Pertanyaan untuk Ibu

Ibu, apakah kau suka perayaan?

Benarkah kau juga butuh untuk dirayakan?

“Tidak terlalu.” katamu.

Sebetulnya, aku percaya saja atas jawabanmu. Tapi, melihatmu yang seperti mencari perhatian dari kami saat menjelang hari ibu, sedikit banyaknya ibu juga perlu diberi hadiah-hadiah kecil, pikirku.

Aku pernah mendengar cerita hidupmu. Susah senang, naik turun, aku tahu. Sebab itu ibu pinta aku agar jangan jadi sosok yang gemar bergantung. Ia sadar raganya tak senantiasa dapat memeluk, petuahnya tak senantiasa bisa turun untuk memberi petunjuk, lantas kalau sudah begitu, pada siapa aku dapat berteduh dan menunduk? Ya, jawabannya hanya pada diriku sendiri. “Kau harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri,” kata ibu kala itu.

Saat ditanya ibu ingin hadiah apa saat ulang tahun, selalu ia jawab dengan kalimat klise yang membosankan, “Cukup jadi anak baik dan solihah ya, Nak.”

Kalau boleh jujur, tanpa ibu tahu, begitu banyak hari di mana aku menyalahkan–mengapa harus aku yang dilahirkan. Tanpa pernah pikirkan perasaan dan perjuanganmu. Tanpa pernah ingat banyak dari bahagiaku adalah hasil dari sujud dan doamu.

Maka, lewat tulisan ini, aku ingin bertanya satu hal pada ibu,

“Selain menjadi baik dan solihah, dengan cara apa aku bisa memberimu bahagia?”

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top