Jadwal untuk Berduka

Adakah kita selalu siap untuk setiap kabar dukacita?
Apakah kabar juga akan meminta izin telinga untuk sudi mendengar?
Tidak.
Mereka tak pernah diajari sopan santun.
Seringnya hadir tiba-tiba dan tanpa aba-aba.

Seperti ceritaku pagi itu, seperti biasa kami sekeluarga bersantap sahur di meja makan. Semua anggota keluarga bersiap melabuhkan nasi beserta teman-temannya di atas piring makan. Aku yang telah menelan beberapa suap nasi sebagai bahan bakar agar kuat berpuasa, agak kaget mendengar nada dering telepon Bunda yang tidak biasa. Jujur, aku sudah berasumsi yang tidak-tidak. Timbul perasaan yang selalu aku tidak suka.

Bunda mengangkat teleponnya, dan benar, asumsiku tidak meleset.
Tangis bunda pecah, seiring suara parau manusia lain di seberang sana.

Pagi itu kami mendapat kabar dukacita dari salah seorang saudara,
ia pergi meninggalkan dunia yang sedang carut-marut ini,
beserta keluarga yang dicintai dan mencintainya,
untuk selama-lamanya.

Seperti memang sudah sistemnya, Bunda kemudian menghubungi anggota keluarga lain. Tangis berserakan di atas meja, tanpa ada satu tangan pun yang bersedia mengembalikannya ke tempat semula. Aku selalu benci momen ini. Kita tampak lemah pada saat-saat yang tak diminta.

Setelah beberapa waktu seusai pemakaman,
kami berkumpul keluarga.
Di sana masih tersisa air mata, namun senyum dan tawa sudah mulai menunjukkan eksistensinya.
Baik yang dipaksakan, maupun tidak, tetap saja mencairkan suasana.

Ternyata memang sudah sedemikian rupa indahnya air mata diciptakan bersamaan dengan tawa.
Namun seperti sadar harus berbagi peran,
mereka sudah terjadwal dan digariskan sendiri-sendiri,
Pada momentum yang tepat,
Pada waktu yang berbeda.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
temennya dina
temennya dina
1 year ago

????????????

Top