Jangan Beri Tahu Ayah

(Tulisan ini dibuat untuk ayah, namun aku tak mau ayah membacanya.)

 

Ayah, sebenarnya apa kabarmu?

Aku terlalu malu untuk sekadar bertanya kabar, padahal atap kita juga masih sama bentuk dan warnanya.

 

Aku sering melihatmu terjaga di malam hari, dengan layar laptop menyala, padahal pagi hingga siang kau ada di luar untuk bekerja, tak bisa istirahat sebentar, kah?

Kemarin aku tak mendeklarasikan Selamat Hari Ayah bagimu, apa ayah tak keberatan? Apa ayah pernah merasa iri dengan teman-teman sejawat ayah yang punya anak manis dan sering mengatakan aku sayang ayah?

 

Aku tak bisa menebak isi hati dan juga jalan pikiran ayah.

Kita semua berlagak manis dan baik-baik saja di depan satu sama lain.

 

Sesekali, aku ingin bercerita dari A sampai A lagi, tentang apa-apa yang kusuka dan tidak. Sesekali, aku ingin mendengar ayah bercerita dari Z sampai Z lagi, tentang rencana-rencana ayah untuk masa depan yang sering ayah lontarkan dengan nada bercanda, tapi aku ingin dengar yang lebih terperinci, lebih serius.

 

Aku ingat kala itu ayah hendak pergi meninggalkan kami untuk dinas di luar kota, aku mencoba menjadi anak manis yang menyelipkan sebatang coklat dan catatan bertuliskan “Safe Flight, Ayah!” ke dalam tas punggungmu.

 

Ayah sangat senang, mungkin juga terharu?

Entahlah, kulihat tiba-tiba saja profil Whatsapp-mu sudah berganti dengan coklat dan catatan itu. Aku malu, sungguh.

 

Pernah juga aku menang juara panco di kampusku, membawa pulang piala.

Aku pulang dengan perasaan bangga, walaupun banyak juga yang memberiku selamat dengan nada tertawa, ayah juga.

Tapi lucunya, keesokan hari profil Whatsapp-mu sudah berganti dengan piala bertuliskan “Juara dua lomba panco putri.”

 

Aku memang tak mengucapkan “Selamat hari ayah” kepadamu.

 

Tapi percayalah, saat menulis ini, baru dua paragraf, air mataku sudah ke mana-mana.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top