harus bercerita dengan siapa lagi. Yang saya tahu, hanya Ayah laki-laki terdekatnya sewaktu ia masih gadis. Dan memang, saya pikir saya tidak salah jika harus bercerita ini kepada Ayah. 

Saya dan Lissa sudah 2 bulan tinggal di Brugge. Kami menjalani hari demi hari selayaknya pasangan suami istri pada biasanya. Tapi 2 minggu terakhir ini ada yang aneh dengan Lissa, Yah. Dua minggu ini kami tak pernah lagi berhubungan badan. Bisa dibilang, saya hanya memberinya nafkah dhahir, Lissa tak menerima nafkah batin selama 2 minggu ini. Tapi itu semua bukan kemauan saya. Sudah 4 kali saya ajak, ia selalu menolaknya dengan alasan yang bermacam-macam. Jujur saya merasa sedikit kecewa. Tapi, alhamdulillah saya masih bisa mengondisikan emosi saya supaya tak marah. 

Awalnya saya kira, saya yang salah. Tapi ternyata tidak. Ia yang memang benar tak mau. Saya juga perhatikan tingkah lakunya beberapa hari terakhir ini, ia begitu lesu, wajahnya pucat. Tangannya pun sering memegang bagian perut juga kelaminnya. Entah ia sedang haid atau merasakan sesuatu yang lain. Intinya, perubahan itu memang terjadi secara signifikan, Yah. 

Hingga puncaknya, pada hari Kamis kemarin, saya benar-benar terkejut, Yah. Saya melihat putri Ayah tergeletak di ruang tengah dengan posisi tangan memegang ke arah perut juga kelaminnya. Padahal waktu itu, ia baru saja menyiapkan sarapan pagi untuk saya. Pakaiannya sudah rapi, kain jilbabnya sudah menjulur rapi menutupi rambut indahnya, wajahnya yang cantik tapi pucat sudah siap untuk berangkat kuliah. Langsung saya bawa dia ke mobil untuk dilarikan ke rumah sakit. 

Benar saja, ia langsung ditangani dokter, dan saya pun banyak bertanya dengan dokter yang memeriksa Lissa sebelum akhirnya Lissa terbangun. Kata dokter ia terkena penyakit Bartholinitis. Penyakit itu disebabkan oleh Kista Bartholin. Kata dokter, Lissa telah mengalami pembengkakan atau tonjolan pada vagina. Kista Bartholin yang Lissa punya terbentuk ketika kelenjar Bartholin tersumbat. Sebenarnya saya juga tak terlalu paham mengenai penyakit itu, Yah. 

Tapi alhamdulillah, dokter bilang itu tak apa-apa. Masih bisa diobati. Pernyataan dokter yang seperti itu yang membuat saya lebih tenang. Jadi Yah, saya tau apa alasan putri Ayah menolak ajakan saya malam itu. 

Kini, putri Ayah sedang dirawat. Kata dokter, menunggu sampai pembengkakan yang ada di area kelaminnya menyusut. Saya sekarang lebih tenang, Yah.

Yah, tolong jangan bilang Lissa tentang ini. Saya takut Lissa marah dengan saya. Semoga Ayah mengerti. Saya juga meminta tolong, Ayah tak usah panik ataupun resah tentang kondisi Lissa. Saya akan berusaha menjaganya seperti yang pernah saya katakan dulu saat saya mengkhitbah Lissa. Semoga Ayah, Bunda, Lissa, dan kita semua selalu diberi kesehatan oleh Allah. Aamiin. 

Waasalamualaikum Wr. Wb. 

Hamid Farras Dhaifullah

Aku lemas membaca surat itu. Rasanya diri ini begitu jahat terhadap suami sendiri. Belum selesai tentang itu, kubaca lagi surat balasan dari ayah.

Untuk menantu ayah, Hamid.

Assalamualaikum Wr. Wb. 

Kabar ayah begitu baik. Kau sendiri bagaimana? 

Suratmu telah ayah terima, dan telah ayah baca. Awalnya ayah berpikir nasib kalian begitu mengenaskan. Ternyata itu hanya pemikiran ayah. Jujur, ayah cukup khawatir dengan kondisi Lissa. Tapi, ayah berusaha tenang. 

Hamid, sebelumnya ayah yang meminta maaf atas perlakuan tidak jujur yang dilakukan putri ayah. Ayah yakin ia berbuat seperti itu ada maksudnya sendiri. Sedari kecil ia memang pribadi yang sungkan jika membuat orang lain merasakan beban yang dirasanya. Ia pribadi yang tak suka merepotkan orang lain. Bisa saja ia takut, jika ia memberitahumu malah membuatmu semakin khawatir atau yang lain. Tapi intinya, ayah yakin itu semua tidak ada maksud buruk terhadapmu. 

Jujur, ayah juga tak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi, suratmu kemarin ayah terima bukan sebagai pintu masuk untuk ayah mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi, surat kemarin sebagai penegur dirimu sendiri, Mid. Bahwa itulah rumah tangga. Siapa yang paling kuat dalam mengalahkan ego. Siapa yang paling siap menghadapi rasa kecewa dan amarah. Menurut ayah, kejadian itu sebagai awal kalian dalam memulai kehidupan berumah tangga. Ayah yakin, kamu pasti bisa.

Lissa pribadi yang lembut, setahu ayah ia tidak pernah menuntut apa pun ketika ia masih kecil sampai sebesar ini. Ia juga pribadi yang pengertian. Mungkin barangkali kau belum menjumpai 2 karakter tadi pada Lissa. Tapi percaya, semakin bertambah hari, kau akan menemukannya.

Ayah rasa, sudah cukup balasan suratmu ini. Intinya, ayah berpesan, kamu harus kuat. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ayah.

Itulah surat balasan dari ayah. Mencekik memang, tapi Ayah begitu dewasa. Aku tak sadar ternyata kertasnya sudah terkena tetes air mataku yang jatuh beberapa kali saat aku membaca. Langsung kuusap saja air mata di pipiku itu. 

Setelah kubereskan lagi surat-surat itu, Hamid tiba-tiba datang menghampiriku. Langsung kupeluk erat dirinya. Hamid bingung, tapi langsung ia pun membalas pelukku. Aku berbisik kecil padanya, “Maaf Mas, aku janji tak akan berbohong lagi,” 

Aku kira ia tak mendengarnya, tiba-tiba ia balas bisikkan ku dengan melepas pelukan. “Kita tak ada yang sempurna. Sama-sama belajar dan melengkapi ya,” jawabnya dengan senyuman manis yang ia punya. 

***

Kini, aku dan Hamid masih tinggal di Brugge. Dan keadaanku kini semakin membaik. Hamid telah menemukan lorong baru di daerah Brugge, pengganti Lorong Retsam. Namanya Lorong Dispare. Beberapa hari setelah aku pulang dari rumah sakit, aku diajak menelusuri lorong itu. Lebih panjang, tapi aku menyukainya. Lorong baru, dengan orang baru pula. 

Sebenarnya, hidup ini bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban, tapi tentang siapa yang paling banyak mengalah. Percuma saja jadi orang hebat tapi tinggi hati. Hidup ini memang punya alur sendiri untuk masing-masing individu. Kau yang akan mengikuti alur itu, atau alur itu yang akan mengikutimu. Hidup ini juga bukan tentang siapa yang paling bisa membuat nyaman, tapi tentang siapa yang paling pandai dalam bersyukur. Dan aku, bersyukur memiliki Ayah, Bunda, juga suamiku, Hamid.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment