Terima Kasih dan Selamat Tinggal

Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan.

Sudah genap setahun selepas kejadian itu dan sudah setahun pula aku hidup di balik bayang-bayang masa lalu. Tanganku enggan melepas, enggan pula menggenggam, mereka ingin membalas. Tanpa disadari, kebencian telah menyelimutiku, perlahan-lahan mereka akan berbalik menghabisiku. 

Duniaku kabur, mereka seperti sedang berada di antara dua waktu yang berbeda; ragaku di masa kini dan jiwaku di masa lalu. Malam-malamku tak pernah luput dari perasaan takut. Setiap hari adalah medan perang yang tak pernah berubah. Di akhir, akan ada selusin pemenang dan satu pecundang, dan yang menang adalah mereka. Aku? Mengabdi pada pihak yang kalah.

Berbagai desakan lalu-lalang di pikiranku, seperti angin ribut yang enggan untuk berhenti. mereka ingin aku menciptakan realita palsu dan bersembunyi di baliknya. Dan selamat, mereka berhasil. Berbagai perih dan pahit ini kurasakan sendiri. Setiap hari terus kuulang kalimat,

Kamu salah. Kamu berhak menerima ini semua.

Di sela-sela hari, aku meminta untuk dibebaskan. Tubuhku penuh dengan luka yang tak kunjung sembuh, telingaku memutar nyanyian kesedihan siang dan malam. Kesedihan menemaniku dengan setia, menunggu sampai kapan aku bertahan–dan di saat lengah ia akan menyerang.

Pertanyaan “Apakah kau tak apa?” sudah seperti makanan sehari-hari. Dengan wajah sumringah aku selalu  menjawab “Iya aku tak apa.” Sadarkah mereka bahwa aku sedang melempar kepalsuan? Sadarkah bahwa aku sedang tidak ada di sini?

Berbagai rumah sempat aku singgahi untuk membagi cerita yang berat ini, beberapa memberiku aman dan beberapa yang lain pergi meninggalkan. Di titik itu aku berpikir,

Mungkin benar kata mereka, ini semua salahku.

“Sudah saatnya kamu melepaskan Fe, setahun penuh kamu berjuang. Kali ini kamu harus berdamai, kamu berhak bahagia juga,” kata salah satu kawanku yang dengan setia menungguku menang dalam peperangan ini. Namun, ada beberapa hal yang menghalangiku berdamai dengan mereka. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan.

Perlahan-lahan pikiranku kembali pulih. Jiwaku sudah berada di tempatnya. Peperangan yang aku hadapi sebenarnya bukan dengan mereka, tapi dengan diriku sendiri. Sudah saatnya aku mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal. Jejaknya memang masih membekas, tapi aku sudah tidak lagi bergantung padanya.

Masa laluku memang mengajarkan banyak hal: tentang kebahagiaan yang datang setelah badai besar, tentang melepaskan, dan juga tentang berdamai dengan diri sendiri. Semuanya perlu proses dan perjalanan yang panjang untuk sampai di tahap melepaskan. Hari ini, aku telah menemukan kembali amanku yang selama ini hilang. Aku telah pulang.

Terima kasih karena pernah singgah dan selamat tinggal.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top