Wanita itu Bernyanyi Lagi (di tengah pandemi)

Wanita itu bernyanyi lagi. Menghibur diri di tengah marak pandemi. Satu per satu, ia pandangi kawannya yang terjangkit dan mati. Ia tak berdaya apa-apa. Tak ada satu pun yang tahu kapan mimpi buruk ini akan sirna. Wanita itu hanya bisa bersuara, meski yang keluar dari bibirnya tak lebih dari tembang-tembang sumbang. Ia bimbang, mencoba pusparagam suara, berharap rapalannya mampu mengentaskan duka. Dari bariton hingga mezzo sopran, ia berdoa kepada Tuhan dengan mantra-mantra yang paling sopan.

Wanita itu berhenti bernyanyi lalu menatap layar kaca televisi. Redaksi tak luput dari wacana tragis. Hatinya teriris. Air mata pun jatuh di helai pakaiannya yang tipis. Kala itu pula ia menjadi saksi hidup keegoisan manusia. Di balik tabung mayayang tak lebih dari tiga puluh enam inci besarnyaia melihat wajah asli penguasa raya. Di tangan kanannya tertimbun harta, di tangan kirinya tergenggam tahta dunia. Begitu erat terdekap, seakan tak ingin luput, seakan yang ia miliki tak pernah cukup. Lalu ia merebut dari yang fakir, merenggut hak prajurit yang berperang dengan pandemi hingga batas terakhir. Penguasa pikir nyawanya saja yang berharga, lebih di atas segala-galanya. Akses sehat dan perlindungan baginya diutamakan. Persetan dengan rakyat atau wasiat yang terpikul pada bahunya.

Kemudian ia saksikan kaum fakir berkeliaran, tanpa perlindungan, bangun dari singgah ternyaman demi meraih sekeping cuan. Sumarah pada takdir yang tak tentu arah. Sebab katanya, apa pun yang terjadi, mereka harus tetap mencari makan. Baik daif lelaki dan perempuan, tak ada satu pun yang berani menjamin nyawa mereka, hanya Tuhan (yang katanya) Maha Esa. Raganya tak mau kalah, masih ada keluarga yang harus ia beri nafkah. Sakit sedikit tak jadi masalah. Toh, antara hidup dan mati baginya tiada berbeda, hanya batas tipis di tengah lapar dan keroncongan. Maut menjelma tali yang terikat di nadi lehernya sepanjang waktu, mengulur panjang umur menjadi satu-satunya yang mereka tuju.

Televisi akhirnya mati dan wanita itu termenung kembali. Menangis, meratapi tragedi yang menimpa negerinya kini. Bertanya-tanya, haruskah ia melapang sabar dan meranum syukur atas apa yang Tuhan beri.

Lalu wanita itu bernyanyi lagi, bukan untuk kesembuhan dunia ini. Ia mendendangkan rinai-rinai sunyi, agar dosanya dan dosa semua yang ada di bumi terampuni, agar tersentuh hati Tuhan untuk membuka pintu maaf sekali lagi, demi kehidupan yang bijak bestari di kemudian hari.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top