Jika yang kau ingin adalah pergi,

berangan, menelisik tanpa terusik.

Bebas, bercumbu di banyak dara tanpa bera,

lantas, aku apalah daya?

Canggih doaku hanya mampu menyertai, pawai kenangan yang riuh dan iring langkahmu pergi.

Tak mampu membawa hadirmu kembali.

Meski dalam hati, rasa dan karsa riuh menjeritkan kata yang tak mampu kuilhami.

Meski kita sama-sama tahu, akan selalu ada yang membekas dan tak kunjung hilang di sini.

Bergegaslah beranjak-merantau, jauh dari mata sanggup memantau.

Kisah kita baru sepanjang prolog saja.

Pergilah, tuntaskan apa-apa yang mengikat sebelum cerita kita membentuk satu-kesatuan buku utuh dan menyulitkan kita untuk membaca lalu melupakan isinya.

Menyulitkan kita untuk merobek lembaran demi lembaran lalu membakarnya dalam tungku memori yang memanas.

Dan kelak jika tertunai sudah segala hajatmu, dan yang kau cari adalah tempat untuk berlabuh (tak lagi persinggahan semu),

maka butuh kau tahu bahwasanya aku akan selalu menunggu.

Menunggu untuk kau pilih menjadi sebaik-baiknya tempat rehat abadi dari ribuan dara yang setia menanti-mengantri.

Pun bilasanya nanti bukan aku, jelma pualam tempat kau menatah cerita, tempat kau berpulang dari hiruk piruk dunia, maka harapanku tetap sama:

Senantiasalah engkau berbahagia, sehat dan tercukupi, utuh baik raga maupun hatinya.

Meskipun tiada lagi aku yang melengkapinya di sana.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment