Yang Baru dan yang Berlalu

Kata mereka, masa lalu hanyalah tempat persinggahan paling jauh. Tempat kita meletakkan kegagalan paling aib serta kekecewaan paling sakit. Tempat yang bahkan dengan doa dan mukjizat sekalipun tak dapat kita kunjungi kembali, pun sudah semestinya kita biarkan sebagaimana ia berada.

Tapi nyatanya, kita sering kali terjebak di dalamnya, menjadi tawanan dari masa lalu itu sendiri. Tak jarang kita menyangkal luka yang menganga lebar. Luka yang entah bagaimana dapat disembuhkan dan entah sampai kapan akan terus menetap dalam jiwa. Kita terlalu takut untuk meninggalkan semua kesedihan yang diwarisi masa lalu, serta memulai hal yang baru, sebab terlalu khawatir, atau barangkali terlampau kecewa, atas jatuh-bangun yang kita lalui selama ini tiada henti mengiringi diri pada derita tiada berujung dan kegagalan berulang-ulang.

Namun pada akhirnya, kita pun harus belajar mengakui, bahwa apa yang dilalui memang ditakdirkan untuk terjadi. Bahwa masa lalu juga memiliki bagiannya sendiri, mengambil peran dalam diri, yang entah mengapa digariskan bagi kita untuk dirasa. Terasa sulit pada awalnya untuk menerima, sebab segala yang menjadi terkadang bukan apa yang kita pinta. Tetapi pernahkah Tuhan dan semesta-Nya salah prakira? Atas segala uji yang diberi serta anugerah-Nya?

Sejatinya, rasa takut hanyalah ilusi yang menghambat kita untuk melangkah. Yang menahan kita agar selalu berada di zona ternyaman diri, agar kita tidak perlu tahu, atau bahkan tak mau tahu, tapak jalan berikut yang harus kita tempuh, dengan dalih agar kita tidak perlu tersakiti, dengan segala yang tersembunyi dan harus dihadapi ke depannya. Namun luput kita sadari, bilasanya jalur takdir hanyalah ihwal yang lucu; sulit untuk ditebak dan tak pernah bisa terduga arah tujunya. Ia tidak pernah salah. Hanya memang dibentuk dan dicipta sedemikian rupa. Tak seharusnya menjadi penghalang untuk maju dan terus berjalan.

Lagipula, apa indahnya hidup tanpa kejutan? Segala yang masih terahasia dan menjadi praduga, hanya hadir sebagai jelma dari pasang-surut perjalanan. Agar kelak, semua yang kita alami dapat menjadi pelajaran. Pun masa lalu tak lebih dari sekadar masa depan yang telah terlampaui, dan masa depan adalah wujud kesementaraan waktu yang kelak akan kita tempuh jua. Beda di antara keduanya hanyalah ilusi belaka.

Barangkali, satu-satunya cara agar kita dapat terlepas dari jerat masa lalu dan berani memulai yang baru hanyalah dengan memaafkan diri sendiri. Maafkan segala salah yang menjelma hikmah, hargai segala khilaf yang menjadi maaf. Sebab, tanpa mereka, sedikit pun tak akan mampu kita memahami apa-apa. Relakan segala yang menerpa dan yang tak menjadi. Serahkan diri dan biarkan penderitaan itu pergi. Karena tak sepantasnya masa lalu mengaburkan kita dari setapak jalur takdir yang sudah seharusnya dilangkahi dengan gagah berani, tak seharusnya ia mengusik hati dan keinginan tuk berdamai dengan diri sendiri.

Dan bila berdamai dengan diri telah digapai, maka ruang bagi yang baru akan senantiasa terbuka lebar. Sebuah ruang bagi kita untuk sekali lagi merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia dan menikmati lika-likunya; tersakiti, lalu bangkit kembali. Jatuh, lalu berdiri kukuh ‘tuk kesekian kali; sebuah tempat di mana kita tak kunjung jemu menerka dan menanti apa yang kelak menghampiri. Dengan ragu dan teguh sebagai kawan, kita pun siap untuk kembali meniti takdir ke depan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top