Berdialog dengan Anak dalam Diriku

Hujan malam ini membuat udara sedikit lebih dingin dari malam sebelumnya. Aku meringkuk di atas kasur dengan tubuh sedikit membeku. Kupejamkan mata sembari menyimak perdebatan antara aku dengan diriku. Dulu banyak hal yang ingin kulakukan, namun kini aku berjalan tanpa arah dan tujuan. Ingin rasanya aku menghapus kenangan buruk dalam ingatanku saat ini, semudah Hermonie Granger mengucapkan mantra Obliviate dengan melambaikan tongkat sihirnya. Pikiranku terus menggerutu membuat tubuhku semakin lelah hingga tak sadar aku tertidur lelap.

Pukul 02.00, terdengar suara isak tangis yang membuatku sontak melompat dari tempat tidur. Dadaku berdegup kencang mencari dari mana suara itu berasal. Aku mematung, tepat sepuluh langkah dari tempatku berpijak. Di sudut lemari tua terlihat seorang anak duduk memeluk lulutnya dengan erat. Tatapan matanya sendu, pelupuk matanya sembap. Entah sudah berapa lama Ia duduk menangis di sana. Dengan rasa penasaran aku mencoba mendekatinya. Belum sampai dua langkah aku berjalan, Ia berteriak dengan histeris.

“Pergi! Pergi!”

Teriakannya sangat lantang, mata sembapnya kini merah menyala. Tubuhnya gemetar seolah menahan amarah yang sangat besar dalam dirinya. Tak kuhiraukan teriakan itu. Kakiku terus melangkah mendekatinya hingga aku tepat berada di hadapannya.

“Siapa kamu? Mengapa kamu menangis di sini? Selarut ini.”

“Pergi! Jangan dekati aku!”

“Jawab pertanyaanku, siapa kamu?”

“Pergi! Aku benci kalian semua. Aku benci dunia ini. Mengapa harus aku yang memikul semua masalah? Aku ingin bahagia. Aku ingin seperti anak yang lain, berjalan bergandengan tangan bersama kedua orang tuanya. Aku ingin rumah sehangat rumah mereka. Aku ingin sepasang telinga yang mendengarkan ketika aku rapuh. Aku ingin sebuah nasihat ketika aku salah, bukan caci maki. Aku ingin kalimat menenangkan ketika aku gagal. Mengapa aku terlahir di dunia ini jika harus merasa kesepian seperti ini?”

Tangisannya pecah, suaranya menggema memenuhi sudut-sudut kamar. Tak terasa air mataku mengalir deras. Dadaku terasa sangat sesak. Aku menjadi sangat kacau. Aku sadar anak yang ada di hadapanku saat ini adalah bagian dari diriku di masa lalu. Dia adalah aku, anak kecil yang selama ini menyemai rasa kecewanya. Rasa kecewa itu kini tumbuh menjadi pohon yang kokoh.

“Anak kecil yang baik. Kemari, Nak!”

Aku mengulurkan tanganku, kugenggam erat jari-jari mungil itu. Kemudian kubenamkan tubuh kecil itu dalam pelukanku. Emosi yang terpendam selama ini menghasilkan energi negatif hingga membuatnya kesulitan untuk menjalani hidup. Aku berbisik sambil menepuk pelan pundaknya.

“Tidak apa-apa, Nak. Ada aku di sini bersamamu. Aku tahu kamu terluka. Aku tahu kamu marah. Aku mengerti rasa kecewamu. Tidak apa-apa, Nak, menangislah malam ini bersamaku. Kita ini hanya seorang manusia, Nak. Merasa bingung arah dan tujuan kita di dunia ini adalah hal yang wajar. Begitu pun orang tua kita, mereka hanyalah
manusia biasa. Mereka juga makhluk yang tidak luput dari dosa. Mungkin saat ini mereka sama bingungnya dengan kita. Mari kita coba berdamai dengan keadaan ini. Mari kita sedikit terbuka kepada mereka mengenai apa yang kita rasakan saat ini. Mari belajar untuk berdiskusi dengan kepala dingin. Tidak apa-apa, Nak, jangan takut! Ada aku di sini menemanimu.”

Sebisa mungkin aku berdialog dengan anak kecil yang ada dalam diriku saat ini, memberikan kalimat-kalimat penenang agar amarahnya sedikit mereda. Kuulangi kalimat itu terus-menerus hingga anak itu merasa tenang. Saat ini tidak ada yang dapat menyelamatkannya selain diriku sendiri.

4.6 11 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
John
John
23 days ago

Bagus sekali ini! Pergerakan ceritanya sangat memikat. Bagaimana awal bisa mendapat ide menulis tentang seorang anak-anak?

Femia Vica Seputri
Femia Vica Seputri
21 days ago
Reply to  John

Terimakasih sudah membaca, cerita ini diangkat dari kisah seseorang yang terbawa perasaan-perasaan masa kecilnya saat dia tumbuh dewasa.

dinata
dinata
8 days ago

kak femia terima kasih atas tulisanmu yang begitu hangat. terima kasih karena ternyata tulisanmu adalah bentuk suaraku juga. semoga kakak selalu dekat dengan ketenangan.

Top