Izinkan aku berbicara dengan diriku,
barang satu menit saja atau bahkan kulebihkan,
kepada siapapun kamu yang menemukan aku,
tolong beritahu bahwa lukaku akan luruh,
kecewaku yang aduh takkan lagi gaduh,
pikiranku kosong bukan sebab hati melompong,
melainkan remah harap yang hampir tak tergotong,
gosong dan beralibi di balik titah sombong.

Hanya butuh telinga sepasang untuk tenangkan ombakku yang pasang.
Tolong sampaikan padaku apa yang kumau,
sebab hati dan pikiranku tak tahu kemana ia harus menuju,
memang benar adanya,
terkadang kehampaan hanya bisa dirasa tanpa bisa diabadikan dengan aksara.
Seperti aku yang kini menulis kepada aku yang entah di mana,
kembalilah, hanya aku yang kupunya untuk menyandarkan segala resah.

Duhai, jiwa kemanusiaanku penuh dalam teori namun kosong dalam praktik lapangan
entah apa yang kupelajari 12 tahun belakangan,
guru bilang itu ilmu pasti,
namun mengapa tak bisa kupergunakan untuk sembuhkan lebam pada jiwa yang kobam?
Mengapa tak bisa mendefinisikan kerumpangan saya seorang?
Hingga berlabuh rasa itu pada taraf di mana tak ingin dihubungi dan membangun relasi dengan siapapun, saat di mana mereka yang seusia lagi gencarnya berproduktif ria.
Tapi, aku kosong.
Kenapa tak bisa kabut ini datang lain waktu? Atau cari rumah yang lain saja?
Kepada kamu, tolong beritahu aku,
bukan hanya aku di dunia yang merasa demikian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment