Surat Permohonan Maaf untuk Diri Sendiri

Tulisan ini dibuat pada sore hari, selepas minum soda dan makan junk food, serta dalam keadaan sadar sepenuhnya. Ditujukan bukan untuk siapa-siapa, bukan pula untuk pembaca. Tulisan ini nantinya akan membantuku untuk kembali mengingat berbagai titik yang telah mati-matian aku perjuangkan agar tetap berdiri dengan tegak dan tidak sempoyongan di atasnya. Pada titik-titik tertentu, aku merasa tak pernah menjadi manusia yang benar berharga. Tak sanggup bahagiakan siapa-siapa, bahkan dibahagiakan oleh siapa-siapa. Seperti seisi dunia berhak memiliki nama tengah bahagia selain aku, satu-satunya. Pada titik-titik yang lain, aku merasa akulah manusia paling sederhana dan tak banyak maunya. Sehingga apa-apa yang datang dan pergi, kupersilahkan melenggang sebutuhnya, sesuka kemauannya. Bukan, aku tak suka diinjak-injak oleh sesuatu. Hanya saja memperdebatkan masalah siapa yang bertahan dan menetap membuatku sakit kepala. Masa depan dan manusia yang berperan di dalamnya terlalu acak dan dinamis. Sebegitunya aku ingin hindari tangis, hingga berusaha untuk terus menutup mata dengan berpura-pura tidak punya rasa kecewa.

Setelah melewati titik-titik yang lain, sampailah aku pada titik yang entah keberapa pada halaman kesekian di hari ini. Titik inilah yang membawaku sadar, bahwa akhirnya sekeras apa pun aku bersikap atas diriku sendiri, pada akhirnya hanya ada aku yang akan memeluk segala senang, sedih, bangga, dan putus asa. Bagian lain dalam diriku seolah menyadarkan, aku tak perlu sibuk cari rumah lain untuk minta tumpangan agar terus dilimpahkan bahagia, karena rumahku saat ini sudah diciptakan senyaman mungkin agar segala musim bisa aku lampaui walau tidak semuanya bisa kulewati dengan nilai A dan predikat sempurna. Masih ada begitu banyak badai dan angin kencang yang menunggu di depan sana. Yang harus kupersiapkan adalah menjaga, memperbaiki, dan memberi rumahku fasilitas tiada dua, yaitu rasa sayang yang seada-adanya dan rasa syukur yang sebesar-besarnya, karena rumah itu sudah bersedia selalu ada, tanpa syarat, dan tanpa iming-iming harta benda. Aku minta maaf karena telah lalai dalam merawat dan menjaga. Sisanya, aku akan sayangi kamu sebagaimana mestinya.

Tertanda,
aku yang masih terus belajar dalam menjaga, merawat, dan menerima.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top