Aku dan Kepanitiaan Kecilku

Aku percaya setiap keluarga punya bahasa kasihnya sendiri. Ada mereka yang terang-terangan melantangkan kalimat cinta, ada pula mereka yang enggan berterus terang, namun cintanya tetap terasa benderang.

Panggil ia ayahku, lelaki yang sedang berlari mencapai angka setengah abad dari hidupnya. Rambut putihnya semakin banyak seiring beban pikiran yang semakin berat. Ia bekerja dan pergi ke mana-mana naik motor jadul kesayangannya, dibeli saat aku hendak menjejaki dunia pendidikan. Ayah bisa saja beli motor baru dan lebih bagus daripada yang ia belikan untukku, namun ia tak mau, “Masih kokoh,” katanya. Komunikasi yang terjalin di antara kami juga sebenarnya biasa saja. Kami bisa kebingungan hendak memilih topik apa saat berada di meja makan. Bahkan saat bepergian, tak jarang ia melontarkan pertanyaan yang diulang, berujung kepada aku yang protes mengapa ia gemar mengulang pertanyaan yang itu-itu saja. Bukan, ia bukan orang yang kaku. Bahkan ayah adalah salah satu alasan mengapa keluarga kecil kami sering tertawa. Ia hanya tak pandai berbasa-basi kepada anaknya. Ia hanya seorang ayah yang memastikan bensin motor anaknya penuh saat hendak digunakan. Ia hanya seorang ayah yang tak lupa menyelipkan jas hujan di dalam bagasi motor anaknya saat hendak bepergian. Ia hanya seorang ayah yang gemar memastikan kertas dan tinta printer selalu siap digunakan. Peran ayah bagaikan kepala bagian dana, perlengkapan, dan keamanan dalam kepanitiaan hidup gadis kecilnya.

Kemudian panggil ia bundaku, wanita yang tak lelah menjadi fondasi dalam rumah sederhana kami. Tak ada urusan yang tak bisa diselesaikannya, kecuali urusan teknologi. Ia sosok penyayang yang tak enggan menunjukkan rasa cinta, namun juga sosok realistis yang mengajarkanku bagaimana cara mencintai dengan logis serta tips bertahan hidup lainnya. Walau aku dilahirkan menjadi satu-satunya, ia tak mau aku tumbuh menjadi anak manja yang tak tahu pahitnya sebuah usaha. Ia adalah manusia serbabisa yang membuatku iri dan sering memunculkan tanda tanya dalam kepala, “Apa aku bisa menjadi sebaik dia nantinya?” Peran bunda bagaikan kepala bagian acara, administrasi, dan konsumsi dalam kepanitiaan hidup gadis kecilnya.

Sedang peranku? Menjadi BPH (Badan Pengurus Harian) yang menentukan akan dibawa ke mana kepanitiaan kecil ini. Tugasku menjaga semuanya tetap ada, berjalan baik sebagaimana mestinya, mengusahakan dan menjanjikan kebahagiaan bagi peran-peran lainnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top