Aku terbangun karena suara teriakan dan berbagai keributan. Dari tempatku tertidur di ruang keluarga, aku seperti melihat diriku sendiri sedang membanting remote dan membenturkan kepalanya pada lantai. Aku tahu apa yang sedang terjadi tapi aku tidak bisa melakukan apapun selain menonton keributan ini. Wanita cantik kesayanganku tampak mulai gusar dan mata cantiknya menangkap mataku, kebingungan. Aku bangun, mengambil botol yang wanita itu pegang, tanganku menyentuh tangannya yang gemetar, kontras dengan reaksi tanganku yang kali ini  anehnya cukup tenang.

“Tidak, Bara, kembalikan botolnya, kita sudah sepakat tidak akan memaksanya untuk meminum itu lagi.” Wanita itu berbicara tenang, kontras dengan raut wajahnya yang tampak lelah dan kebingungan.

Aku hanya ingin membuat keparat ini berhenti membuat keributan, bu.” Makiku dalam hati, namun kakiku berhenti bergerak seperti menolak pikiranku tadi.

Iya, aku tidak bisa bicara dengan benar meski aku bisa bersuara. Karena itu pula aku lebih sering bicara dalam hati, berharap ibu dan bapak akan megerti hanya dengan ekspresi wajahku, begitu pula kakakku, Kala Abhimata. Hari ini, Kala Abhimata berulah kembali, mengganggu tidurku yang damai, membawaku pada kenyataan yang berisik ini. Kakakku sering mengalami periode tantrum yang membuatku ingin membunuhnya saat menyaksikan aksi tantrumnya. Seperti halnya kakakku, akupun beberapa kali mengalami periode itu meski tidak sesering dia. Aku masih diam dengan botol dalam genggamanku. Ibu tersenyum menatap mataku seakan mensyukuri karena aku mendengarkannya, meski di dalam hati aku memaki berkali-kali lelaki yang wajahnya sama persis denganku itu. Ibu masih memegang kepala Bhima, mencoba melindunginya dari hantaman lantai. Tapi Bhima tidak menyerah, berontak sekuat tenaga mengalahkan tenaga tua wanita kesayangan kami berdua. Lalu aku? Aku hanya bisa diam mengamati seperti manusia bodoh tidak berguna. Aku menaruh botol di lantai dan mencoba mendekati mereka, namun lagi-lagi ibu menggelengkan kepalanya, menolak kehadiranku membantunya dan saudara keparatku itu.

“Bara masuk ya, lanjutkan tidur ya, Sayang. Tidur, jangan melakukan apapun!”

Aku tersenyum mengiyakan, dan berjalan menuju kamarku untuk melanjutkan tidur. Setidaknya begitu yang ibu inginkan, meski kenyataannya aku justru masuk kamar dan berjalan bolak-balik di sebelah ranjang dengan menggendong erat boneka beruang merah kesayanganku. Aku tidak bisa tenang setiap kali membiarkan ibu menghadapi aksi Bhima tanpa bapak. Bagaimana aku bisa tenang, bahkan tubuh ibu tidak lebih besar dari Bhima yang fisiknya tumbuh dengan baik selama 19 tahun ini. Aku mendengar teriakan Bhima yang terdengar semakin lelah, dan jeritan ibu yang terdengar menyedihkan. Aku lagi-lagi menjadi pecundang di dalam kamar, memeluk boneka beruang merah semakin kencang setiap kali mendengar ibu menjerit tertahan, aku lagi-lagi dipaksa bersembunyi seperti perempuan.

Tidak lama aku mendengar suara mobil bapak. Tanpa sadar aku tersenyum, seakan kehadiran bapak menjadi oksigen bagi pecundang sepertiku. Aku duduk di tepi ranjang mengatur napasku yang sejak tadi memburu oksigen dengan cara menyakitkan. Aku mencoba menangkap suara di luar sana, berharap Bhima kembali tenang dan menyenangkan. Hingga seseorang mengetuk kamarku, dan aku segera membuka laci meja mencari kotak P3K. Bahkan sebelum ibu masuk, aku tau pasti ada luka di tubuh ibu. Tapi bukannya merawat luka ibu, justru ibu yang mengambil alih obat merah dan menarik tangan kiriku yang berusaha keras ku sembunyikan.

“Tidak apa-apa, ibu baik-baik saja, tadi kan ibu minta adek tidur, Sayang. Kok malah luka seperti ini sih?” Ibu mencium pipiku dan mulai membersihkan darah di lenganku.

“Keparat! Dasar bodoh! Bhima keparat! Bara brengsek!” Makiku dalam hati.

Hatiku benar-benar sakit setiap hal ini terjadi. Mengapa aku tidak bisa sedikit saja membuat ibu berhenti khawatir, mengapa tidak bisa sekali saja aku bicara dengan lancar untuk menenangkannya. Aku mengatupkan kedua tanganku, menggosok-gosok telapak tanganku memohon ampun pada ibu atas kebodohanku, hingga terasa panas pada telapak tanganku.

“Tidak apa-apa, ibu tidak marah, Sayang. Lain kali coba kendalikan diri adek ya, kan sakit kalau gigit lengan sendiri sampai berdarah begini.”

Aku masih setia pada pergerakan tanganku memohon ampun.

“Kamu pasti khawatir ya? Abang baik-baik saja, bapak sudah pulang.”

“Maaf bu, maafkan abang dan aku.” Seruku dalam hati dan menangis.

“Jangan menangis, Sayang, di dunia ini tidak ada yang perlu kita takutkan.”

Aku berdiri, meninggalkan ibu yang masih mengobati lenganku. Berbelok ke kanan ke arah kamar Bhima. Sampai di depan pintu aku masih takut bagaimana caranya melihat wajah Bhima yang pasti babak belur. Tapi kalimat ibu barusan muncul membawa keberanianku. Di dunia ini tidak ada yang perlu kita takutkan. Aku membuka pintu dan melihat bapak baru saja mengambil kotak P3K di sudut kamar Bhima. Kemudian melihat Bhima yang tertunduk dengan tangan membentuk seperti sedang bermain pesawat. Dia sedang mengalihkan emosinya. Aku berjalan mendekati bapak dan mengambil kotak di tangan bapak, lalu menggiring bapak untuk keluar dari kamar Bhima tanpa suara. Bapak yang seperti kuharapkan, keluar kamar dengan tersenyum dan menepuk pundakku.

“Good boy, bapak obatin ibu dulu, abang sedang berusaha reda.”

“Terima kasih, Pak. Aku mencintaimu, aku mencintai ibu, kita berdua sayang bapak ibu.” Aku mencoba menyuarakan kalimat itu dengan senyum.

Aku menutup pintu kamar Bhima dan membuka kotak yang tadi ku letakkan di sebelah Bhima. Melihat Bhima saat ini, seperti melihat lelaki besar yang sibuk dengan dunianya, seperti melihat diriku sendiri. Aku tersenyum melihat kami berdua yang tampak tetap sama meski memakai baju berbeda. Aku lebih suka kaos dan celana pendek, dan Bhima sangat suka dengan kemeja dan celana panjang, tampan, sepertiku. Bhima menoleh ke arahku, tangannya masih mencoba seperti pesawat lepas landas dengan bibir mengerucut namun uratnya tidak lagi terlihat seperti sebelumnya. Emosinya sudah reda.

Aku membersihkan wajahnya yang penuh dengan darah, hidungnya pasti berdarah lagi entah karena benturan lantai atau pukulan tangan besarnya sendiri. Aku tahu, sebenarnya mungkin hanya aku yang mampu mengertinya dengan baik. Dia tidak mau minum obatnya lagi karena obat itu menguras energinya. Terakhir kali aku dan ibu terpaksa meminum obat penenang itu agar Bhima mau ikut minum, dan berakhir kita bertiga pingsan di ruang tengah dengan tubuh mati rasa. Dan sejak itu aku tahu, obat itu yang justru membuat Bhima marah setiap kali diminta meminumnya.

Tantrumku dan tantrum Bhima tak ada bedanya. Setiap kali emosi kita meledak, kita harus mengalihkannya dengan hal-hal yang kita suka, pesawat bagi Bhima dan beruang merah untukku. Tapi saat dua hal itu tidak mampu meredakan emosi kami, maka kami akan menyakiti diri sendiri. Sebenarnya membenturkan kepala dengan segala sesuatu yang keras atau dengan tangan besar kami adalah bentuk rasa kesal kami pada diri sendiri karena membuat ibu dan bapak khawatir, kami berusaha berhenti tetapi melihat bapak dan ibu menatap kami khawatir justru membuat kami marah, dan berakhir seperti Bhima saat ini. Hidungnya berdarah, tangannya penuh dengan bekas gigitan.

Meski sebagai yang paling mengerti satu sama lain, saat salah satu dari kami sedang tantrum dan kami mencoba menenangkannya, yang terjadi adalah kami berdua akan sama-sama tantrum, meledak bersama, merayakan amarah dan luka berdua, memukul satu sama lain, merasa ingin membunuh satu sama lain. Itu sebabnya bapak dan ibu tidak akan memperbolehkan kami saling mendekat sebelum reda. Kemudian akan saling mendekat setelah reda untuk saling menyembuhkan. Aku masih membersihkan wajahnya saat dia tersenyum menatapku menampilkan gigi-giginya yang masih ada warna darah di sana. Menunjukkan beruang coklat miliknya yang sama persis seperti milikku. Saat berdua kami seakan bisa saling mendengarkan satu sama lain.

“Sakit sekali tanganku.” Kalimat itu terbaca dari wajahnya yang menampilkan gigi itu. Aku membuka baju dan menunjukkan lenganku yang berbekas gigitanku sendiri lalu tersenyum. “Aku juga sakit.” Kataku menenangkan.

“Aku takut, ibu tidak apa-apa?”

Bapak sedang merawat ibu. Jangan takut, ada bapak, ada aku, ada ibu.” Kami bertukar ketakutan dalam hati, seperti biasa.

Aku membersihkan hidungnya tapi darah tidak mau berhenti mengalir hingga lama sekali. Ibu dan bapak terdengar mengetuk pintu dan masuk saat aku sedang panik menatap darah segar dari hidung saudaraku. Anehnya, Bhima masih saja tersenyum memamerkan giginya seakan tidak merasakan sakit. Bhima menjatuhkan diri untuk terbaring di atas ranjangnya, masih tersenyum, tapi dengan sorot mata yang khawatir. Bapak mengambil kain di tanganku, mengambil alih membersihkan darah sementara ibu berdiri di samping bapak merawat luka di tangan Bhima. Sedangkan aku mencerna tatapan Bhima yang penuh dengan kekhawatiran.

Bara, aku takut, kakiku dingin, badanku menggigil.” Giginya kini sudah bersembunyi.

Tidak ada yang peru ditakutkan, ada bapak, ada ibu, ada aku, sebentar lagi darahmu akan berhenti.” Tanpa sadar aku menggigit lenganku lagi.

Wajah Bhima tampak sayu, bapak menghela napas, ibu beteriak keras dan menangis, hingga beberapa saat aku baru menyadari kamar Bhima penuh dengan orang-orang. Aku tidak lagi menggigit lengan, aku mengambil beruang milik Bhima untuk ku gigit. Menatap wajah Bhima yang matanya tertutup damai, tapi aku masih mendengar suara Bhima.

Aku butuh hidup, aku ingin hidup.” Ucap Bhima dalam satu tarikan napas.

“Tenang di sana, Bhima sayang.” Itu suara ibu.

Kemudian sepi, tak ada suara. Padahal aku melihat mulut ibu bergerak dengan air mata yang tak berhenti. Orang-orang menghampiri ibu. Bapak berlutut di sebelah ibu menunduk dengan membawa tangan ibu menutupi wajahnya. Kemudian lirih berbicara, nyaris tak terdengar.

“Bhima kita, pasti tenang di sana, Bu.” Bisik bapak.

Aku melotot. Aku gusar, baru menangkap maksud pembicaraan.

Tidak, Pak, Bhima ketakutan. Bhima butuh hidup, Pak. Bhima tidak tahu harus kemana, Bhima butuh kita. Pak, Bu... Bhima tidak ingin kemana-mana.

Aku menangis, melempar beruang Bhima, menyatukan kedua telapak tangan dan menggosok terus menerus hingga terasa panas, memohon maaf karena tidak bisa menemaninya lagi, tidak bisa membersihkan wajahnya lagi, tidak bisa merawat bekas lukanya lagi, aku menangis. Aku, lelaki 19 tahun, Kala Abhiwara, kehilangan separuh diriku yang dibawa oleh Kala Abhimata entah kemana.

Seminggu perginya Bhima, aku masih di atas ranjang milik Bhima memeluk beruang merah dan beruang coklat milik Bhima.

“Abang sudah sembuh, abang tidak akan berdarah lagi, tangan abang sudah tidak ada bekas luka, abang sehat dan bahagia bersama Tuhan, Sayang.”

Dari mana ibu tau?”

“Tadi malam abang datang waktu ibu tidur, katanya abang bahagia sekarang, ibu harus jagain Bara sampai Bara bisa bicara, ibu dan bapak sayang Bara.”

“A..aakuu ss..ssyang ibb..bu baapak.” Aku berusaha bicara sekuat tenaga.

 

Aku sayang kalian, temani Bara berjuang, Bu, Bara pasti bisa.

Bhima, kau keparat! Bagaimana bisa kau pulang lebih dulu?

Kau bilang kita ini satu? Kau bilang kita akan bersama menemui Tuhan menagih pertanggungjawaban, meminta kesembuhan.

Namun, Bhima, aku akan sembuh, untuk kamu, untuk kita, bahagialah di manapun kau berada, aku akan menjaga bapak dan ibu.

Bhima, doakan aku dari sana, atau paling tidak bicara pada Tuhan, bebaskan aku dari autisme yang membuat ibu dan bapak dikelilingi kekhawatiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment